Senin, 27 Juni 2016

Bandung


Terimakasih kota kembang
Terimakasih kabut pagi yang menyapa tiga bulan ini
Terimakasih atas matahari hangat yang selalu dirindukan
Terimakasih atas terik yang juga bershabat
Atas malam-malam syahdu
Atas bunga berwarna merah indah dibibir jalan
Aduhai bandung, buaianmu terasa hingga sukma
Memapah hati yang belajar berdamai
Menuntun langkah yang kadang gentar
Terimakasih untuk jiwa2 yang kutemui
Senyum-senyum yang merekah indah
Terimakasih bandung.

Bandara. 28062016

Rangers

Entah siapa mereka
Mengapa bersama
Kapan awalnya
Bahkan kitapun lupa
Tapi...
Bersaama mereka tawa tak ada hentinya
Imajinasi tak ada matinya
Masa depan ttp dengan misterinya
Quote tak pernah habis
Mulai dari belajar TPA bareng di sabuga
Kemudian makan soto murah belakang Salman
Keliling bandung dengan angkot
Kajian sore menjelang berbuka
Diiringi tawa tentang hal konyol
Ah, kalian

Bandg dmalam terakhir, 27062016

Meninggalkan

Saat berpindah, ku yakini ada yang harus ku tinggalkan juga ku bawa bersamaku
Namun disaat yang sama, beberapa hal harus ku kubawa bersamaku
Kau tau, betapa sulitnya meninggalkan?
Meskipun pergi dan datang adalah keniscayaan akan tetapi ada selalu rasa yang mengoyak sukma
Takut
Sedih
Haru

Malam terakhir di bandung,
27 juni 2016

Sabtu, 18 Juni 2016

Orang Buta Meraba Gajah


Alkisah disebuah negeri seberang Ghor yang seluruh penduduknya buta. Seorang raja bersama dengan rimbongan dan seekor gajah perkasanya melewati negeri itu. Rakyat berhasil dibuat terkagum-kagum dengab kemasyhuran gajah tersebut.
Beberapa orang dari rakyat kota tersebut menyambangi tempat raja hendak mengetahui bentuk gajah yang namanya disebut-sebut seantero negeri.

Karena sama sekali tak tahu rupa atau bentuk gajah, mereka hanya bisa meraba-raba, mencari kejelasan dengan menyentuh bagian tubuhnya. Masing-masing hanya menyentuh satu bagian, tetapi berpikir telah mengetahui sesuatu.*

Sekembalinya ke kota, orang-orang yang hendak tahu segera mengerubungi mereka.
*
Mereka bertanya tentang bentuk dan wujud gajah, dan menyimak semua yang disampaikan.

Orang yang tangannya menyentuh telinga gajah ditanya tentang bentuk gajah. Ia menjawab, "Gajah itu besar, terasa kasar, luas, dan lebar seperti permadani."

Orang yang meraba belalai gajah berkata, "Aku tahu yang lebih benar tentang bentuk gajah. Gajah itu mirip pipa lurus bergema, mengerikan dan suka merusak."

Terakhir, orang yang memegang kaki gajah berkata, "Gajah itu kuat dan tegak, seperti tiang."

Masing-masing hanya menyentuh satu bagian saja, dan keliru memahaminya. Tak ada akal yang tahu segalanya. Semua membayangkan sesuatu yang salah.

***
Dulu, ketika masih di bangku sekolah dan hidup di asrama nasehat-nasehat ajaib banyak sekali mengalir yang keajaibannya baru terasa saat ini. Salah satu nasehat andalan Buya di awal tahun ajaran adalah *jangan menjadi orang buta yang meraba gajah*, nasehat ini semacam kalimat *selamat datang* untuk siswa baru setiap tahunnya.

Dulu, saya mengartikan nasehat ini sederhana sekali bahwa orang buta yang meraba tubuh bagian-bagian tertentu dari gajah akan mendefinisikan gajah sebagai apa yang yang dipegangnya.

Ternyata setelah melihat, mendengar, melakukan hal2 baru lainnya barulah pemahaman tentang meraba gajah ini sedikit demi sedikit ku (usahakan) untuk memahami bahwa untuk melihat sesuatu baik itu masalah, fenomena, isu, pilihan, pandangan dan juga perbedaan, kita tak cukup hanya dengan *meraba* dari satu sisinya saja atau dari satu perspektif saja.

Perlu berlatih melihat dari berbagai sisi agar masalah kemudian tidak menjadikan kita terpuruk melainkan menjadikan kita tumbuh lebih kokoh, pilihan tidak menjadi kita terkungkung tapi lebih cermat, perbedaan tak menjadikan kita berbisah melainkan menjadi lebih kaya, dan masih banyak hal2 lain yang kemudian menjadi jauh lebih baik dengan kebiasaan kita memandang dari berbagai sisi/perspektif.

Mari berlatih :)

Bdg, 13 romadhon 1437 H
18 juni 2016

Jumat, 17 Juni 2016

Aku malu

Ternyata pernah menulis ini dulu ketika masih kelas 1 SMA. Puisi ini ditemukan diblog salah satu guru terbaik saya. :)

Auflaruk? *nama pena waktu alay dulu

Senin, 13 Juni 2016

Rindu malam rumah

Pak, sekarang Bondeng kecilmu ini tak lagi kecil
Badannya membulat. Persis bondeng
Pak, la Bondengmu ini rindu padamu
Rindu malam2 selepas tarawih berbaring di tangan kokohmu
Merasakan empuk dari daging lenganmu
Mencium aroma tubuhmu
Rindu Bondengmu ini pada dongeng-dongeng sebelum tidur yang kau ceritrakan sangat apik
Bahkan aku mengira, kau melihat setiap lakon dari dongeng itu.
Pak, aku rindu dongeng2 penuh makna itu
Kau selalu menceritakan kisah berbuah manis dari semai sabar dan do'a.
Aku ingat betul betapa gigih kau menceritakan seorang gadis kecil yang miskin keluarganya dan mengimpikan baju baru saat lebaran tiba.
Dan kemudian berakhir ajaib, si gadis kecil berdo'a kepada Tuhan agar esok ketika turun sholat ied dia dapat mengenakan baju baru lengkap dengan sepatu juga mukenah baru
Dan benar saja, keajaiban datang sebelm si gadis kecil putus asa dalam harapnya.
Ku ingat betul kisah itu, kau selalu meceritakan itu ketika aku merengek meminta baju baru untuk lebaran.
Entah. Sampai saat ini semua dongeng2 pengantar tidurmu berbekas di memoriku, merajai alam bawah sadarku
Mengingatkanku tentang do'a, harapan, dan juga kerjakeras.
La bondenmu rindu Pak.
Sekarang dongeng2mu terngiang jelas lengkap dengan ekpresi khas yang kau miliki.
Tak jarang aku menyelamu dengan bertanya usil tentang dimana rumah si gadis kecil, apakah dia punya adik atau tidak, siapakah yang memberi dia pakaian baru.
Semua pertanyaaan itu kau jawab dengan sangat sabar dan meyakinkah seolah itu adalah kisah tetanggamu.
Pak, la bondengmu rindu ditepuk bahunya sembari mendengar *anak Bapak kuat*
Ah Bapak, tepukan itu tak pernah tergantikan oleh jenis obat manapun.
Pak, la Bondengmu rindu.
Peluk aku Pak. Bondeng kecilmu

Bondeng di bandung, 13062016
22.00

Minggu, 12 Juni 2016

Dipeluk dingin

Kau pernah tau rasanya dipeluk dingin?
Tidak, kau tak akan dapatka kehangatan
Karena yang memelukmu adalah dingin
Dingin yang sempurna membeku

Rabu, 08 Juni 2016

Jika ini Ramadhan terakhir

Hari ini hari ke 4 dibulan yang dirindukan setiap Muslim, tapi sayangnya hari ini hari pertama libur puasaku. Sebenarnya jika boleh memilih aku akan memilih untuk tidak kedatangan tamu bulan ini. Karena beberapa hari terakhir aku semacam kecanduan sesuatu . ah ternyata ada titik yang masih On, Alhamdulillah.
Sebenarnya ada beberapa catatan yang terlewatkan dalam beberapa minggu ini, seperti sore-sore di perpustakann kampus, cerita-cerita menakjubkan teman sekelas, dinginnya situ patenggang, potluck, SIMAK (yang sampai hari ini masih berhasil membuat perutku mules) jika teringat, pengalam sahur pertama, buka pertama, materi pengajian di salman plus tiga biji kurma dan sekotak nasi, tentang tetangga kos yang sudah kenal sejak dua bulan yang lalu tapi baru akrab ketika romadhon. Banyak sekali yang terlewatkan, ya ini karena canduku itu.
Bagaimana romadhonku tahun ini?
Semenjak sebulan yang lalu iseng aku mengikuti salah satu grup kajian di whatsapp, pikirku ya untuk ngecharge bagian-bagian yang mulai aus. Materi dua hari sebelum romadhon sampai hari ini adala seputar persiapan dan fiqh romadhon. Entah mengapa, ada satu kata yang tajam sekali, mengunus hingga uluh hati, mengalir bersama aliran darah dan menjajah alam bawah sadarku, kata sang pemateri adalah “JIKA INI RAMADHAN TERAKHIRMU”, entah ada apa dengan peringatan ini. Aku merasa tiba-tiba terhunus belati tajam. Tewas.

Jika ini ramadhan terakhirku
Jika hari ini ramadhan terakhirku
Apa yang kemudian akan ku perbuat?
Kemana kemudian aku bersembunyi ketika semua tempat tak lagi bersekar?
Jika ini ramadhan terakhirku
Akan seperti apa sholat-sholat yang ku dirikan
Akan sepanjang apa sujudku
Akan sebengkak apa mata ku karena tangis
Akan selama apa aku akan berdiam di masjid
Akan seasyik apa aku akan bertafakkur
Akan sebanyak apa dzikirku
Akan sebanyak apa khotaman Qur’anku
Jika ini ramadhan terakhir ku
Akan sesering apa aku meminta maaf pada orang tua, saudara teman atau tetangga?
Akan sebanyak apa aku berbuat baik?
Akan sesering apa aku tersenyum?
Akan sehangat apa sapaan dan pelukan aku untuk sesame?
Jika ini ramadhan terakhir
Apakah masih sering aku bersosmed?
Atau mungkin akan lebih sering, karena waktu akan semakin dekat
Apakah semakin candu aku berbicara tak manfaat?
Karena esok tak ada yang bisa diajak berbincang lagi
Apakah semakin sering aku berbohong
Karna kemudian tak ada yang dibohongi lagi
Jika ini ramadhan terakhir.
Nasehat pengingat untuk diri sendiri.

Bandung, dipeluk dingin
4 ramadhan 1437
9 juni 2016
05.20

Sabtu, 04 Juni 2016

Bersamai aku

Mak, malam ini anak gadismu ini gemetar lututnya
Seperti biasa, kau sudah sangat hafal polanya
Bahwa setiap akan bertemu dengan ujian apapun itu keningku selalu panas
Mak, esok anak gadismu ini akan bertemu dan mencoba menaklukkan lembaran2 yang mengasyikkan
Semoga pinanganku esok lancar dan diterima dengan kelapangan.
Mak, kau tak di kursi sebelahku esok
Tapi bersamai anak gadismu ini dengan do'a dan restumu
Bersamai jemari juga pensil 2B yang kupeluk dengan tangan kananku esok
Mak, andai esok peluk hangatmu antarkan perangku
Ku yakin lawanku akan bertekuk lutut.
Tapi bukankah katamu do'a-do'amu selalu mampu hangatkan aku?
Aku percaya itu
Mak, seperti katamu tempo hari
Bahwa apa2 yang ditakdirkan berjodoh tidak mungkin tertukar
Sama sekali tidak akan tertukar.
Katamu juga, bahwa 1 diantara 5 kursi yang sedang disasar oleh entah berapa banyak orang adalah anak gadis (bondeng)mu ini.
Mak, bersamai aku..

Bdg hari ini hangat, 4 jun 2016

Kamis, 02 Juni 2016

Apa kabarmu?

Apa kabarmu?
Terdengar sangat basa-basi bukan? Tapi ini pertanyaan sungguhanku, kau tak ingin bertanya mengapa? Baiklah, setelah pembicaraan serius kita tempo hari tentang keputusanku itu, kau selalu saja datang menjelma dirimu menjadi mimpi buruk.
Entahlah, sepertinya memang rasa bersalahku sangat besar akan itu.
Apa kabarmu?
Kau ingat? Pembicaraan manis kita terhenti ketika ku katakan bahwa untuk tetap bersama masing-masing kita harus rela menunggu dan berjuaang serta saling mneguatkan, kala itu kau bertanya mengapa, ku jelaskan padamu tentang tanggungjawabku saat ini, tentang impian2ku, tentang ketidak mampuanku mengiyakan rencanamu yang menurutku terlalu cepat, tentang permohonan untuk menunggu beberapa saat, sampai kita benar2 siap. Kau terdiam, lama sekali. Aku tak mengerti ketika itu apa yang ada di benakmu.
Tapi waktu itu, dengan terburu-buru ku katakan padamu bahwa jika waktu tak lagi bersahabat dengan *kita* dan menantiku adalah kesia-siaan bagimu, hitungan tahun tidaklah sebentar dan pastinya menguji, maka ku persilahkan kau melangkah terlebih dahulu dan tak perlu kau kabarkan apapun padaku, mungkin kau juga ingat ketika itu ku pinta darimu untuk do'akan aku kuat ketika hal itu benar-benar terjadi.
Pembicaraan malam itu berakhir sangat getir, jangan tanya apakah aku menangis atau tidak karna kau tau betapa cengengnya aku.
Namun, setelah pembicaraan itu kitapun tak berkabar apa-apa, pikirku masing2 kita sedang sibuk mengendapkan pemahaman kita tentang bagaimana cerita yang sudah menahun ini bertemu titiknya, baiklah tak mengapa.

Apa kabarmu?
Beberapa waktu lalu, sesorang menelfonku. Ku jawab dengan sangat biasa karna nomernya tidak dikenal tapi ternyata yang menelfonku adalah ibumu, terbayang betapa kagetnya aku yang kemudian berpura-pura ceria, bertukar kabar dan beliau menasehatiku untuk menjaga kesehatan dll. Huufft... harusnya kau melihat ekspresi tololku ketika itu, sama seperti telfon-telfon sebelmnya ibumu selalu bertanya kapan aku bisa bertandang kerumahmu,  bercerita tentang hal-hal yang beliau alami seperti lampu yang mati atau bercerita tentang adik-adikmu yang beranjak besar sampai rencana memasukkan adikmu ke sekolah kita dulu. Ahhhh ibuuuu...
Entah, setelah pembicaraan via telfon itu aku ingin sekali marah padamu, mengapa tak kau beritahukan pada beliau tentang kita? Mengapa kau siksa aku dengan sapaan hangat beliau? Mengapa masih saja pembicaraan tentnag ini menyisakan perih?

Apa kabarmu? Beberapa bulan terakhir keberadaanku di Bandung sangat banyak membantuku, aktifitas2ku, teman2 baruku, tempat2 baru yang ku kunjungi, ah aku rindu bercerita padamu seperti biasa.

Apa kabarmu? Itu juga pertanyaaan ibuku beberapa hari yang lalu, aku tersenyum kecut kala itu, bingung hendak ku jawab bagaimana,

Apa kabarmu? Beberapa hari terakhir ada kabar menyedihkan dari rumahku, Bapakku sakit, mamak hanya sendiri. Biasanya ketika seperti ini kau selalu menenangkanku, ketika panikku berlebih kau selalu punya cara mengendalikanku.

Apa kabarmu? Tak inginkah kau bertanya tentang rindu? Bukan tak bisa ku bertanya langsung, tapi saat ini tak bersuara ditengah diam kita adalah terbaik. Mungkin aku sedang berusaha melepaskanmu berlahan, mungkin juga kau.

Apa kabarmu, itu yang kutanya pada angin malam ini.
Tak ku berharap kau baca tulisan tak berarti ini.

Bdg dingin , 2 Juni 2016

Rabu, 01 Juni 2016

Kapan

Kapan ki pulang nak?
Adalah pertanyaan paling memilukan
Tapi bertanyalah terus Bunda
Agar anak nakalmu ini punya alasan untuk kembali