Senin, 08 April 2019

Sajak untuk Jakarta

Hari ini ku tulis sajak, untuknya Jakarta.
Kota yang tak pernah sama di setiap mata terbuka pada belenggu hari-hari.
Padanya Jakarta, tempat mimpi disemai untuk dibersamai.
Padanya ambisi tak pernah bertemu redup, darinya kenangan terbawa berpacu laju waktu.

Hari ini ku tulis sajak untuknya, Jakarta.
Kota yang sama yang selalu datang membisik sepi, seolah diri selalu sendiri dalam hingar riak manusia berpeluh di sore hari.

Padanya Jakarta, seolah berat untuk pergi, seolah terlampau gemerlap untuk disudahi.
Namun padanya Jakarta, diri tak kunjung bertemu tepi, meski kadang tertatih hati mencari cari langkah kaki yang rindu akan titik henti.

Padanya Jakarta, terimakasih atas mimpi-mimpi yang sudi kau singgahi. Ku ucapkan selamat malam walau tak pernah kau terlelap walau sejenak.

(Jakarta, senja hari 8 April 2019)

Sabtu, 27 Oktober 2018

Ruang hampa kata

Kita bertemu dalam ruang-ruang hampa kata
Yang ada hanya udara dan gelisah
Kemudian kita duduk berdua
Di salah satu ruang dengan dinding berwarna gading.
Kita terpisah oleh meja putih dengan mawar segar di atasnya, kau pandangi aku dan mencoba memulai sapa.

Kau bertanya tentang bagaimana keadaanku selama ini.
Ku jawab aku sedang berjuang menyulam kembali benang yang terlanjur kusut yang pernah kau tinggalkan.
Kau terdiam.

Pelayan laki-laki berdasi datang menawarkan secangkir kopi dan sepotong kue pie. Kau tak mengiyakannya, kau minta padanya secangkir teh melati dan kentang goreng, pikirku kaubtelah berubah. Kau tak lagi meminum kopi.

Kau kembali bertanya, bagiamana dengan hatiku? Aku terdiam cukup lama, mengingat kembali rasa itu, mencoba memberi arti pada rasa yang selama ini ku pulihkan. Baik, dia telah sembuh. Jawabku sekenanya.

Di hadapanku, kini kau menangis. Ku pandangi dua garis air matamu, entahlah. Kelu rasanya bibirku ingin bertanya apa yang terjadi dalam hidupmu hingga kau memutuskan utk mengunjungiku.
Katamu, kau menyesal. Katamu yang dahulu ada kesalahanmu.

Tapi maaf, aku tak lagi mampu bersisihan denganmu. Terlampau sakit luka yg pernah kau tinggalkan hingga ku tak lagi merasakan hangat apapun tentangmu.

Sore itu, hujan baru saja turun di penghujung oktober terlambat tadi perkiraan dedaun pinggir jalan.
Aku meninggalkanmu di ruang hampa kata itu, aku bahkan tak mampu menoleh kearahmu yang memamnggilku untuk kembali duduk. Maaf tuan, sahaya harus segera beranjak. Hari telah sore dan malam sebentar lagi menyapa.

Segeralah tuan mengirim do'a ampunan, barangkali memang kita bisa bertemu pada bab pengecualian.

Tabik.
Depok, 27 Okt 2018

Selasa, 02 Oktober 2018

Masa

Konon katanya semesta adalah penggalan waktu.
Di dalamnya bersusun-susun masa untuk saling isi.
Tak saling berbenturan, tak pula saling kejar. Bersisihan.
Seolah mengerti kapan hadir dan kapan beranjak.
Semestapun mencipta tanda diantara masa, agar kita manusia bertemu rasa.

Namun ada kalanya gerimis datang tanpa mendung sebelumnya,
Atau juga hujan yang gemuruh tanpa diantar gerimis.

Tapi itu adalah kehendak alam.
Sedang kita sibuk mencari tanda, abai kita pada sekelumit pengecualian di depan mata.

Andaikata kita tak bertemu pada masa yang dijanjikan semesta, mungkinkah kita bertemu pada titik pengecualian itu?

Daripada kita tak bertemu dengan titik temu bagaimana jika kita menyisihkan ruang untuk saling bertamu, menyapa dan bertukar cerita di antara ruang-ruang hampa cangkir teh melati?

Jika ia, mari duduklah di depanku.
Banyak hal tentang masa semesta yang akan kita jadikan pengecualian.

Depok, 3 Oktober 2018

Sabtu, 15 September 2018

Ku ingin

Aku ingin bercerita tapi tak tau pada siapa, karena malam sudah sangat renta dan manusia sedang sibuk-sibuknya mendua dengan dunia.

Aku ingin tertawa bersama, tapi ku tak tau dengan siapa. Sedang kau berlalu begitu saja bahkan lupa kita pernah bersama.

Aku ingin menyeruput kopi pahit berdua saja, tapi tak tau akan duduk dengan siapa. Karena hari-hari menyandera dia, sempurna dengan riuh di dalamnya.

Aku ingin menyederhanakannya, menjadi potongan kisah yang begitu saja. Tak benderang apalagi mewah, karen ku tau jumawa akan menjelma di dalamnya.

Aku ingin bernyanyi bersama, tapi tak seorang pun di sana. Semua panggung diperkosa para penyamun. Menyisakan nada histeria tanpa rasa.

Jika begitu, ku ingin nangis saja.
Membiarkan pipiku hangat bergaris dua.
Dan sembab esok pagi buta.

Selamat malam.

Rabu, 25 Juli 2018

Dear

Dear my future husband.

(1)
Nanti, kalo kita sudah tidak berdua lagi. Anak2 kita yang lucu lahir, aku mau kita tetap menjadi dua orang kekasih. Aku adalah pasanganmu dan kau adalah pasanganku. Anak2 kita tetaplah orang lain dalam hubungan kita berdua.
Aku memgerti, mereka adalah darah daging kita, buah cinta kita, tapi please, jangan lupakan bahwa kita dulu adalah dua orang yg saling mencintai, saling mengerti dan saling mendengar juga saling sayang. Aku tak bermaksud khawatir cintamu akan terbagi pada anak-anak, aku akan bahagia sekali jika kau menjadi ayah yang penyayang, tapi tetaplah menjadi pasanganku. Karena bagaimanapun honey, esok lusa anak2 kita akan memiliki hidupnya sendiri. Kita akan menua berdua bukan? Maka tetaplah mengajakku berbincang tentang apapun itu seperti dulu saat kita masih berdua saja di rumah ini, tetaplah bercerita tentang perasaanmu di tempat kerja, tntng buku yg kau baca, tentang film, tentang rencana liburan akhir tahun kita. Tetaplah seperti itu. Karena kita sepasang kekasih yang sambilan menjadi orang tua.
Sayang, tetaplah mengajakku jalan2 berdua dipinggir pantai tanpa anak2, tetaplah mengirimkan puisi disela-sela jam kerjamu yg membuatku tersipu malu, tetaplah seperti itu. Tetaplah merayuku meski ku tau kau sedang berbohong bahwa aku adalah perempuan yg cantik :p
Tetaplah menjadi kekasihku. Aku melihat kita berdua di umur senja, tetap berbincang seru dan tertawa bersama sembari melihat anak2 kita tumbuh menjadi apa yang mereka impikan dan yang kita harapkan. Terimakasih utk kesediaanmu menjadi kekasihku.

(2)
Aku sedang bersedih saat ini, beberapa klien yang datang ke kantorku bercerita tentang perihnya hidup dalam rumah tangga. Aku sedih sayang, karena ternyata dunia tak cukup aman untuk anak-anak pun orang dewasa. Kau tau? Salah satu mata air masalahnya adalab komunikasi, huft. Aku sadar, kemampua  komunikasiku dalam waktu2 tertentu sangat buruk, aku bisa saja lanhsung terdiam saat sesuatu yg buruk terjadi, aku bisa saja tersenyum sinis, aku bisa saja marah2 tak jelas atau aku terkadang langsung menangis. Seperti yang kau tahu, aku terkadang maasih sangat labil, maka ketika aku bertingkah tak karuan. Ku mohon, ku mohon dengan sangat bantu aku untuk kembali normal, bagaimana caranya? Aku juga kadang bingung hahaa.
Kadang aku suka kau membujukku, mengajakku berbicara dengan suara paling rendah yang kau miliki, mengajakku berfikir rasional dan mengurai masalah yang kita hadapi. Namun terkadang, aku juga menginginkan waktu utk sendiri, tanpa kau bertanya apapun maka biarkan aku sendiri. Hanha ada dua itu kemungkinan yang bisa menjadi caramu menolongku. Maaf jika aku banyak menuntut. Kaupun berhak menuntut apapun dariku, bukankah kita akan membangun bahtera ini bersama? Mari saling bangun 😘

(3)

Selasa, 26 Juni 2018

Juni dan Hujan

Banyak air jatuh sore ini, tanah di jalanan depan kosan basah.
Deker-deker gang sempit Jakarta lengang.
Orang-orang memilih untuk meringkuk saja di kontrakan satu kamar bersama secangkir teh hangat dan potongan gorengan keliling.

Aku? Aku masih saja berkutat di depan leptop di kamar 3*3 dengan energi2 sisa melihat diriku tertinggal jauh dari teman2 sekelas yang sudah sidang. Ah aku. Kemana saja?

Di luar hujan, pipi dan hatiku juga.

Minggu, 10 Juni 2018

Pulang

Mari pulang, sejenak kembali ke hangatnya pelukan Mamak untuk kemudian kembali disandera kenyataan.

Mari pulang, sejenak membayar lapis-lapis rindu yang dibeli di hari sibuk untuk kembali menabungnya pada purnama esok hari.

Mari pulang, untuk kembali menyusuri jalan sunyi yang kita lalui ketika pergi jauh tempo hari. Untuk menyadari telah jauh kita pergi dan akan kembali.

Mari pulang, untuk kembali dekat dengan bulir-bulir pasir pantai dan senja indah di ujung jalan. Tempat kita berjanji untuk memberi arti di kemudin hari.

Mari pulang, untuk setangkup gundah yang kita rangkai pada bayang-bayang imajiner yang menggantung di langit malam.

Mari pulang, karena setidaknya. Ada yang harus diistirahatkan dari perjalanan ini.

Kayangan, 10 juni 2017
Dilangit dengan bulan sabit