Kamis, 29 Desember 2016

Nasi goreng "Spesial"

Salut sekali saya dengan sepasang penjual nasi goreng favorit di jalan Pinang, usia mereka jauh dri kata muda, tapi hei. Lihat semangat mereka, kerja sama mereka. Mengharukan sekali.

Terbayang betapa perjuangan mereka di awal2 bersama, menentukan siapa yg mengiris, siapa yang membungkus pesanan, siapa yang mengaduk, siapa yang membeli kekurangan kecap sachet, pasti tidaklah mudah menyelaraskan dua kutub menjadi  berirama serasi sekali seperti malam ini.

Senyum hangat mereka kepada setiap pembeli meneduhkan, lebih berenergi dari sepiring nasi goreng dengan potongan ati ampela andalan mereka.

Di seantero jagad jln Pinang, nasi goreng ini terkenal lezatnya. hematku, bukan hanya rasa yang mereka ciptakan, tapi keharmonisan yg mereka suguhkan menjadi pengingat bagi diri yang masih belia tentang kesatuan langkah, kerja keras, saling memahami dan menghargai.
Terima kasih Pak, Bu, untuk sepiring nasi goreng ati ampela dan nasehat berharga ini serta senyum manis setiap kali menyodorkan sepiring nasi goreng spesial ini.
Esok saya kembali dan memesan kwitiau rebus :)

Jln Pinang-Margonda. desember 2016

Selasa, 27 Desember 2016

Duduk bersama senja

Sore ini, di bawah senja jingga seberang danau buatan kampus aku menemukan diriku terduduk di atas kursi yang kosong, tatapanku nanar, kosong, seolah mecari sesuatu namun tidak. Aku menemukan diriku kosong.

Ku temukan diriku duduk di antara dedaunan yang berguguran di akhir desember, mencium aroma tahun baru yang menusuk namun tak berasa apa-apa. Pikiranku melayang, entah kemana, aku sedang mencari kemana pikirku pergi.

Sore ini, di hadapan rumput yang basah karna hujan pagi tadi, aku menemukan diriku terduduk lunglai, semacam sedang kelelahan mengejar sesuatu yang akupun tak tau, mencari sesuatu yang tak tau wujudnya apa.

Ku temukan diriku dengan selembar kertas kosong dan pena di tangan kananku. Mencoba merangkai surat berisi puisi rindu, mencoba menghitung setiap ejaan rindu. Tapi aku juga gagal.
Disini, di tepian danau ini aku hilang.

Ku temukan diriku ditepuk pundaknya oleh kawan sekelas yang usianya jauh dari kata muda, beberapa helai rambut berwarna putih muncul dari kerudung kuning yang dikenakanya.
Dia menyapaku manis sekali, memmandangku dengan mata keibuannya. Mengelus pundakku lembut sekali.
Sembari tersenyum hangat, dia berkata "Dini, dalam hidup ini banyak sekali hal yang tidak bisa kita kendalikan sendiri. Satu-satunya yang bisa kita perjuangkan untuk dikendalikan adalah diri kita sendiri, hanya itu".

Ku temukan diriku tercengang mendengar kata itu, benar sekali kakak yang kerap ku panggil Bunda itu. Dia melanjutkan "dalam hubungan, kita tidak perlu mencari yang cocok, tapi yang terpenting adalah mencari kecocokan, menemukan titik koordinat "ego" untuk bisa bertemu sekata dan seiya, pasanganmu bukanlah malaikat, dia sewaktu-waktu akan melakukan kesalahan, akan marah, akan diam, akan bertingkah tidak menyenangkan. Di saat2 seperti itulah kesabaranmu sedang dipupuk, namun pikirkanlah, bahwa hidup ini pilihan, karenanya kau tak berhak menyalahkan siapapun atas apa yg terjadi atas dirimu karena apa? Karena sejatinya kaulah yang memilih jalanmu sendiri untuk kau lakoni.

Aku melihat diriku tertunduk, menatap kosong pada semut hitam yang saling berpapasan, aku resapi setiap kata dari teman sekelasku itu. Wajahnya yang teduh tersenyum meneduhkan.
Aku mencerna setiap nasehatnya, mendengarnya seperti mendengar mamak. Ah aku ingin memeluk temanku itu dan merasakan hangatnya belaian tangannya.
Tapi seketika aku melihatnya pergi melambaikan tangannya dengan sepasang bibir yang tak terlepas dari senyum. Akupun kembali menemukan diriku sendirian.
Aku tersadar mengapa dia datang dan berbicara demikian? Padahal aku tak pernah bercerita tentang apapun kepadanya. Bahkan pertemuan kami hanya sebatas dikelas. Selebihnya tidak. Ah sudahlah, ini cara semesta menghibur pikirku.

Melihat diriku sendiri duduk di bangku panjang tepi danau, memandang air danau yang memantulkan gedung, pohon dan masjid kampus yang apik tersapu jingga senja.
Sayup-sayup suara azan dari corong masjid seberang danau. Ku lihat diriku melangkah menuju sumber suara. Sepertinya aku mash harus terus belajar memahami potongan-potongan puzzle ini. Tapi entahlah aku juga masih mengeja.

Selamat sore dari seberang danau bertempiaskan lampu-lampu gedung dan jalanan. Aku merindukanmu.

Depok, 27 Desember 2016

Kamis, 22 Desember 2016

Gagal

Aku gagal membius rinduku
Dia merajai alam tak sadar dan menduduki diriku penuh
Ku temukan diriku terduduk ditengah rinduku sendiri
Rindu yang tiap malamnya ku hitung sendiri.
Aku gagal bercengkrama dengan rinduku.
Semakin hari akarnya menguat
Rantignya bertambah
Tapi aku?
Iya disini menghitung daun-daun rinduku sendiri(an).

Senin, 05 Desember 2016

Terasa (sulit)

Sebenarnya saya tidak ingin menyebutnya dengan 'sulit' beberapa bagian yang akan saya tulis di dalam  tulisan ini, tapi saya terlanjur berkata tidak pada ke-naif-an. Oleh karenanya saya tulis saja sulit.

Akhir-akhir ini saya sering merasa mengapa begitu sulit memahamkan diri saya sendiri bahwa hal-hal di luar diri saya tidak bisa saya kendalikan sepenuhnya, ketidak-pastian,penantian, respon orang lain terhadap saya, harapan2 saya, rencana2 saya. Rasa2nya sulit sekali menjadikan diri sendiri untuk memahami bahwa satu-satunya yang bisa saya kendalikan adalah diri saya sendiri, cara saya memandang orang lain, kejadian yang sya alami, bgaimana saya mengatur diri dan waktu yang saya miliki, bagaimana saya menggunakan energi yang dianugrahiNya adalah bebrrapa bagian yang bisa saya kendalikan. Itupun saya merasa lebih banyak tak merasa menang dari diri saya sendiri.

Mengapa sulit sekali memahamkan diri saya sendiri tentang betapa hidup ini tidak melulu tentang hal2 manis, hal2 yang membuat kita tertawa terpingkal2, hal2 membahagiakan. Suliit sekali saya menerima kesendirian, diabaikan, didiamkan, padahal semuanya itu adalah paket lengkap hidup yang harus dijalani dan dinikmati.

Mengapa sulit sekali saya memahamkan diri saya sendiri tentang cinta tak selamanya berbentuk kata2, kadang2 bentuknya bisa diam, bisa amarah, bisa kecemburuan, bisa perhatian, dan bentuk2 cinta lainnya. Mrngapa sulit sekali saya memahamkan diri saya sendiri tentang semua itu?

Saya kadang berfikir dan menemukan ada hal yang salah dari sistem kerja saraf otak saya yang tak kunjung memahami semua itu dengan baik, kadang saya berfikir bahwa semuanya adalah proses yng memng tak mudah, tapi terkadang saya lelah sendiri. Ah saya.. selalu begini sulit memahamkan diri sendiri.

🙇
Depok, 5 Desember 2016

Jumat, 02 Desember 2016

BIASA

Aku hanya wanita biasa
Yang mencintaimu dengan cara yang biasa
Menyapamu bersama kata-kata biasa

Aku hanya wanita biasa
Tak bisa apa-apa
Hanya menerka-nerka takar rasamu

Aku hanya wanita biasa
Semua kusimpan disini, ditempat biasa
Di tempat kau menempatinya dengan biasa
Di sudut ruang ya ku kemasi seperti biasa

Aku hanya wanita biasa
Tak punya apa-apa
Berbekal cinta kususuri jalan hampa
Berharap jemarimu menyapa

Aku hanya wanita biasa
Yang meyakini bahwa bersamamu
Hari-hari biasaku tak lagi biasa
Yang mendamba rasaku yang biasa berlipat adanya

Aku hanya wanita biasa...