Sabtu, 15 September 2018

Ku ingin

Aku ingin bercerita tapi tak tau pada siapa, karena malam sudah sangat renta dan manusia sedang sibuk-sibuknya mendua dengan dunia.

Aku ingin tertawa bersama, tapi ku tak tau dengan siapa. Sedang kau berlalu begitu saja bahkan lupa kita pernah bersama.

Aku ingin menyeruput kopi pahit berdua saja, tapi tak tau akan duduk dengan siapa. Karena hari-hari menyandera dia, sempurna dengan riuh di dalamnya.

Aku ingin menyederhanakannya, menjadi potongan kisah yang begitu saja. Tak benderang apalagi mewah, karen ku tau jumawa akan menjelma di dalamnya.

Aku ingin bernyanyi bersama, tapi tak seorang pun di sana. Semua panggung diperkosa para penyamun. Menyisakan nada histeria tanpa rasa.

Jika begitu, ku ingin nangis saja.
Membiarkan pipiku hangat bergaris dua.
Dan sembab esok pagi buta.

Selamat malam.

Rabu, 25 Juli 2018

Dear

Dear my future husband.

(1)
Nanti, kalo kita sudah tidak berdua lagi. Anak2 kita yang lucu lahir, aku mau kita tetap menjadi dua orang kekasih. Aku adalah pasanganmu dan kau adalah pasanganku. Anak2 kita tetaplah orang lain dalam hubungan kita berdua.
Aku memgerti, mereka adalah darah daging kita, buah cinta kita, tapi please, jangan lupakan bahwa kita dulu adalah dua orang yg saling mencintai, saling mengerti dan saling mendengar juga saling sayang. Aku tak bermaksud khawatir cintamu akan terbagi pada anak-anak, aku akan bahagia sekali jika kau menjadi ayah yang penyayang, tapi tetaplah menjadi pasanganku. Karena bagaimanapun honey, esok lusa anak2 kita akan memiliki hidupnya sendiri. Kita akan menua berdua bukan? Maka tetaplah mengajakku berbincang tentang apapun itu seperti dulu saat kita masih berdua saja di rumah ini, tetaplah bercerita tentang perasaanmu di tempat kerja, tntng buku yg kau baca, tentang film, tentang rencana liburan akhir tahun kita. Tetaplah seperti itu. Karena kita sepasang kekasih yang sambilan menjadi orang tua.
Sayang, tetaplah mengajakku jalan2 berdua dipinggir pantai tanpa anak2, tetaplah mengirimkan puisi disela-sela jam kerjamu yg membuatku tersipu malu, tetaplah seperti itu. Tetaplah merayuku meski ku tau kau sedang berbohong bahwa aku adalah perempuan yg cantik :p
Tetaplah menjadi kekasihku. Aku melihat kita berdua di umur senja, tetap berbincang seru dan tertawa bersama sembari melihat anak2 kita tumbuh menjadi apa yang mereka impikan dan yang kita harapkan. Terimakasih utk kesediaanmu menjadi kekasihku.

(2)
Aku sedang bersedih saat ini, beberapa klien yang datang ke kantorku bercerita tentang perihnya hidup dalam rumah tangga. Aku sedih sayang, karena ternyata dunia tak cukup aman untuk anak-anak pun orang dewasa. Kau tau? Salah satu mata air masalahnya adalab komunikasi, huft. Aku sadar, kemampua  komunikasiku dalam waktu2 tertentu sangat buruk, aku bisa saja lanhsung terdiam saat sesuatu yg buruk terjadi, aku bisa saja tersenyum sinis, aku bisa saja marah2 tak jelas atau aku terkadang langsung menangis. Seperti yang kau tahu, aku terkadang maasih sangat labil, maka ketika aku bertingkah tak karuan. Ku mohon, ku mohon dengan sangat bantu aku untuk kembali normal, bagaimana caranya? Aku juga kadang bingung hahaa.
Kadang aku suka kau membujukku, mengajakku berbicara dengan suara paling rendah yang kau miliki, mengajakku berfikir rasional dan mengurai masalah yang kita hadapi. Namun terkadang, aku juga menginginkan waktu utk sendiri, tanpa kau bertanya apapun maka biarkan aku sendiri. Hanha ada dua itu kemungkinan yang bisa menjadi caramu menolongku. Maaf jika aku banyak menuntut. Kaupun berhak menuntut apapun dariku, bukankah kita akan membangun bahtera ini bersama? Mari saling bangun 😘

(3)

Selasa, 26 Juni 2018

Juni dan Hujan

Banyak air jatuh sore ini, tanah di jalanan depan kosan basah.
Deker-deker gang sempit Jakarta lengang.
Orang-orang memilih untuk meringkuk saja di kontrakan satu kamar bersama secangkir teh hangat dan potongan gorengan keliling.

Aku? Aku masih saja berkutat di depan leptop di kamar 3*3 dengan energi2 sisa melihat diriku tertinggal jauh dari teman2 sekelas yang sudah sidang. Ah aku. Kemana saja?

Di luar hujan, pipi dan hatiku juga.

Minggu, 10 Juni 2018

Pulang

Mari pulang, sejenak kembali ke hangatnya pelukan Mamak untuk kemudian kembali disandera kenyataan.

Mari pulang, sejenak membayar lapis-lapis rindu yang dibeli di hari sibuk untuk kembali menabungnya pada purnama esok hari.

Mari pulang, untuk kembali menyusuri jalan sunyi yang kita lalui ketika pergi jauh tempo hari. Untuk menyadari telah jauh kita pergi dan akan kembali.

Mari pulang, untuk kembali dekat dengan bulir-bulir pasir pantai dan senja indah di ujung jalan. Tempat kita berjanji untuk memberi arti di kemudin hari.

Mari pulang, untuk setangkup gundah yang kita rangkai pada bayang-bayang imajiner yang menggantung di langit malam.

Mari pulang, karena setidaknya. Ada yang harus diistirahatkan dari perjalanan ini.

Kayangan, 10 juni 2017
Dilangit dengan bulan sabit

Kamis, 31 Mei 2018

Untuk Ray

Halo Ray
Aku merasa harus menulis ini utnukmu, kau tau apa yang telah ku perbuat dengan hidupku sendiri? Iya kau benar. Aku baru saja bermain api dan terbakar.
Aku melihat diriku dalam kehancuran, rapuh dan tak tau arah pulang kau tau? Ini berat untuk ku jalani, lelah sudah aku menangis. Habis sudah kopi di depanku
Aku merasa menjadi seoonggok daging pengecut malam ini, di hadapan kenyataan pahit ini.

Ray, tadi seharian aku di kampus, di hadapanku duduk seorang ibu paruh baya, ku tebak dirinya adalah dosen berumur 30 awal. Ku lihat aura bahagianya bertemu mahasiswa, menerima konsultasi tugas akhir, mendengar keluh kesah mahasiswa dan juga mendengar presentasinya. Kau tau Rey? aku melihat diriku juga duduk di sana. Menjadi apa yang selama ini ku kejar. Menjadi orang yang dikelilingi oleh orang yang tak pernah bosan belajar, tapi apa yang selama ini ku lakukan? Mengapa ku lihat diriku menjauh dari garis finish?

Ray,
Saat ku tulis ini, aku sedang duduk di pojok salah satu kedai kopi a la urban, tempatku sering mengahbiskan waktu. Aku snediri Ray. Ketika  aku membawa orang-orang kembali ke jalan mereka, saat ini akulah yang tersesat itu. Akulah seseorang yang tak tau arah pulang dan datang itu. Itulah aku Rey…

Baru saja Mamak menelfonku, mendengarku menangis ku tau dirinya menangis lebih keras dibanding aku, hatinya jauh lebih terhujam dan koyak dibanding aku.
Ku tau di balik tawanya yang lirih, dia menyimpan tangisnya karena mendengarku menangis, maaf Mak, tapi tak ada satupun yang mampu memahami apa yang sedangku rasa selain kau. Tidak ada!

Bergantian Mamak dan Bapak berbicara pada ku tentang inilah makna perjuangan, ketika kita harus melawan diri sendiri dan terus maju. Berkali-kali mamak berkata, ini anak mamak dipeluk dulum ah mamak kau tau saj taka da tempat teraman selain pelukmu. Tidak ada.
Sini anak mamak baring dipangkuan mamak, mamak belai rambutnya. Aduh Ray, itu adalah hal yang paling menyenangkan dari pulang, itulah mengapa mala mini ingin ku pulang sekejap, hanya untuk tertidur diantara kedua tangan Mamak

Tapi Ray,
Kata Bapak, semuanya harus dihadapi dengan berani, ku tau aku telah melakukan banyak sekali kesalahan yang sudah ku perbuat. Semuanya harus ku terima, bahwa ini tentang proses, tentang belajar mencintai diri sendiri dan juga memaafkan apa-apa yang telah ku perbuat.

Terimakasih Rayhana Muttaqiya saahabatku...
Terimakasih Ray, telah mendengar pembicaran antah berantah ini (
Aku harus kembali ke Word Tesisku, bye

Coffee toffee, 31 Mei 2018

Sabtu, 26 Mei 2018

Sajak

Ini sajak tentang rindu
Pekat sudah rasanya
Terbendung nestapa disetiap pojok ruangnya
Membiru membeku

Ini sajak tentang kamu
Yang datang bersama bulir embun pagi tadi
Saling tatap
Saling diam
Saling dekap
Hangat.

Ini sajak tentang kita
Berjalan kita menyusuri setapak hari
Dalam riak langkah sendiri-sendiri
Susur kenangan dalam angan dan tertatih.

Ini sajak tentang do'a
Yang dipilin di setiap penghujung senja
Tentang rindu yang bersekat aku dan kamu
Atau tentang aku dan kamu yang tercekat rindu.

Iya, ini sajak rindu.
Karna aku merinduimu.
Tabik!


Di dalam kotak rindu,
26 Mei 2018


Selasa, 06 Maret 2018

nasehat dari Mem


Setelah mengumpulkan banyak sekali asumsi di kepala dan memasukkannya dalam kubikel-kubikel yang sebelumnya sudah ku labeli dengan nama keluarga, mimpi, pasangan, masa depan, prinsip, misi, sahabat, pekerjaan dll.
Setiap harinya, kejadian yang kualami, percakapan, tontonan atau bacaan yang ku baca masuk dan mengisi ruang-ruang kosong tersebut.
Sebulan yang lalu, aku menghabiskan potongan-potongan hariku di belakang meja salah satu ruang tempat kerjaku, aku baru saja mendapat tugas baru. Di sela-sela pekerjaan yang padat, seorang teman bercerita tentang tingkah lucu anak-anaknya. Menggemaskan sekali. Namun sepotong cerita yang menjadi ku ingat sampai hari ini, begini ceritanya.

Percakapannya kurang lebih begini:

Sulung: Mem, hari ini Aa gak mau ke sekolah! (sambal pasang wajah merengut)
Mem: lho kenapa Aa gak mau sekolah?
Sulung: Aa gak suka upacara, pokoknya Aa gak mau ke sekolah
Mem: kenapa Aa gak suka upacara?
Sulung: Aa selalu disuruh di depan, karena paling kecil. Jadinya kan Aa gak bisa gerak dalam waktu lama
Mem: berarti karena gak suka upacara Aa gak suka sekolah hari senin?
Sulung: ia, Mem, hari ini akum au belajar di rumah aja.
Mem: Aa, Aa pernah gak bertengkar sama temen di sekolah? Atau pernah gak ada perasaaan gak suka sama adek?
Sulung: pernah
Mem: sekarang Aa masih main gak sama teman Aa itu?  
Sulung: iya, mashih
Mem: A, lihat Mem. Dalam hidup ini ada banyak hal yang kita tidak suka, gak sesuai dengan kita, gak cocok. Tapi bukan berarti kita berhenti hidup kan? Sama seperti tadi, Aa pernah gak suka sama temen Aa tapi aa gak berhenti berteman, pernah berkelahi tapi akur lagi. Begitu juga sekolah dan upacara. Aa gak suka upacara bukan berarti aa gak berangkat ke sekolah.

Mungkin sekilas percakapan di atas itu ringan sekali, sama seperti kita yagng mungkin dulu menolak berangkat les, atau mencari-cari alasan ketika akan pergi mengaji ke surau di ujung desa, tapi lihat pesan yang disampaikan oleh si Mem sebagai Ibu,nasehat yang angat menakjubkan bahwa hidup akan mempertemukan kita dengan hal-hal yang berbeda degan kita, tidak sesuai gaya atau bahkan mungkin bersebrangan dengan apa yang kita Imani dan yakini akan selalu menenmani hari-hari kita, tapi semua itu bukanlah alasan untuk kemudian membenci hidup, hidup harus tetap berlanjut.
Bahwa hidup adalah tentang menerima, meretas, tumbuh dan berbahagia.


Depok, 6 Maret 2018
sambil nahan mules karna tesis gak kemana2