Jumat, 15 September 2017

Positif

Akhir-akhir ini saya gak tau kenapa, tiba-tiba merasa sedang diselimuti banyak sekali hal-hal positif, teman-teman positif, kegiatan posotof, dosen positif, pencapaian-pencapaian yang positif dann banyak hal lain yang menurut saya jadi nutrisi dalam dalam diri.

Sebenarnya kalau dibilang sedang sellow, saya sama sekali tidak. Deadline dimana-mana, janji bertemu teman2 lama, teman baru, relasi dan dosen. Banyak jadwal. Tapi entah ya, saya merasa energi saya sedang positif-positifnya. Alhamdulillah, saya yakin ini karunia yang indah sekali. That even money can't buy.

Apakah saya sedang jatuh cinta sampai sebegitu berenerginya? Tentu saja tidak, saya sama sekali sedang tidak jatuh cinta pada siapapun. Saya sedang jatuh cinta pada kebaikan-kebaikan orang-orang di sekitar saya. Banyak sekali orang baik, mulai dari bapak Gojek, interviewer, pengemis di depan kos, dosen, anak sma yg sampingan di kereta dan masih banyak lagi orang baik yang saya temui. Saya sedang jatuh cinta pada kebaikan, tentang keniscayaan yang dianugrahi Allah pada setiap hati kecil hambanya 'dhamir'.

Dulu saya pernah menghafal ada mahfudzat (kata mutiara) bahasa Arab yang kurang lebih begini artinya *keburukan itu menular* tapi hari ini saya yakin, bukan hanya keburukan yang menular, kebaikan-kebaikan juga menular, setiap orang baik menularkan kebaikan dalam dirinya kepada orang lain yang menjadikan orang disekitarnya damai dan merasa sedang dipeluk oleh keberkahan. Seperti itu yang saya fahami.

Tentang kebaikan, bukan sekedar giving material thing saya rasa, tapi juga mengucapkan terimakasih kepada kasir supermarket, senyum kepada bapak gojek yang sudah mengantarkan kita ke tempat tujuan, berdo'a dalam hati untuk keselamatan orang lain, mendengarkan curhatan teman dengan baik (gak sambil scrool feed ig), memberi tempat duduk pada wanita paruh baya, and sooo manything yang mungkin hal sederhana yang kalau kita sadari sebenarnya sedang memberi kebahagiaan pada jiwa kita sendiri. Menutrisi jiwa kita sendiri.

Beberapa hal yang saya tuliskan di atas adalah hal sederhana tanpa biaya yang membatu kita memahami makna senyum orang lain pada kita, entah kenapa, setiap kali melihat senyum ibu paruh baya yang kebetulan sedang berdiri di kereta dan saya persilahkan duduk. Saya merasa saldo kebahagiaan saya bertambah. That smile give me powers.

Saya bersyukur, masih diberi keberkahan untuk bisa bercengkrama dengan nurani saya meskipun frekuensinya sangat amat sedikit. Saya masih berlatih untuk lebih mendengarnya, mengajaknya berdiskusi, menentukan pilihan dan berjalan bersama. Iya Nurani... Bagian terkecil dari hati.

*di KRL dari bojong gede
15 september 2017

Senin, 11 September 2017

pohon waru dan kupu-kupu ungu

Suatu hari
Matahari sedang terik-teriknya
Aku berteduh dibawah pohon waru  dengan bunga yang masih kuning cerah
Nampak beberapa jam yang lalu baru saja mekar
Hari ini cukup memeras peluh, gumamku.
Mengejar banyak sekali ego yang tertinggal di masa lalu…

Dan diperjalanan kali ini
Tugasku adalah membayarnya lunas, tuntas.
Belum kering tetes peluhku
Beterbangan kupu-kupu ungu di hadapanku
 Elok sekali
Guratan warna ungu dan kuningnya serasi
Cantik
Kupu-kupu itu terbang berlalu
Ku ikuti perginya
Kadang ia lambat tapi terkadang cepat terbangnya

Ku rasakan peluhku menetes
Aku sudah jauh meninggalkan waru berbunga kuniing
Perlahan, ku dapati diriku terbawa kupu-kupu
Dan sekarang aku tepat berdiri di depan sosok tinggi bersepatu kulit
Tak ku enal sosok itu
Tapi kemana kupu-kupu tadi
Kulihat kupu-kupu terbang dan mengecil
Masuk ke dalam bola mata kanan sosok yang berdiri di depanku

Sekarang
Kupu-kupu lenyap sudah
Keindahannya berpindah ruang
Dua bola mata itu menjelma sangat indah
Seolah mengajakku masuk ke dalamnya
Bersama, bersemayam bersama kupu-kupu ungu.

Tapi tidak Tuan
Sahaya harus kembali ke pohon waru
Disana tertinggal ego yang harus terbayar sebelum senja menjelang
Barlah hanya kupu-kupu itu yang mengisi ruang bola mata hitammu
Aku harus beranjak Tuan
Selamat siang.

Depok, 12 September 2017
*di tulis disela-sela baca jurnal :)
tesis oh tesis


Rabu, 06 September 2017

Perpustakaan

Di perpustakaan aku bertemu kata
Juga merangkainya
Di perpustakaan aku menulis kata
Juga menjadikannya puisi
Di perpustakaan aku kedinginan
Sembari memeluk diriku sendiri
Di perpustakaan aku menjadi
Menjadi pemburu kata

Jumat, 01 September 2017

Hanya ada Jelly malam ini

Maaf, malam ini kata di memoriku membeku.
Jadi, tak ada puisi selamat malam untukmu
Yang ada hanya semangkuk Jelly strobery yang masih mengepul.
Mengepul bersama ingatanku tentangmu.
Sederhana saja sebenarnya.
Mungkin sesederhana kau lewat di depan SS dan memesan buah mix. Dan lupa.
Tapi sayang,
Aku tak cukup mampu menjadikan Jelly ini sederhana.
Dibalik Jelly aku bersembunyi dari ketidakmampuanku memanggil diriku yang terbawa olehmu.
Aku menyamarkan manis Jelly di mangkuk ini dengan memaksa diriku tersenyum dengan kenyataan bahwa Jellyku tak pernah lagi kau inginkan.

Aku akan terus membuat Jelly.
Jadi ketika kata-kataku membeku, Jelly dalam mangkuk putih akan jadi temanku bercerita tentangmu.

Selamat malam.
*dari yang masih belajar membuat Jelly.