Kamis, 29 Desember 2016

Nasi goreng "Spesial"

Salut sekali saya dengan sepasang penjual nasi goreng favorit di jalan Pinang, usia mereka jauh dri kata muda, tapi hei. Lihat semangat mereka, kerja sama mereka. Mengharukan sekali.

Terbayang betapa perjuangan mereka di awal2 bersama, menentukan siapa yg mengiris, siapa yang membungkus pesanan, siapa yang mengaduk, siapa yang membeli kekurangan kecap sachet, pasti tidaklah mudah menyelaraskan dua kutub menjadi  berirama serasi sekali seperti malam ini.

Senyum hangat mereka kepada setiap pembeli meneduhkan, lebih berenergi dari sepiring nasi goreng dengan potongan ati ampela andalan mereka.

Di seantero jagad jln Pinang, nasi goreng ini terkenal lezatnya. hematku, bukan hanya rasa yang mereka ciptakan, tapi keharmonisan yg mereka suguhkan menjadi pengingat bagi diri yang masih belia tentang kesatuan langkah, kerja keras, saling memahami dan menghargai.
Terima kasih Pak, Bu, untuk sepiring nasi goreng ati ampela dan nasehat berharga ini serta senyum manis setiap kali menyodorkan sepiring nasi goreng spesial ini.
Esok saya kembali dan memesan kwitiau rebus :)

Jln Pinang-Margonda. desember 2016

Selasa, 27 Desember 2016

Duduk bersama senja

Sore ini, di bawah senja jingga seberang danau buatan kampus aku menemukan diriku terduduk di atas kursi yang kosong, tatapanku nanar, kosong, seolah mecari sesuatu namun tidak. Aku menemukan diriku kosong.

Ku temukan diriku duduk di antara dedaunan yang berguguran di akhir desember, mencium aroma tahun baru yang menusuk namun tak berasa apa-apa. Pikiranku melayang, entah kemana, aku sedang mencari kemana pikirku pergi.

Sore ini, di hadapan rumput yang basah karna hujan pagi tadi, aku menemukan diriku terduduk lunglai, semacam sedang kelelahan mengejar sesuatu yang akupun tak tau, mencari sesuatu yang tak tau wujudnya apa.

Ku temukan diriku dengan selembar kertas kosong dan pena di tangan kananku. Mencoba merangkai surat berisi puisi rindu, mencoba menghitung setiap ejaan rindu. Tapi aku juga gagal.
Disini, di tepian danau ini aku hilang.

Ku temukan diriku ditepuk pundaknya oleh kawan sekelas yang usianya jauh dari kata muda, beberapa helai rambut berwarna putih muncul dari kerudung kuning yang dikenakanya.
Dia menyapaku manis sekali, memmandangku dengan mata keibuannya. Mengelus pundakku lembut sekali.
Sembari tersenyum hangat, dia berkata "Dini, dalam hidup ini banyak sekali hal yang tidak bisa kita kendalikan sendiri. Satu-satunya yang bisa kita perjuangkan untuk dikendalikan adalah diri kita sendiri, hanya itu".

Ku temukan diriku tercengang mendengar kata itu, benar sekali kakak yang kerap ku panggil Bunda itu. Dia melanjutkan "dalam hubungan, kita tidak perlu mencari yang cocok, tapi yang terpenting adalah mencari kecocokan, menemukan titik koordinat "ego" untuk bisa bertemu sekata dan seiya, pasanganmu bukanlah malaikat, dia sewaktu-waktu akan melakukan kesalahan, akan marah, akan diam, akan bertingkah tidak menyenangkan. Di saat2 seperti itulah kesabaranmu sedang dipupuk, namun pikirkanlah, bahwa hidup ini pilihan, karenanya kau tak berhak menyalahkan siapapun atas apa yg terjadi atas dirimu karena apa? Karena sejatinya kaulah yang memilih jalanmu sendiri untuk kau lakoni.

Aku melihat diriku tertunduk, menatap kosong pada semut hitam yang saling berpapasan, aku resapi setiap kata dari teman sekelasku itu. Wajahnya yang teduh tersenyum meneduhkan.
Aku mencerna setiap nasehatnya, mendengarnya seperti mendengar mamak. Ah aku ingin memeluk temanku itu dan merasakan hangatnya belaian tangannya.
Tapi seketika aku melihatnya pergi melambaikan tangannya dengan sepasang bibir yang tak terlepas dari senyum. Akupun kembali menemukan diriku sendirian.
Aku tersadar mengapa dia datang dan berbicara demikian? Padahal aku tak pernah bercerita tentang apapun kepadanya. Bahkan pertemuan kami hanya sebatas dikelas. Selebihnya tidak. Ah sudahlah, ini cara semesta menghibur pikirku.

Melihat diriku sendiri duduk di bangku panjang tepi danau, memandang air danau yang memantulkan gedung, pohon dan masjid kampus yang apik tersapu jingga senja.
Sayup-sayup suara azan dari corong masjid seberang danau. Ku lihat diriku melangkah menuju sumber suara. Sepertinya aku mash harus terus belajar memahami potongan-potongan puzzle ini. Tapi entahlah aku juga masih mengeja.

Selamat sore dari seberang danau bertempiaskan lampu-lampu gedung dan jalanan. Aku merindukanmu.

Depok, 27 Desember 2016

Kamis, 22 Desember 2016

Gagal

Aku gagal membius rinduku
Dia merajai alam tak sadar dan menduduki diriku penuh
Ku temukan diriku terduduk ditengah rinduku sendiri
Rindu yang tiap malamnya ku hitung sendiri.
Aku gagal bercengkrama dengan rinduku.
Semakin hari akarnya menguat
Rantignya bertambah
Tapi aku?
Iya disini menghitung daun-daun rinduku sendiri(an).

Senin, 05 Desember 2016

Terasa (sulit)

Sebenarnya saya tidak ingin menyebutnya dengan 'sulit' beberapa bagian yang akan saya tulis di dalam  tulisan ini, tapi saya terlanjur berkata tidak pada ke-naif-an. Oleh karenanya saya tulis saja sulit.

Akhir-akhir ini saya sering merasa mengapa begitu sulit memahamkan diri saya sendiri bahwa hal-hal di luar diri saya tidak bisa saya kendalikan sepenuhnya, ketidak-pastian,penantian, respon orang lain terhadap saya, harapan2 saya, rencana2 saya. Rasa2nya sulit sekali menjadikan diri sendiri untuk memahami bahwa satu-satunya yang bisa saya kendalikan adalah diri saya sendiri, cara saya memandang orang lain, kejadian yang sya alami, bgaimana saya mengatur diri dan waktu yang saya miliki, bagaimana saya menggunakan energi yang dianugrahiNya adalah bebrrapa bagian yang bisa saya kendalikan. Itupun saya merasa lebih banyak tak merasa menang dari diri saya sendiri.

Mengapa sulit sekali memahamkan diri saya sendiri tentang betapa hidup ini tidak melulu tentang hal2 manis, hal2 yang membuat kita tertawa terpingkal2, hal2 membahagiakan. Suliit sekali saya menerima kesendirian, diabaikan, didiamkan, padahal semuanya itu adalah paket lengkap hidup yang harus dijalani dan dinikmati.

Mengapa sulit sekali saya memahamkan diri saya sendiri tentang cinta tak selamanya berbentuk kata2, kadang2 bentuknya bisa diam, bisa amarah, bisa kecemburuan, bisa perhatian, dan bentuk2 cinta lainnya. Mrngapa sulit sekali saya memahamkan diri saya sendiri tentang semua itu?

Saya kadang berfikir dan menemukan ada hal yang salah dari sistem kerja saraf otak saya yang tak kunjung memahami semua itu dengan baik, kadang saya berfikir bahwa semuanya adalah proses yng memng tak mudah, tapi terkadang saya lelah sendiri. Ah saya.. selalu begini sulit memahamkan diri sendiri.

🙇
Depok, 5 Desember 2016

Jumat, 02 Desember 2016

BIASA

Aku hanya wanita biasa
Yang mencintaimu dengan cara yang biasa
Menyapamu bersama kata-kata biasa

Aku hanya wanita biasa
Tak bisa apa-apa
Hanya menerka-nerka takar rasamu

Aku hanya wanita biasa
Semua kusimpan disini, ditempat biasa
Di tempat kau menempatinya dengan biasa
Di sudut ruang ya ku kemasi seperti biasa

Aku hanya wanita biasa
Tak punya apa-apa
Berbekal cinta kususuri jalan hampa
Berharap jemarimu menyapa

Aku hanya wanita biasa
Yang meyakini bahwa bersamamu
Hari-hari biasaku tak lagi biasa
Yang mendamba rasaku yang biasa berlipat adanya

Aku hanya wanita biasa...

Kamis, 24 November 2016

itu, diriku!

ada yang harus ku ajak berdamai sebelum berdamai denganmu
itu aku, diriku!

ada yang harus ku ajak duduk bersama dan menikmati malam sendirian
itu aku, hatiku!

ada yang harus aku maafkan kesalahannya sebelum mengijinkanmu mengucap maaf
itu aku, diriku sendiri!

ada ego yang harus ku tinggalkan disudut hari, sebelum menyapa hangat pagimu
itu aku, egoku ini!

ada kesalahan yang harus aku akui sebelum mengajakmu menikmati hari-hari indah
itu aku, kesalahan yang ku buat!

ada masa lalu yang harus ku tinggalkan bersama dengan geguran daun pinggir danau
itu aku, masaku yang lalu!

depok, 24 november 2016

Senin, 14 November 2016

Menunggu

Di luar bulan bersinar
Aku disini
Masih menunggu.
Menghitung waktu mengingat janji
Belajar kecewa dan mengeja perih
Belajar menghapus bulir bening itu sendiri
Dan masih terus menunggu suara
Di luar ada bulan yang sedang bersinar

Depok, 14 nov 2016
10.36 waiting for a call

Minggu, 13 November 2016

Takut

Mataku tak dapat terpejam
Tak mengantukkah aku?
Kantukku terkalahkan oleh takutku
Takut akan bertemu mimpi-mimpi itu

Kamis, 10 November 2016

teman payung

lihat itu, ada banyak payung di atasmu ketika berjalan
banyak warna, beragam bentuk dan berbagai jaraknya dengan dirimu
begitu juga orang-orang di sekitarmu
ada banyak jenisnya, banyak warnanya, jaraknya denganmu pun beragam
temanmu bukan payung.
yang kau ambil dari pojok ruangan
yang kau lirik etika mendung
yang kau ajak berjalan ketika hujan
temanmu bukan payung
yang kau bersamai ketika terik
yang kau bawa ketika ketika khawatirmu pada basah
temanmu bukan payung
yang ketika mentari cerah dan hangat kau biarkan dia berlapis debu
usang tak tersentuh
teman, temanmu bukan payung

di luar sedang hujan, dan ada payung di ransel :D
Depok 11 nov 2016

Rabu, 09 November 2016

Memilihmu

Aku memilihmu dengan penuh kesadaran
Kesadaran bahwa masing-masing kita berbeda, kau dengan segala yang kau miliki dan aku dengan segala cacat yang ku bawa. Kesadaran bahwa maaing-masing kita punya cerita masa lalu dan mimpi untuk masa depan.

Aku memilihmu dengan penuh kesadaran, kesadaran bahwa akan tidak mudah menjalani hari-hari kita, akan banyak sekali aral yang akan kita hadapi bersama, iya bersama, saling menggenggam dan saling percaya. Aku sadar betul akan pilihanku, bahwa ketika aku memilihmu, aku tidak hanya melihat dirimu saat ini, aku belajar melihat dirimu yang lalu dan dirimu yang akan datang.

Aku memilihmu dengan penuh kesadaran, kesadaran atas kekanak-kanakanku dan sadar tak selamanya kau membaca inginku yang kusimpan dalam hati atau yang kuutarakan lewat pertanda-pertanda. Begitu juga dengan kau, aku memilihmu dengann sadar yang penuh bahwa aku juga akan mencintai kekurangan-kekurangan yang kau bawa dari masa lalu.

Aku memilihmu dengan kesadaran, ada masanya kita berdua bergantian mengalami masa-masa tidak menyenangkan, ketika aku baik-baik saja kau tidak, ketika kau baik-baik saja aku yang tak dapat diajak berfikir jernih. Dan aku memilihmu dengan kesadaran itu sembari belajar banyak hal tentang ritme itu.

Aku memilihmu dengan kesadaran, bahwa kau akan baik-baik saja bersama denganku. Begitu juga aku, ku percayakan langkah kita padamu. Kekuatanku ku titipkan padamu. Karena ketika memilihmu aku memilih dengan penuh kesadaran bahwa bersama kita bisa melangkah lebih tangguh.

Aku memilihmu dengan penuh kesadaran bahwa besok lusa, akan banyak sekali kesalahan yang aku lakukan di hadapanmu, dan aku memilih dengan kesadaran dan keinginan untuk belajar, aku pun sedang belajar berdialog dengan jarak meski ini tidak mudah, sadar aku bahwa memilihmu juga berarti memilih kenyataan dan keadaan kita ini.

Aku memilihmu dengan penuh kesadaran bahwa akan ada serpihan-serpihan hidupku yang akan kusesuaikan polanya dengan milikmu, karena aku sadar, ketika memilihmu serpihan-serpihan milikmu juga akan menjadi bagian dari milikku.

Aku memilihmu dengan penuh kesadaran bahwa apa yang saat ini ku inginkan tak selamanya diaminkan oleh hidup, akan ada  keinginan yang di'nanti-saja"kan oleh hidup. Mungkin salah satunya keinginanku bertemu ketika rindu tak lagi dapat diajak duduk manis. Aku sadar ketika memilihmu itu berarti aku memilih menikmati rindu dan jarak ini.

Dari Aku yg memilihmu dengan penuh kesadaran.
Depok, 9 november 2016


Kamis, 27 Oktober 2016

....

Tidurlah sayang bersama bintang gemintang
Bersama belaian sang malam
Pejamkan matamu dan ku kan datang
Datang bercengkrama dalam mimpi
Karena hanya dalam mimpi jarak tak berarti
Tidurlah sayang
Jika matamu tak mampu terkatup
Pulanglah sejenak dalam pelukku
Sebelum tidurmu
Mungkin kau butuh tau
Ada rasa yang ku simpan untukmu
Disini, disudut ruang yang kita namai hati
Ada harap yang selalu ku semogakan
Sama seperti malam ini, malam kemarin dan malam2 akan datang
Tidurlah sayang.

Depok. 10.00, 27102016

Minggu, 23 Oktober 2016

Oleh-oleh berkunjung

Berkunjung sepertinya kebiasaan yang sudah mulai langka ku lakoni akhir-akhir ini, ketika masih di jogja dulu sering ku jadwalkan diriku mengunjungi orang-orang yang ku kenal, mulai dari rumah Pakde atau krrabat yang lain, hanya sekedar mampir ke kosan teman sekelas, datang ke kontrakan teman kerja, atau ramai-ramai mwngunjungi rumah teman yang berdomisili di sekitaran  jogja.

Sebenarnya ketika berkunjung, banyak hal yang ku pelajari, mulai dari 'say hay' saat menghubungi dan menentukan waktu yang pas untuk berkunjung dengan tuan rumah, menentukan hari, berkompromi tentang waktu luang dst..
Setelah sepakat waktu, kemudian aku akan mencoba menimbang-nimbang apa yang akan ku bawa dalam kunjungan kali itu, hmmmm... biasanya menyesuaikan dengan momen dan kesukaan si tuan rumah, nah kalau momen bisa disesuain seperti ulang tahun, momen kehamilan, sedang hujan, atau musim buah sesuatu, maka kesukaan tuan rumah akan menguji kedekatan kami. Misalnya saja, mengunjungi teman lama dan juga teman kerja yng ku tau sangat suka brownis kukus merk tertentu maka aku akan membawa brownis kukus. Hematku, membawa sesuatu ke tempat kunjungan adalah seni, seni bertamu dan berinteraksi. Karena menurut nasehat lama yang aku lupa sumbernya 'tahayyaduu tahabbu' (read: saling memberilah maka kalian akan saling menyangi)

Setelah menentukan buah tangan, aku belajar banyak dari interaksi antar tamu dengan tuan rumah, tamu dan tamu, juga interaksi antara anggota keluarga. Bagaimana suami berinteraksi dengan istri, anak dengan ayah, anak dengan anak, jika ada nenek bagaiamana interaksi mereka.

Banyak hal menarik yang ku dapat pada sesi interaksi ini, misalnya, pengalamanku beberapa bulan yang lalu mengunjungi rumah slah seorang kenalan di Bandung, ketika itu aku mendapat undangan berbuka puasa. Mereka tinggal di daerah perumahan itb, aku terpukau dengan bagaimana anak-anak mereka berinteraksi, tak butuh waktu lama untuk mengakrabi kedua anaknya, mereka bercerita banyak tentang sekolah mereka, tentang hafalan surat, tentang lomba yang mereka menangkan, tentang kegiatan favorit disekolah, makanan kesukaan mereka. Tentu saja semua informasi itu bukan hanya datang dari anak2 manis dan cerdas itu, tapi juga orang tua mereka yang nampak sangat mengerti bahwa anak2 mereka sedang dibangun image dirinya dihadapanku sebagai tamu.

Aku ingat sekali ketika bunda mereka membuka percakapan kami dengan berkata "mbak Din, mas Dimas ini juara favorite student of the year lho di sekolah", si anak yang disebut namanya tersenyum malu2" jelas sekali si Bunda sedang membangun kepercayaan diri anaknya dengan menyebutkan prestasi tertentu, si adik tidak mau kalah menyebutkan prestasi Bundnya dengan menunjuk deretan piala di ruang tamu mereka. Hal unik ini ku baca sebagai bentuk saling menghargai antar satu sama lain di dalam rumah. Aku mencoba menimpali sekenanya, sesekali berwow atau mengucapkan selamat dengan tos-tosan ala anak-anak. Hal-hal sederhana semcam ini ku maknai sebagai oleh2 untuk dibawa pulang, karena menurutku rumah sebagai tempat pertama manusia berinteraksi seyogyanya mampu membangun pondasi karakter sebelum anak berinteraksi lebih luas dengan lingkungannya.

Hari ini aku berkesempatan mengunjungi salah seorang kenalan yang dianugrahi anak ke-4nya, selain mendapat buah tangan balikan hihihi, ada oleh2 yang harus ku catat disini.
Kenalan yang ku kunjungi ini bekerja di salah satu kementrian, begitu juga istrinya. Memiliki empat orang anak dan masing-masing bekerja menurutku tantangan tersendiri. Si Ibu terutama, harus memegang multi-peran dalam rumah. Menurut observaasiku saja beberapa jam di rumah itu, si Ibu sigap sekali menyelesaikan beberapa pekerjaan kecil, mengganti popok, menyiapkan jamuan, bahkan masih sempat menggambar di atas sehelai kertas untuk dua orang putrinya yang sedang merengek untuk dpat mewarnai. Ibu harus multitalent dan multitasker, note it din! Batinku.

Kenalanku tadi bercerita tentang beberapa hal tentang anak mereka yang terkadang dibawa serta ke kantor karena tidak ada yang merawat mereka di rumah, bercerita tentang perpindahannnya dari satu kota dan kota lain karena tuntutan tugas, dan masih banyak lagi cerita2 menginspirasi lainnya.

Biasanya ada sesi dalam kunjung mengunjungi khususnya jika aku mengunjungi keluarga atau teman yang telah berumah tangga, pesan2, jokes dan wejangan yang mengarah kepada nasehat untuk segera menggenapkan dienNya, atau pertanyaaan pilihan ingin menjadi wanita karier atau di rumah saja, atau tentang kriteria2 khusus, atau juga nasehat manajemen konflik pada pasangan yang kesemuanya menjadi oleh2 berharga bagiku, karena aku tidak pernah tau kapan semua wejangan itu akan ku ingat dan ku laksanakan dan tentunya sangat berharga.

Di sesi akhir biasanya saling mendo'akan, ucapan terimaksih, senyumn hangat tersuguhkan.
Ah, memang saling menyambung silaturrahmi menjadi sangat berharga ketika kita mampu menerima apa saja yang disuguhkan 'hidup' pada meja (hidup) kita.

*edisi berkunjung ke ahsan kecil.
Mulai ditulis di srasiun cikini-selesai dikosan :')

23 oktober 2016
Hujan oktober

Kamis, 20 Oktober 2016

cangkir putih

cangkir putih itu
menemani pagiku yang tak sedang putih
aku berlari
seolah mengejar
tapi yang ku kejar nampak meluap
jika cangkir putih itu terpaksa ku genggam
maka hangat adalah hadiahnya
meski hariku tak lagi putih
cangkir putih itu tetap disana
menyisakan ruang beronggakan senyap
yang terisi hanya dengan bulir-bulir kepedihan
cangkir putih itu
ku seduh di dalam kekosongannya
didih air menyeruak bersama wangi kayu manis
menusuk sanubari
karena kau kawanku
seruputlah hangatnya
peluklah manisnya
bawalah bersamamu rasa yang ada pada dirinya.
cangkir putih itu
menghantarkanku pada putih senja
putih malam
dan putih esok hari

cristal of knowladgeUI
21-10-2016
*inspiring by lecturer white cup of coffee :)

Minggu, 16 Oktober 2016

Selamat pagi

Selamat pagi cinta,
Secangkir kopi cappucino hangat dan beberapa pasang roti panggang dengan coklat diantara keduanya.
Pembuka yang manis untuk hari yang manis.
Dengan sedikit pahit kopi sebagai pengingat bahwa hidup tak selamanya manis dan hangat.

Selamat pagi cinta,
Mimpi apapun kita tadi malam
Semoga meluap bersama embun diujung cemara oktober
Mari memulai dengan harapan sang mentari

Selamat pagi cinta
Kita akan belajar mengeja rasa hari ini juga hari-hari akan datang
Ku mohon tataplah jemarimu berada diantara jemariku.
Menggenggam bersama.
Bersama kita akan tapaki jalan kita.

Selamat pagi cinta,
Salam pagi dariku di atas kereta.

Stasiun pasar minggu.
17 oktober 2016

Minggu, 09 Oktober 2016

mengapa kita butuh bercerita?

ini adalah pertanyaan yang dilemparkan seorang dosen dikelas kajian wacana minggu lalu, beliau mengawali kelas dengan pertanyaan "mengapa kita butuh bercerita?", pertanyaan yang cukup filosofis menurut saya, mengingat bercerita adalah hobi saya.

beberapa mahasiswa menjawab secara beragam , ada yang menjawab, karena manusia butuh hiburan
dan bercerita adalah salah satu hiburan, ada juga yang memandang bercerita adalah media berbagi dan menginspirasi, yang lain menjawab bahwa manusia dapat memperoleh pengakuan dari orang lain dengan bercerita.

setelah mendapat jawaban tersebut dosen tersebut kemudian memberikan jawaban versi dirinya yang tentu saj menggunakan frame wacana yang sedang kami bahas dalam kesempatan tersebut.
mengapa kita butuh bercerita? dosen tersebut memulai menjawab pertanyaannya dengan menceritakan potongan kisah hidupnya di masa lalu ketika berjuang mendapatkan kesempatan belajar ke benua seberang "australia"

waktu itu, sekitar thun 1991, beliau menyelesaikan sekolah tingkat pascasarjananya dan menghadapi kebingungan karena hasratnya untuk sekolah lagi semakin tinggi. salah seorang kenalannya menyodorkan tawaran beasiswa pemerintahan amerika lengkap dengan sederet syarat yang harus dipenuhinya, salah satunya adalah skor kemampuan bahasa Inggris TOEFL minimal 550. dengan modal nekat, beliau mengikuti tes dan mendapat skor 475. tentu saja skor ini tidak memungkinkan dirinya untuk mendaftar. dan beasiswa pemerintahan amerika itupun pupus di harapan.

skor tersebut kemudian menyadarkannya bahwa untuk dapat sekolah lagi dengan beasiswa, diriya harus memiliki kemapun bahasa Inggris yang memadai, ulailah usaha beliau belajar bahasa Inggris dengan mengantogi kamus saku kemana dan kapanpun beliau pergi. kemudian membiasakan diri membaca koran harian yang memuat laman berita berbahasa inggris sampai pada berlangganan koran internasional.

dua tahun berlalu, mimpinya untuk dapat melanjutkan studi belum pupus dan kabar bahagia itu datang menyapa. ada tawaran beasiswa dari pemerintah Australia yang hanya mensyaratkan skor TOEFL 450 dan menawarkan pelatihan bahasa Inggris selama  6 bulan. angin segar ini disambut hangat oleh beliau. beliau mendaftar dan kemudian lulu. yeeey. terbag ke Australia.

tiba di salah satu bandara di negera kangguru tersebut, belau menghubungi sanak keluarga yang menetap di sana untuk mengabarkan bahwa dalam beberapa jam kedepan dirinya akan tiba di kota tempatnya akan menggaet titel PhD. setelah berjalan dari tempat telfon umum tersebut, beliau kmudian menemukan dopet yang berisi puluhan lembar ratusan dollar, dalam keadaan bingung beliaupun menyerahkan dompet yang ditemukan tersebut kepada security.

singkat cerita, 4 tahun berlalu dan hari-hari mereka (dosen dan istri) di Australia dengan kulaih dan bekerja paruh waktu. hasil dari bekerja terebut ditabung dan pada saat sebelum pulang mereka mengosongkan tabungan mereka untuk dibawa pulang, namun kabar buuk datang. dompet dan seluruh isinya hilang. mereka putus asa dan mulai panik mencari ke seluruh swalayan tempat terakhir mereka berbelanja. dan ditengah harapan yang hampir saja terputus, seorang laki-laki paruh baya datang mengantarkan dompet lengkap dengan isinya yang tidak berkurang sehelai pun.

kejadian tersebut kemudian membawa ingatan belaiu kepada pengalaman menemukan dompet di bandara empat tahun yang lalu. dan ketika itu beliau tersadar bahwa berbuat baik akan selalu membawa kebaikan. entah kapan, dimana, dan dengan cara seperti apa,

kembali kepada pertanyaan "mengapa kita butuh bercerita?", dosen tersebut mengakui bahwa cerita perjalannya tersebut selalu diceritakan dikelas tempatnya mengajar, dan setiap kali menceritakannya dirinya selalu mendapat kekuatan baru, peahaman baru, kesadaran baru, dan penerimaan baru. karenanya beliau memberi konsep bahwa mengapa kita butuh bercerita? karena pada hakikatnya kita butuh memahami setiap potong kejadian yang kita alami, kita dengarkan dan kita rasakan. dan bercerita adalah satu dari cara yang bisa kita gunakan untuk memahami hal tersebut. tentu saja dengan bercerita bukan hanya kita yang memahami makna dari cerita tersebut tapi juga orrang lain yang menjadi pendengar ataupun pembaca cerita kita.

dengan bercerita kita sedang memahami secara utuh potongan-potongan kejadia sehingga insight demi insight kita dapat,d an kemudian menjadi bekal yang sangat berharga untuk merangkai cerita selanjutnya.

lets keep telling story :D

Daun merindu

Kemarin kau disambut hujan
Hari ini kau dilepas hujan
Kaupun bersama kenangan menerjang hujan
Kembali pulang pada pangkuan lumbung rindu
Dan akan kembali dengan kesetiaan
Tanah basah bersama kepergianmu
Begitu juga aku dan pipiku
Ada rintik sore tadi
Gerimis manis penutup hari
Kubiarkan diriku dialiri air langit
Karena ku yakin jika tak hujan ada daun yang merindu.

Depok, 9 okt 2016

Kamis, 08 September 2016

Tanah Merah Durjana

Tak pelak hati kehilangan kayuh
Berpijak di atas merah tanah
Suara tak terdengar bak tertelan nestapa
Hanya senandung lara menyapu pilu
Tak tersisa tawa dibibir merona
Bercerita riuh meski hampa
Menyapa tak berjawab
Hanya meninggalkan gema sembab
Aduhai, durjana hendak kemana kau ayunkan langkah
Tanah merah tak lagi bertanya apa-apa
Akan membiarkanmu terbawa arus embun diujung ilalang
Aduhai, durjana mengapa bulirmu deras tak bertuan?
Tak adakah gerangan dermaga tuk bersandar barang sejenak
Semua yang terkambang telah jauh
Hanya kau seorang diri kini terpaku
Bagaiamana mungkin rembulan bersandar bersamamu
Sedang ia berjumbu manis bersama mega
Berjalanlah kau wahai durjana
Tinggalkanlah nestapamu bersama setapak legam ini
Bersamanya dia bermimpi.

Depok, 8 sept 2016
When nothing to say and your tears singing alone =,='

Selasa, 30 Agustus 2016

Kuliah perdana

Hari ini adalah hari kuliah perdana..jrengg...jrengg.. masih meraba-raba kemampuan, kesiapan, dan kekuatan.

Bismillaah...
Nawaitu at-ta'alluma li ridhollahi ta'ala
Wa izaalatil jahli
Wa ihyaa'i ad-diin

Selamat berjuang anak muda. Pertarungann baru saja dimulai.
Keep strong,positive and make a lot of du'a :)

FIB, 30 Agustus 2016

Minggu, 28 Agustus 2016

Dari balik jendela kereta

Dari balik jendela kereta
Ku temukan jingga senja menggelayut syahdu
Ku temukan bayang wajahmu jiga disana
Mencari alasan untuk merindukanmu
Mencoba menemukan kata yang tepat untuk yakinkan dirimu
Dari balik jendela kereta
Ku merindukanmu.

Diatas kereta, stasiun citayam
28 agustus 2016
5.26

Dari balik jendela kereta

Dari balik jendela kereta
Ku temukan jingga senja menggelayut syahdu
Ku temukan bayang wajahmu jiga disana
Mencari alasan untuk merindukanmu
Mencoba menemukan kata yang tepat untuk yakinkan dirimu
Dari balik jendela kereta
Ku merindukanmu.

Diatas kereta, stasiun citayam
28 agustus 2016
5.26

Sabtu, 13 Agustus 2016

Hujan

Siang ini aku akan berangkat ke bogor untuk mengambil beberapa lembar pakaian untuk bekal besok berangkat ke jogja, dari rawamangun mendung menggantung menyelimuti kota yang tak pernah terlelap ini.

Aku bersama kak Nung, aku mengendarai motor menyusuri jalan pramuka dan terjebak hujan beberapa rarus meter dari stasiun manggarai.

Tidak ada pilihan selain menerjang jutaan bulir air yang tak mamou melawan gravitasi itu. Aku tiba di gerbing kereta tepat 2 menit sebelum kereta berangkat dan lengkap dengan pakaian basah. Huufft. Dingin sekali.

Sati persatu stasiun ku lewati, setiap tasiunnya kereta berhenti beberapa menit, menurunkan dan menaikkan penumpang.
Entah krnapa, aku suka sekali kereta, sejak pengalaman pertamaku menumpangi alat transportasi yang tidak ku jumpai di tempat asalku ini.

Dari balik jendela, aku melihat orang2 distasiun berdiri dengan sabar menanti kereta mereka datang, mereka berdiri di belakang garis kuning. Melihat rumah2 berjejer rapi, spanduk, umbul-umbul dan juga bendera  merah putih yang berbaris distiap rumah. Oiyah ini bulan agustus bulan kemerdekaan.

Sudah di citayam, sebentar lagi bojong gede sampai.
Terimakasih hujan. Senang rasanya melewati perjalanan dalam hujan. Ibukota yang biasanya terik tadi sejuk sekali. Aku suka aroma tanah yang diguyur hujan. Aku suka aspal yang basah karena hujan. Ah hujan

Di kereta menuju bogor, 14 agustus 2016

Kamis, 11 Agustus 2016

Senja Tanpa pijar

Dari jendela kereta menuju kota hujan
Ku intip senja yang menggantung di atas gedung-gedung pencakar langit kota metro
Tak ada pijar matahari senja ini
Bulat, sempurna bulatnya
Oranye cantik sekali,
Secantik penutup hariku hari ini
Dari senja ada janji yang juga membulat
Untuk dapat menaklukkan hari esok
Menerima semua bercandaan waktu
Menyerahkan yang terjadi pada takdir
Namun tak menafikkan peluh
Begitulah senja
Memberi hiburan sederhana bagi para penikmatnya
Dengan tidak melulu berpijar
Namun juga dengan bulat sempurna
Hingga kitapun sadar, bahwa menjadi berbeda kadang diperlukan.

Depok-Bogor
11-08-16

Rabu, 10 Agustus 2016

Dengan alasan

Beberapa malam terakhir ini ada satu sesi pengantar tidur yang saya nikmati sekaligus saya khawatirkan untuk menjadi candu baru.

Sebenarnya bertukar cerita, mendengar dan (lebih banyak) didengarkan adalah cara saya untuk menemukan insight-insight baru, sara pandang baru, kekuatan baru, dan juga kebingungan baru. Dan saya menjalani ini tidak dengan banyak orang. Hanya orang-orang tertentu saja.yang mungkin punya kesukaan yang sama.

Setelah mendengar cerita, atau menceritakan pengalaman masa lalu saya hampir selalu menemukan kenyataan bahwa setiap apa yang terjadi pada diri kita memiliki setidaknya satu alasan mengapa kita harus mengalami hal-hal pahit itu, mengapa kita dipertemukan dengan orang-orang yang pernah mengisi hari-hari kita dan kemudian pergi, mengapa kita harus menemui kehilangan, merasakan sakit, memilih pilihan-pilihan sulit, dan mengapa2 yang lain.

Sesungguhnya. Semuanya kita alami dengan alasan. Hanya saja alasan yang kita fahami berbeda, atau mungkin berubah seiring berjalannya waktu. Maka tidak heran para tetua berkata *biarkan waktu yang menjawab*.

Alasan yang kita fahamipun berbeda terkadang kita bisa belajar memetik buah hikmah karena telah merelakan apa-apa yang terjadi dan juga tak jarang kita terkungkung dengan keyakinan yang kita bangun sendiri yang mungkin belum nampak kebenarannya.

Latihan melihat alasan2 inilah yang perlu dilatih dengan baik  Dan semoga kita termasuk yanh melihat alasan positif. :)

Bogor (yg katanya kota hujan tapi tetap panas)
*after nice long talk, 10 08 2016

Sabtu, 06 Agustus 2016

Mamak

Ini hari ke sepuluh aku meninggalkan rumah, meskipun sudah masuk tahun ke-11 ku merantau tetap saja homesick jadi penyakit akut, rindu akan kehangatan rumah selalu saja datang memberikan kehangatan tersendiri bagi kami, tiga bersaudara yang kini merantau ke tiga pulau yang berbeda. Entah mengapa, semakin hari, semakin saya merasa bahwa rumah adalah tempat pulang paling hangat, paling hebat, paling tepat.

Sama seperti kemarin-kemarin Mamak selalu menelfon kami semua setiap harinya, memastikan hal-hal kecil nan berarti, bertanya apa kegiatan kami, sudahkan kami makan 3 kali sehari, lauk apa sampai hal-hal detile lainnya. Dan itu ditanyakan setiap hari kawan.

Beberapa hari terakhir ini saya sadari betul, mamak dan Bapak sedang mencoba move dari kepergian kami ke masing-masing tanah rantau. Seperti kemarin. Padahal baru sore mamak menelfon, ketika Isya' Mamak mengirimkan pesan yang berhasil membangkitkan perasaan kami anak-anaknha, begini bunyinga "Bagaimana kabar anak-anakku sayang?", membaca pesan singkat ini menghangatkan sekali, seperti merasakan dekap hangat beliau yang tiba datang ketika kami tertidur. Ah Mamak.

Beberapa waktu lalu, sengaja ku hadiahkan smartphone untuk Mamak, pikirku, ya untuk sekali2 mamak besok lusa melihat wajah kami dengan aplikasi videocall.
Karena saat ini, kamipun sadar, mamak mendamba keberadaan kami. Harapan yang sulit kami aminkan.

Aku ingat betul sekitar dua tahun yang lalu, ketika kami semua terhubung pada telfon konverensi dari tempat kami  (anaknya) masing2 yang kami biasakan setiap dua minggu sekali mengingaat Kholis si Bungsu sedang berada di asrama dengan sederet aturan, kedua adiikku menggodaku tentang mengapa kakak mereka ini belum juga memperkenalkan sosok laki-laki yang sedang dekat dengannya kepada mereka. Tentu saja mereka bercanda.

Ku ingat betul respon mamak ketika itu menjawab pertanyaan usil kedua adikku. "Kakak kalian itu, hatinya sudah penuh dengan cinta untul kita berempat (Mamak,Bapak. Kedua adik) jadi belum ada space yang pas untul bisa dimasukin orang lain"
Ketika itu kedua adikku tertawa lepas sekali, seolah mengatakan 'benar juga ya', aku? Diseberang sini aku tersenyum lebar dan beberapa detik kemudian bulir2 bening itu tumpah. Aku bahagia, sebahagia miss universe yang baru saja mendapatkan mahkotanya. Aku terharu, betapa mereka mampu membaca yang selama ini ku upayakan sambil mengangguk ku iyakan.

Tanggal 27 Juli kemarin, Mamak Ulang Tahun, tak sempat ku tuliskan apa-apa diblog ini, selalu saja gagal aku menulis tentang sosok yang telah mempertaruhkan hidupnya untukku, bahkan sebelum kami bertemu. Bukan karena malasku, tapi setiap masuk pada scene2 tertentu tanganku seolah kelu, tak berkutik. Mungkin besok lusa tulisan itu bisa ku selesaikan.

Kami sayang Mamak, wahai wanita yang kasih sayangnya tak terbahasakan dengan hanya 27 huruf alfabet.

Rawamangun, 7 agustus 2016
1.27 WIB

Sederhana

Banyak hal sederhana yang bertahan sangat lama, kita mungkin tau betapa sederhana kehidupan sepasang kakek-nenek dalam film kartun yang berjudul up, tapi kita mengharu-biru bukan? Betapa mereka memelihara cinta dengan penuh kesederhanaan, penuh rasa "saling". Cinta mereka tak butuh pengakuan sejagad raya.

Kita juga mungkin kenal Sheila On 7, grup band yang terdiri dari beberapa orang dan sempat membius penikmat musik tanah air dengan lirik-lirik sederhana mereka di era 2000an, tapi lihat kesederhanaan lirik merekalah yang menjadi primadona sampai saat ini, menurut saya kesederhanaab lagu merekalah yang menjadi alasan eksistensi band yang dlhir di kota istimewa Jogja ini. Tema lagu mereka sederhana. Persahabatan, perjuangan, semangat, roman, putus cinta dan kawan-kawannya. Tema2 yang akan selalu hidup disetiap generasi.

Untuk para pecinta Novel, mungkin karya Ahmad Tohari salah satu karangan yang bertaha  karena kesederhanaannya. Penggunaan bahasa, pemilihan diksi, setting sampai nama tokohnya diramu sesederhana mungkin. Hingga tidak heran novel-novel karya Pria Ngapak satu ini tidak sulit dicari. Masih ada.

Di dunia pendidikan, lihat bagaimana pesantren-pesantren klasik yang mempertahankan pilar-pilar yang syarat akan makna kesederhanaan. Fasilitas, guru, sumber belajar. Tak banyak mencocokkan diri dengan perkembangan memang, tapi jangan tanya bagaimana mereka mengilhami ilmu. Menjaga betul apa2 yang diwariskan sang guru, tumbuh menjadi pribadi-pribadi menakjubkan dikemudian hari.

Begitulah hal-hal sederhana bertahan, akan tetapi pada peraturan keseimbangan yang telah diramu semesta, bahwa bebrrapa hal telah tertakdir sederhana, namun beberapa hal lainnya tercipta rumit dan butuh perhatian. Semoga kita bisa berlatih menempatkan pada keadaannya masing-masing.

Rawamangun, 6 august 2016

Rabu, 03 Agustus 2016

Outfit yang terancam

Outfit yang eksistensinya terancam karena tergilas regulasi
Setia menemani menginjakkan kaki ketika sekitar pergi
Outfit paling aman diajak berpetualang
Ah sayang sekali
Keberlangsungannya sedikit lagi punah
Karna kaki ini dalam beberapa kurun waktu menghindar dari gunung, menjauh dari air, dan bersahabat dengan paving huhh
Tapi tenang saja, tak kan kuajak kau tenggelam dan berjejer bersama sepatu berkelas sosialita
Kita tetap akan berjalan bersama, melewati kerikil ibu kota
Kau siap?
Baiklah

Cempaka putih, 3 agustus 2016

Senin, 01 Agustus 2016

Lantas, apa yang ku bisa?

Di bawah remang-remang lampu belajar
Aku duduk dibelakang meja belajar minimalis ini
Kupeluk hangat cangkir kopi toraja yang menggoda ini ditangan kiriku
Mencoba menyalurkan hangatnya dalam beku yang kusimpan lama ini
Di tangan kananku, pena tinta hitam
Persis di depanku, tergeletak selembar kertas putih bergaris merah jambu
Tapi..
Kau tak ada di sampingku.
Lantas?
Apa yang bisa ku tulis selain rindu?
Apa yang bisa ku baca selain jarak?
Apa yang bisa ku eja selain langkah gopohmu yang entah dimana.
Ku tinggalkan semuanya.
Karena ada banyak dongeng yang ku distorsikan menjadi hayal nyata.

Bogor, 2 agustus 2016
*inspiring by the couple

Sabtu, 30 Juli 2016

Do'a wanita

Ada sebuah gambar yang menurut saya baik untuk disimpan, dibaca tulisannya, dan diaminkan. Begini tulisannya

اللهم أجعلني
خير أبنة
و خير أخت
و خير زوجة
و خير أم
Artinya:
Ya Allah.. jadikan Hamba
Anak yang baik
Kakak yang baik
Istri yang baik
Dan Ibu yang baik

Menurut saya do'a ini adalah do'a yang baik untuk para wanita, do'a untuk setiap fase hidup seorang anak perempuan.

Do'a untuk menjadi anak yang baik adalah do'a pertama anak perempuan agar dirinya dapat menjadi anak yang menjadi alasan kebahagiaan bagi kedua orang tuanya, kebahagiaan dunia juga di akhirat, bukankah do'a anak yang baik adalah salah satu do'a yang tak akan terputus?

Menjadi kakak (perempuan) yang baik adalah lapisan selanjutnya dari harapan seorang anak perempuan. Baginya menjadi kakak yang baik adalah kebutuhan, menyayangi dan berkorban untuk adik-adiknya adalah keharusan bagi mereka. Bahagia adik-adiknya jadi kepingan bahagiannya juga.

Setelah menjadi anak dan kakak yg baik, seorang wanita akan menjadi istri bagi suaminya. Perubahan status ini tidak sesederhana merubah stats di tanda pengenal, tapi lebih dari itu. menjadi istri yang baik adalah tugas sepajang hayat. Yg beralih bukan hanya tempat tinggal, tapi juga ketaatan yang semula bertumpu pada orang tua sekarang menjadi pada suami, hidup tidak lagi melulu tentang dirinya sendiri tapi telah diikrarkan untuk menerima keter *saling*-an, menundukkan dan menyamakan ego. Tidak seperti kontrak dalam bekerja yang bisa ada jangka waktunya atau bisa berhenti sewaktu-waktu, peran istri kontraknya berat, tidak hanya dengan pasangannya tapi juga denga keluarga besar pasangannya, dengan Sang Penentu takdir. Dan do'a اللهم أجعلنى خير زوجة sepertinya menjadi do'a pengharap, agar dirinya selalu diberikan kekuatan, bimbingan serta petunjuk.

Bagi para wanita yang beruntung maka status selanjutnya adalah menjadi seorang Ibu. Menjadi sosok yang dituntut berbakat dalam multitasking mulai dari memasak, mencuci, mendidik, mengurus keperluan rumah, memberi dukungan terhadap pasangan juga anak2nya bukanlah proses yang tidak singkat, latihan yang terus menerus, dan proses yang harus dinikmati.
Menjadi Ibu berarti menjadi sekolah (madrasah) utama bagi anak-anaknya itu memberi syarat bahwa seorang ibu seyogyanya memiliki bekal yang cukup, dukungan yang memadai serta kesadaran penuh untuk menjalani peran sepanjang hayat ini. Dan do'a  اللهم أجعلنى خير أم (ya Allah jadikan hamba Ibu yang baik) adalah amunisi untuk para ibu

Rawasari, Jakarta Pusat
Diluar hujan deras
12 agustus 2016

Jumat, 29 Juli 2016

Menuju kota Hujan

8.14
Tebak aku sedang dimana? Aku sedang berada diantara ratusan manusia2 urban yang sedang penuh denga pikuk dunia. Iya stasiun kereta manggarai. Hei, lihat mereka yang baru saja dari kantor, dari sekolah, baru saja putus cinta, merajuk, kelaparan, bokek karena tanggal tua, menang tender, hamil, berbunga2, was2 karena esok akan sidang tesis, yang baru saja menang lotre, yang cemas karena esok akan mengutarakan cintanya. Ah, tak akan ada habisnya warna manusia urban ini.

8.59
Sudah duduk manis di salah satu kereta, butuh melewati beberapa srasiun untuk stasiun yujuan. Bogor. Semoga kota hujan itu bersahabat.
Baiklah kisanak, perjalanan akan kita lanjutkan. Benahi bekal2 kita karena perjajlanan di depan sana sangat menggelitik. Bersiap-siaplah untuk lelucon selanjitnya. Karena kota sedanh berada pada rute lucu kwhodupan.

9.36
Stasiun bojong gede, Bogor, perjalanan  ini hanya sebatas transit untuk perjalanan selanjutnya. Baiklah, bukankah semua tempat di bumi ini hanya tempat transit untuk perjalanan akhir kita?

Terimakasih untuk dua orang kakak yang telah bersedia saya repotkan. JazaakumaAllah

#alasankenapakitamudik
-cinikizai.wordpress.com
-samawainsight.blogspot.com
-mozaiknasional.wordpress.com
 

Kamis, 28 Juli 2016

Pengalaman pertama

Setelah seharian bergelut dengan proses daftar ulang di kampus, hari ini banyak pengalaman pertama, pertama ngejar2 commuterline, pertama memanfaatkan bikun, pertama sholat di masjid FIB dan  pertama nyicip macet yang bejibun. Pemanasan yang mengasyikkan.

Hari ini ditutup dengan nemenin Rafa (ponakan kk Nunk) belajar menulis, membaca, dan menggambar. Ah, anak2 selalu saja punya caranya untuk buat kita ketawa, pertanyaan usil dan tak berkesudahan, cerita menggemaskan, keusilannya. Ini yang selalu menjadikan dunia anak-anak penuh dengan warna.

Belajar malam ini ditutup dengan dongeng si pinokio  yang bertambah panjang hidungnya 5cm setiap berbohong. Si rafa tertidur persis setelah halaman terakhir dongeng dibacakan. Oiyah ini pengalaman pertamaku juga membaca dongeng untuk tidur. Oyee.., belajar mendongeng masuk ke to do list :D

Sungguh, pengalaman belajar pertama anak ada dirumah, sapaan orang tua dan saudara2nya, kebiasaan sekelilingnya. Rafa kecil sangat mandiri, mulai dari meracik roti tawar dengan susu, sikat gigi sendiri

Ah jadi ingat Bapak dulu, berdongeng setiap sebelum tidur, tanpa naskah dan penuh ekspresi.

Cempaka putih, 28 juli 2016

#alasankenapakitamudik
-cinikizai.wordpress.com
-samawainsight.blogspot.com
-mozaiknasional.wordpress.com
 

Road to *tanah rantau ke 5*

3.58 BIL, saya masih disini. Duduk di atas karpet hijau dengan gambar unik dibelakng saya. Menunggu transit selama 9 jam lumayan. Tapi ini baru 4 jam berlalu. Orang2 disampingku juga telah berganti berkali. Aku masih disini dengan petir si Dee dipangkuan yang berhasil ku lahap separuhnya. Luamayan menemani.

5.00 (masih) di BIL
Bertemu brother Abduh beserta bidadari dan juga pangeran kecil mereka Azzam, rumah mereka tidak jauh dari bandara. Ketika ku kabari keberadaan yang telah berjam2 dubandara, mereka datang dengan dua bungkus nasi balap (nasi super pedas khas lombok), ketika hendak keluar bandara ku lihat sekelibat seseorang yang ku kenal. Iys pak Doni. Dosen muda salah satu insporator ketika masih di jogja beliau. Ku kejar beliau ber"hai" dan salaing bertukar kabar juga kesibukan. Sebenrnya menghububgi beliau adalah salah satu to do list ku untuk berkonsultasi masalah studi, tapi karna sesuatu dan lain hal aku urung sampai pada akhirnya brrttemu dengan tidak sengaja tadi sore.

5.50 perjalanan menuju salah seorg kerabat untuk menumpang mandi sebelum melanjutkan perjalanan jam 8 nanti. Ah ada senja menggantung cantik diatas  bandara. Senja selalu saja berhasil mengundang jatuh cinta.

7.30
Ketika mengantri untuk check in seseorang menyapaku, ini karena jaket lpdp yang ku gunakan. *mbak lpdp ya?*, tanyanya. *iya, mbak juga?* aku bertanya balik. Akhirnya kami mengobrol sambil melakukan tahapan2 selanjutnya. Dari obrolan kami ku tau dia anak PK 17 baru pulanh dari London. Dan sedang melaksanakan tugas dinas di lombok. Eh namanya? Aku lupa. Ah, kemampuanku mengingat nama sangat payah

21.20
Arrived: Selamat datang di kota yang sempat aku enggan-i, yang pernah aku blacklist dari kota yang ingin aku kunjungi, pernah ku picingkan sebelah mata, pernah ku...ah, sudahlah..
Semoga kita dapat *saling* ya jak, hihi

Harusnya ini diposting kemarin, 27 juli 2016

#alasankenapakitamudik
-cinikizai.wordpress.com
-samawainsight.blogspot.com
-mozaiknasional.wordpress.com
 

Selasa, 26 Juli 2016

Belajar (bersabar)

Belajar (bersabar) sekarang, Belajar (bersabar) lagi, Belajar (bersabar) terus. Sepertinya inilah insight hari (yang terasa) panjang hari ini.

Pffttt...hari ini aku merasa menjadi makhluk antah berantah, mengawali lagi dengan kecemasan yang tingginya menjulang sangat tinggi. Apa yang aku khawatirkan? Heloo. Besok pagi2 sekali aku harus mengangkat ransel untuk kembali merantau tapi lihat persiapanku. Surat keputusan perpindahan belum terbit, tiket belum (berani) ku booking karena masih menunggu keputusan perpindahan, harus mengisi survei kesehatan online (ditengah sinyal yang ngajak gelut), harus mengaupload beberapa dokumen (yang sudahh berkali2 belm juga berhasil. Sampai denga kali ke 10 baru berhasil) padahal sudah bela2in ke kota kecamatan yang jaraknya sektar 30 menit jika ngebut. Kue tart yang belum dipesan, kontak cso tidak bisa dihubungi, koper yang tiba2 rusak, ada berkas yang keselip dan bikin panik, harus mengambil pesanan krupuk di desaa ujung nan jauh disana.
Lengkap sudah hari ini dengan segala apa2nya. Bahkan pallubutung yng di buat mamak untukku terasa pahit di tenggorokan. Moodku luluh lantah. Ingin rasanya menjadi plankton dan menceburkan diri ke laut belakang rumah. Hiks.

Jelang sore tadi akhirnya aku berhasil menghubungi narahubung tersebut, ku tanyakan satu persatu. Setelah menelfon titik terang datang satu persatu. Ku beranikan diri memesan tiket, berhasil memesan kue dan mendelegasikan si Ayu untuk mebgambil selepas magrib. Satu persatu beban tadi meleleh. Alhamdllah. Setelah terurai, aku bergegas ke rumah Imel sahabatku semenjak TK sampai sekarng, di rumahnya aku berbicara sendiri (semacam monolog) non stop. Dia menimpali dengan hanya tersenyum sendiri. Setelah selesai aku bercerita betapa uring2annya aku hari ini, dia menertawaiku. Begitu juga aku yang menertawakan diriku sendiri yang merasa ditertawi oleh lelucon hari ini.
Setelah kembali dari rumah imel, aku jauh merasa lebih tenang.

Hari ini aku merasa banyal selali yang haru ku perbaiki dari sisitem pengambilan keputusanku. Dipikirkan terlalu matang juga ada saja yang masih tdah terpikir.

Besok2 semoga dapat mengabil keputusan dengan cepaat dan tepat.

Senin, 25 Juli 2016

Menggambar peta dan henna

Bukankah setiap orang bisa menggambar? At least menggambar dua gunung dan satu matahari terbit di antar keduanya serta hamparan sawah. Iya, kita sudah sangat familiar dengan gambar andalan itu.

Saya sebenarnya menemukan sebagian sisi diri saya tentang menggambar. Kemampuan spasial dan visual saya bisa dikatakan sangat payah, kalian pernah belakar KTK (kerajinan tangan dan Kesenian) dulu ketika SD? Kalau iya, kalian harus tau bahwa di sekolahku dulu pada mata pelajaran tersebut menggambar, bernyanyi, membuat kaligrafi, (sesekali) memasak atau menari adalah kegiatannya. Tidak dapat dielakkan lagi, bahwa hari mata pelajsran KTK perutku sudah pasti mules. Tidak ada satupun dari kegiatan itu yang sesuai dengan saya yang ketika itu hanya mengoleksi rok dari seragam sekolah. Selebihnya reputasi rok terkalahkan oleh celana berkantong banyak.

Saya ingat betul bagaimana ketika itu ujian praktek akhir untuk kelulusan SD, guru kelas kami memberikan tugas menggambar sebagai tugas akhir, menggambar bebas diatas kertas karton, dan dinilai sebagai nilai akhir ujian KTK. Bagaimana mungkin aku menggabar dua pohon itu (lagi dan lagi)?, karena kami tinggal di daerah pesisir, maka teman2ku menggambar aneka kapal, mulai dari kapal pinisi sampai dengan perahu tonda lengkap dengan seorang nelayan yang sedang menyebar jalanya. Indah sekali. Saya? Jangan tanya bagaiama  gelisahnya saya ketika ituu, makan tidak enak, tidur tidak nyenyak.
H-7 deadline pengumpulan saya belum juga menemukan inspirasi dalam menggambar. Dan entah mendapat ilham dari mana saya memberanikan diri menghadap ke guru kelas dan meminta ijin untuk todak menggambar makhluk hidup, kapal, pemandangan dan sejenisnya. Melainkan peta. Hahaha

Ketika itu dibenakku hanya satu peta, yaitu benua Australia. Entah mengapa sejak belajar nama, peta, negara bagian dari benua ini aku jatuh cinta. Sampai sekarang masih berharap bertandang atau tinggal disana, semoga.

Guruku mengaminkan keinginan itu, setelah ku yakini beliau bahwa aku punya dua alasan memilih menggambar peta benua, pertama karena ketidak mampuanku menggambar objek2 gambar pada umumnya, kedua karena menurutku membuat peta lebih bermanfaat. Alibi :D, jangan tanya berapa lembar kertas yang ku habiskan untuk bsrlait. Tak terhitung. Mencocokkan lekukan dan garis melintang dan membujurnya. Dan akhirnya selesai juga. Menurutku ketika itu peta yang ku buat lumayanlah untuk mengapresiasi diri sendiri. Tapi sayang tidak ada moment dalam foto.

SAaat ini apapkah kemampuan menggambarku membaik? Ku rasa juga belum. Tapi taukah kalian selama dirumah, aku punya pekerjaan baru yakni melukis henna ditangan temanku, adek2ku, atau siapa saja yang ingin digambari punggung tangannya. Jadilah aku henna maker mendadak. Tapi tenang saja, saya tidak akan menggambar benua Australia untuk mereka.

Senang rasanya bisa menggambar diatas punggung tangan mereka, melihat bahwa setiap orang punya bakat terpendam. So never give

#alasankenapakitamudik
-cinikizai.wordpress.com
-samawainsight.blogspot.com
-mozaiknasional.wordpress.com
 

Minggu, 24 Juli 2016

Jogja


Ah, Jogja, selalu penuh dengan romantisme
tidak habis diceritakan, tidak berakhir dieja, dan tak berujung rindunya.
Kata orang komposisi jogja itu banyak
ada cita, cinta, rindu dan kenangan
jogja tersusun dari kepingan itu semua

Ah Jogja, bercerita tentangnya seolah merasa hidup kembali hidup bersama remang-remang pijar lampu jalanan
mencium aroma manis dari seduhan kopi angkringan
atau kembali merasa nyaman sapaan juga senyuman si mbah di ujung gang.
Ah Jogja.
****************************************************************
Kapan terakhir ke Jogja? Sekitar maret lalu, mampir untuk sekedar meniup lilin angka 23 di tanggal 31. Iya, terakhir ke jogja memang untuk sekedar mampir sebelum ke Bandung tempo hari.

Sampai sekarang saya masih mencari alasan mengapa jogja berhasil menguasai alam bawah sadar sebagai tempat pulang kedua untuk mencari kenyamanan setelah rumah, tapi daripada sibuk mencari alasan lebih baik saya putuskan untuk menikmati setiap senti rindu yang selalu datang menggoda saya untuk membuka lembaran-lembaran foto dengan senyum manis di jogja, tempat mengahbiskan sore dan senja, burjo si aa depan kos dan menikmati romantisme itu. Ah jogja.

H+2 lebaran kemarin, sepupu-sepupu saya yang tinggal dikabupaten tetangga juga mudik. Malam itu kami habiskn untuk saling bertukar cerita diteras didepan rumah, bercerita tentang satu kota yang kami jatuh-cintai bersama. Mulai Bapak yg membersamai Jogja ditahun 80an, Mas Roni di tahu  2000an, mas Doni (yang memberi nama Dini padaku) ditahun 2005an, aku ditahun 2011an, Ayu ditahun 2012an dan terakhir Ewi tahun lalu. Nampaklah muka Jogja sari tahun ke tahun, perubahan dari satu titik ke titik lain, mulai dari pengendara sepeda onthel yang tak terbilang jumlahnya sampai dengan hanya hitungan jari. Mulai dari hanya malioboro sampe hartono. Ah Jogja. Lihat betapa mereka yang bahkan telah meninggalkanmu puluhan tahun masih menyimpan namamu di hati mereka, mengendapkan memori tentangmu di sepersekian alam bawah sadar mereka.

Esok lusa akan ku sambangi kau kembali. Seperti nyanyian yang selalu dinyanyikan oleh mereka yang cintanya jatuh padamu.
"Ijinkan pulang lagi, bila hati sepi tanpa terobati"

Merindu Jogja, 24 Juli 2016
alasankenapakitamudik
-cinikizai.wordpress.com
-samawainsight.blogspot.com
-mozaiknasional.wordpress.com
 

Sabtu, 23 Juli 2016

Selamat hari nasionalmu, nak.

Menangkap kupu tidaklah menggunakan jaring, karena akan merusak sayap-sayap cantiknya, jadilah bunga yang indah, maka kupu-kupu akan mendatanginya dan kaulah pemilik kupu-kupu itu.

Selamat hari anak nasional.

Selamat hari anak Indoonesia untuk seluruh anak negeri. Semoga orang dewasa sadar bahwa dahulu pernah menjadi anak yang mendambakan rasa aman, tuntunan, kasih sayang juga masa depan yang gemilang. Amin

Saya belum sempat mencari landasan historis mengapa hari ini ( 23 Juli) ditetapkan sebagai hari anak nasional, sayapun mengetahuinya dari heboh perbincangan di televisi tentang tantangan, potensi, masalah dan solusi tentang anak di Indonesia. Heboh sekali diperbincangkan, semoga membawa angin segar bagi anak. Tidak hanya menguap begitu saja.
Ada banyak sekali definisi anak yang bertebaran di tengah hiruk pikuk manusia dewasa ini, di sisi sana berkata bahwa anak adalah titipan Tuhan untuk menjadi tanggung jawab kita, ada juga yang bilang Setiap anak dilahirkan ibarat kertas putih -begitulah sekiranya faham nativistik memberi definisi tentang anak-, selain itu ada juga diartikan sebagai investasi untuk kedua orang tuanya. Apapun itu, kita semua sepakat bahwa masa anak-anak adalah masa dimana setiap orang mendapatkan pengalamannya pertamanya tentang banyak hal di dalam fase hidupnya, mulai belajar, berbicara, bersosialisasi, mengenal ekspresi, mengenal intuisi dan masih banyk lagi mengapa masa kanak-kanak menjadi sangat istimewa, maka tidak heran para ahli menyatakan masa ini masa golden age.

Masa anak-anak seringkali disalah-artikan sebagai masa sekolah semata, orang tua menyerahkan pengawasan anak sepenuhnya kepada sekolah dan guru. Padahal jelas sekali tiga pilar pendidikan yang selama ini menjadi maskot yakni orang tua, guru, dan lingkungan. Terlebih saat ini tantangan zaman semakin keras, perkembangan teknologi, pergaulan bebas, faham-faham, dan tantangan-tantangan lain yang memaksa kita lebih kokoh dari zaman dahulu, anak-anak lagi tidak bermain kulit daun jeruk bali, tapi gadget yang dapat mengakses dunia secara bebas. Dari gadgetnya anak-anak bisa mendapat informasi secara bebas, tanpa filter yang akurat. Sekali saja kita-sebagai orang tua, saudara, tetangga, keluarga, guru- lengah maka apa kabar anak-anak di masa akan datang?.

Orang tua, guru dan masyarakat sejatinya sahabat, teman bermain, pendengar, partner dan tuntunan bagi anak, orang tua sebagai pemegang kunci pengasuhan berperan penting di dalam membentuk rasa aman dan pemenuhan kebutuhan mendasar bagi anak seperti kontak fisik, intuisi, dan perhatian, sehingga sebelum seorang anak keluar rumah dia telah “selesai” dengan dirinya sendiri. Pengawasan terhadap bagaimana anak memanfaatkan teknologi, berteman dan komunikasinya juga PR bagi orang tua untuk menjadi perhatian penting, bukankah kita mendambakan anak-anak yang punya kepribadian yang menakjubkan? Dapat bermanfaat? Menajdi pengobat hati? Menjadi yang sholeh yang mengalirkan do’anya untuk kita kelak?.

Keluar dari rumah menuju sekolah, disanalah anak-anak mendapat bekal keilmuan, pengetahuan dan budi pekerti juga teman. Dari sekolahlah anak tau ilmu haruslah berjalan beriringan dengan kejujuran, tanggungjawab, kedisiplinanan dan juga kerjasama. Tidak mudah memang, tapi guru yang mentrasfer “rasa” bukan hanya ilmu akan menuai anak yang juga mengerti lebih dari ilmu tapi juga tanggungjawabnya sebagai orang berilmu.

Kemudian, masyarakat? setelah keluar dari rumah dengan “diri”nya yang telah utuh dan berbekal pengetahuan dari sekolah, lantas dimana anak hidup berkembang? Dimana anak akan beraktualisasi? Dimana lagi jika tidak di masyarakat lingkungannya. Maka disinilah anak mendapatkan haknya sebagai manusia yang berkebutuhan terpenuhi. Masyarakat yang madani adalah representasi masyarakat sehat untuk tumbuh kembang anak. Bagaimana bentuknya? Sederhananya adalah masjid yang ramai ketika waktu sholat, gotong royong bersih kampung,  menjenguk tetangga yang sakit dan seterusnya.
Kitalah sebenarnya bunga itu, tak perlu kita semua menjadi jaring kuat yang kemudian akan merusak sayap mereka (anak), mari jadi bunga indah untuk mereka hinggapi dan nikmati sarinya
23 juni 2016

#alasankenapakitamudik
-cinikizai.wordpress.com
-samawainsight.blogspot.com
-mozaiknasional.wordpress.com
 

Rabu, 20 Juli 2016

Main bareng, bukan jaim bareng

Beberapa hari terakhir ini dua sahabat ku semenjak TK dulu selalu “nongol” ke rumah dan selalu ada saja yang berhasil kami lakuin bareng, mulai dari wacana reuni temen-temen SD yang kemudian hanya sekedar wacana karena kebanyakan dari temen SD kami sudah sibuk dengan pasangan, anak dan pekerjaan masing-masing sampai dengan bernostalgia tentang kenangan-kenangan gila masa ingusan belasan tahun lalu.

Imel dan Ink (Irma) dua orang inilah mereka, sebenarnya personil geng kami waktu itu sekitar 7 orang, SD kami telah banyak berubah, pohon-pohon rindang  tempat kami bermain belle (lompat tali) dulu sudah berubah menjadi bangunan kelas baru, kolam ikan mungil di depan kelas sudah menjadi lebih besar, tidak ada lagi lapangan luas tempat dulu kami bermain bola, bak pasir tempat lompat tinggi dan lompat jauh, tapi yang masih ada beberapa yang sama yaitu guru-guru kami yang sekarang telah masuk paruh baya, ibu yang jualan kue dan nasi bungkus setiap pagi juga masih sering ku temui di depan sekolah lengkap dengan varian kuenya yang tidak berubah, jenis, rasa dan ukurannya masih, sama beberapa kali jika kebetulan lewat aku sempatkan untuk membeli, hanya untuk bernostalgia dengan jajanan pengganjal perut sebelum upacara waktu itu.

Berada bersama dua orang ini beberapa hari terakhir dan malam ini mereka menginap bersamaku di rumah, sebenarnya tidak ada yang berubah secara signifikan dari pertemanan kami. Meskipun bertahun-tahun berpisah karena pilihan masing-masing, rasanya tetap sama. Tak perlu bercerita panjang lebar tentang apa yang kita rasakan karena pasti sebelum diceritakan mereka sudah tau bahwa sdang ada masalah, siapapun itu. Begitu juga sekarang, sepanjang hari kami berkhayal bersama, merangai nama anak-anak kami kelak, merencanakan reuni keluarga (ah, ini futuris banget) sampe rencana menjadi besan hahah :D

Sebenarnya tidak ada tema perkumpulan kami, segala hal diceritakan, masalah kekasih mereka, masalah adik-adik mereka, pilihan-pilihan yang kita hadapai dan banyak hal-hal ini, tapi tema pertamalah yang dominan mengingat mereka berdua sedang menjalani masa-masa Long Distance Relationship jadilah terkadang aku harus rela ditinggalin bengong sendiri ketika mereka masing-masing di telfon yang nan jauh. Aku? Ah abaikan, apalah aku yang sering dibully gara-gara sampai saat ini belum berhasil memperkenalkan satu orangpun kepada mereka berdua. Tunggu yang girls, tunggu waktu dan orang yang tepat, alibi. Dari merekalah aku banyak belajar, dari cerita mereka, dari curhat mereka, dari kejadian-kejadian yang mereka alami. Kadang juga setelah membully dan curhat mereka seringkali menutup dengan statement “ntar kamu langsung nikah aja chynt, gak usah pacaran”, aku haha-in aja  sambil mengiyakan dalam hati :D

Apa aja yang berhasil kami masak dalam beberapa hari ini? Brownis dengan Irma sebagai chef utamanya, ikan bakar ba’basa’, ote-ote, dan banana smooth. Lumayanlah untuk jadi  #alasankenapakitamudik. Malam ini dtutup dengan maskeran berjamaa’ah, ah cewek.

Ah, sahabat emang gitu, main bareng bukan jaim berang.

#alasankenapakitamudik
– cinikizai.wordpress.com
– samawainsight.blogspot.com
– mozaiknasional.wordpress.com

Anak Pesisir

Anak pesisir,
Belajar luas, seluas samudra
Belajar menjadi luas dalam merasa
Tak asin hanya dengan segenggam garam
Tak manis hanya karna sesendok gula
Tak juga keruh hanya dengan seonggok lumpur
Menyimpan kekayaan tak terlihat manusia
Dalam tempatnya, tak nampak jeas kecuali bagi mereka
Bagi mereka yang juga mencari.

Anak pesisir,
Belajar kokoh, sekokoh karang
Tak peduli sekras apa ombak menghantam
Tak merasa tersakiti setiap hempasannya
Tetap kokoh, perkasa, tapi berwibawa
Karang membiarkan dirinya tak sempurna untuk tetap bertahan
Kokoh berdiri tanpa menafikkan keberadaan yang lain

Anak pesisir,
Belajar ketidakpastian dari alam
Dari hujan yang tak tentu turunnya
Dari angin yang kadang salah terka arahnya
Dari malam yang dinginnya sampau tulang
Dari bintang yang kadang tertutup awan
Dari bulan penerang yang juga kadang tertutup mega

Anak pesisir,
Siap tersebar, seperti pasir
Menyebar, menyebarluaskan kebaikan
Memberi manfaat
Tak menjadi rintangan bagi mahluk lain,
Bahkan ditinggali karna hangatnya
Didatamgi karena ketenangnnya.

Anak pesisir,
Belajar jarak dari perjalanan yang ditempuhnya
Belajar tangguh ditengah ombak
Belajar spasi dari bulan
Ketika rembulan, anak pesisir belajar menepi
Tak ada kompromi
Begitulah adanya
Belajar bahwa, sejauh apapun berlayar
Berhenti sejenak untuk kembali merindukan ombak dan malam selanjutnya
Berhenti adalah bahasa semesta, untuk dipelajari
Bahwa setiap permulaan akan ada akhirnya

Anak pesisir,
Belajar menepi pada bibir dermaga
Belajar tentang waktu yang tepat akan dtang
dan layar dapan dikambangkan
belajar tentang suara alam

anak pesisir,
mencatat pelajarannya di dalam benak tajamnya
bahwa, rumah adalah tujuan pulang
dimana kehangatan didapatkan.
karna samudra terkadang menguji.

anak pesisir yang (terus) belajar.
19 juli 2016

#alasankenapakitamudik
-cinikizai.wordpress.com
-samawainsight.blogspot.com
-mozaiknasional.wordpress.com

*inilah senja anak pesisir, indah bukan? 

Senin, 18 Juli 2016

Tak berkeping

Tak pernah berkeping
Rembulan tak pernah berkeping
Nampak sama dibelahan bumi manapun, dia tak pernah berkeping
Hanya satu, menyatu, bulat nan sempurna
Nampak putih bersahaja
Kadang nampak sendiri, kadang ditemani bintang
Malam ini rembulan. 
Hanya tertutup sedikit awan tapi tetap  terlihat annggun
Dibalik nyiur pohon kelapa tepi pantai
Rembulan terlihar malu-malu.
Telah ku bujuk angin memindahkan awan samn saja


#alasankenapakitamudik
– cinikizai.wordpress.com
– samawainsight.blogspot.com
– mozaiknasional.wordpress.com

Some

Sometime,
problems come to show us that we have a lot of friends
Problems come to teach us to be stronger
Problems come to remind us that being strong is the only choice
Problems come for the reason of our survive
Somewhere,
We need to go somewhere to know that the word is wide
We need to travel somewhere to see how small we are
We need to leave somewhere to know how meaningfull it is
We need to move into somewhere to aware that we can do somechange
Somebody
We need to meet somebody to remind us that we are perfectly imperfect
We need to forgive somebody because happiness is our right
We need to forget somebody to let somebody else complete your soul

#alasankenapakitamudik
– cinikizai.wordpress.com
– samawainsight.blogspot.com
– mozaiknasional.wordpress.com

-

Minggu, 17 Juli 2016

Rumah, Kholis dan Robbany

Dua hari belakangan ini rumah kami drastis sepi, si Bungko Kholis harus kembali ke asramanya, kembali menghafalkan ayat-ayat Suci Sang Rahman, hadits warisan baginda Ummat, mahfudzot syarat makna, muthalaah penuh hikmah dan sederet ilmu yang tak ada habisnya untuk ditenggelami, kholis kembali pada rutinitasnya sebagai penuntut ilmu di atas tanah yang kami sebut *Bunda Robbany*.
Sabtu kemarin, sebelum berangkat Kholis seperti biasa memperlihatkan sifat manjanya padaku, memelukku erat dan mengalir bulir-bulir bening dari kedua matanya (ah, adik tetap saja adik. Tak peduli setangguh apapum dia terlihat di luar rumah akan tetapi ketika kembali adik tetap saja adik). Berkali-kali ku tepuk bahunya, menguatkan, sembari ku bisikkan padanya penguat-penguat menjalani hari jauh dari rumah, jauh dari Bapak juga Mamak, dari kami kakak-kakaknya, aku tau penguat itu mungkin terdengarbiasa saja tapi aku yakin kata-kata yang kami bisikkanlah obat lelahnya di tanah rantau.

Kurang lebih tiga minggu di rumah, kehangatan yang menjadi #alasankenapakitamudik benar-benar merangkul kami dengan sempurna, bagi kami- keluarga kecil yang hanya lengkap ketika ramadhan- moment ini adalah moment paling dinanti, moment manis, moment yang menjadi alasan kami rindu rumah kami, rindu tanah kelahiran kami, moment ini seolah memanggil kami untuk selalu kembali ke rumah kembali mendapat pelukan hangat, tertawa renyah sekali, membahas hal-hal konyol di antara kami, bernostalgia dengan kebiasaan-kebiasaan masa kecil kami, sholat berjama'ah dan saling mengaminkan, tadarrus bersama dan saling menyimak dan tashih, mamak yang masak menu-menu favorit kami bergantian, jalan pagi2 ba'da shubuh dan menyaksikan matahari terbit berlima, gotong royong berberes rumah hari-hari  sebelum lebaran, ah, manis sekali kebersamaan ini. Bersamai kami Ya Rabb, bersamakan kami di JannahMu kelak. Aamiin

Kholis adikku, berangkatlah kau kesana, nikmatilah setiap keharusanmu  bangun pagi kemudian menyentuh air midho'a dengan kantuk yang menyiksa, nikmatilah setiap mufrodhat/vocabularies bahkan muhadatsah  yang kau dapatkan setiap pagi, nikmatilah piring-piring nasimu dengan lauk paling nikmat karena kau menyantapnya ketika lapar tak lagi bersahabat, nilmatilah kewajuban2mu terhadap hafalan yang harus disetorkan selepas maghrib dihadapan para gurumu, nikmatilah soremu disana, sore dengan senja menawan lengkap dengan suara sayup dari corong masjid Abwab Arrahmah dan menutup hari dengan takbir dan tahmid. Nikmatilah sayang. Karena esok lusa ketika kau tak lagi disana, rindumu akan sangat membuncah.

Kholis adikku, arungi perjalananmu dengan bekal prinsip yang kau miliki, bertemanlah dengan banyak orang, dengarkan kisah menakjubkan mereka, bacalah deretan buku2 di maktabah karena disanalah bermuara hikmah juga pengetahuan. Hargai dan hormati guru-gurumu karena merekalah perantara yang Allah pertemukan denganmu untuk bekal ilmu dan amalmu.

Kholis adikku, esok lusa jika kau rindu rumah, berdo'alah karena do'alah tali terkuat untuk menyampaikan rindu-rindu kita, yakinlah bahwa rindu kita bersua diatas arsy dan saling mengaminkan.

Kholis adikku, sampaikan salam rindu kakakmu ini kepada tempat itu, kepada surau disana, kepada guru-guru disana, kepada para asatidz dan asaatidzaat, kepada maktabah tempatku menghabiskan sore, kepada math'am tempat kita memperbaharui energi. Sampaikan salam tak terbatas untuk Bunda Rabbany.

Sudah malam, dirumah kakak nonton tv sendiri, biasanya kita bertiga nonton sambil menjaili satu sama lain. Kakak mengantuk. Kita lanjutkan besok ya :)

Rumah, 17 juli 2016

#alasankenapakitamudik
- mozaiknasional.wordpress.com
- cinikizai.wordpress.com

Sabtu, 16 Juli 2016

L.u.(p).k.a

Kata mereka tak akan ada luka yang sempurna terobati
Katanya, Pasti akan menyisakan rasa
Tapi apakah tidak mungkin kita melupakan luka?
Terimakasih atas luka,
Luka yang kau tinggalkan tak bisa ku katakan telah terobati
Tapi paling tidak ia telah mengering
Dan kau tau?
Tidak hanya mengering, dia juga tak dapat merasakan luka-luka yang lain.
Itu kenapa jika kau datang lagi
Mungkin ku akan ingat kau
Tapi tidak dengan rasa, apalagi luka.
Terimakasih telah meninggalkan luka
Dan mengajarkanku melupakan luka.

16 juli 2016

alasankenapakitamudik
- mozaiknasional.wordpress.com
- cinikizai.wordpress.com
- samawainsight.blogspot.com

Jumat, 15 Juli 2016

Fi ayyi ardhin tazro'

Beberapa hari yang lalu, Kholis dan Bapak memanen sawo di halaman rumah kami. Tidak banyak pohon yang tumbuh di sekitar rumah, mengingat rumah kami sangat dekat dengan laut, tidak banyak tumbuhan yang bisa hidup di kadar garam  dan ketika air laut pasang maka bisa dipastikan selokan besar di depan rumah juga ikut penuh.
Sawo adalah satu-satunya pohon yang produktif di halaman, sejak dulu momen memanen buah sawo adalah momen yang special menurutku, pertama karena kami memanennya bergotong royong berlima (Bapak, Mamak, Saya, Ewi dan Kholis) dengan tugas masing-masing. Kedua, karena rasa buahnya, sama dengan sawo pada umumnya, sawo kamipun bertekstur sedikit kasar dan manis, akan tetapi yang menajdikannya istimewa adalah ada sedikit rasa asin disetiap gigitannya, jadi sensasi manis-manis asinnya lah yang menjadikannya istimewa.
Kenapa tulisan ini saya beri judul “fi ayyi ardhin tazro’ (di atas tanah mana kau menanamnya)” ? sawo asin di halaman rumah itu mengingatkan saya akan nasehat Buya Zul (the man who I admire so much) tentang tanaman dan tanah, salah satu nasehat yang paling terngiang adalah analogi beliau tentang pertumbuhan tanaman di tanah dengan menganalogikan tumbuh kembang manusia di lingkungan sosialnya. Beliau selalu menekankan bahwa anak didik yang telah menyelesaikan masa belajarnya di intitusi tertentu bukanlah barang yang siap memenuhi ekspektasi orang tua dan masyarakat secara utuh, melainkan mereka masih harus terus berproses, nah proses selanjutnyalah yang menentukan mereka mampu bertahan hidup atau tidak. Beliau menganalogikan seperti ini, anak-anak yang dididik di sekolah atau pesantren ibarat benih yang sedang disemai, sebelum ditanam di ladang, sawah ataupun kebun tertentu.
Setelah proses pembibitan maka keadaan tanah sawah tersebutlah yang akan menentukan si benih yang ditanam akan subur atau tidak, akan berbuah dengan baik atau tidak, akan rindang atau tidak. Sawah yang tanahnya gembur, airnya cukup, sinar mataharinya memadai akan menjadikan benih yang ditanam tumbuh dengan baik, berbuah dan rindang, akan tetapi tanah yang gersang dan kering akan menjadikan benih yang ditanam juga pertumbuhannya lambat, berbuahpun tidak sebanyak yang ditanam di tanah sebelah. 
Seperti tumbuhan, begitulah manusia yang tumbuh kembangnya dipengaruhi oleh lingkungan tempat dia berada, meskipun hal ini tak selamanya mutlak adanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan memberikan pengaruh terhadap tumbuh-kembang sesorang. Seseorang yang lahir, besar dan berkembang di lingkungan yang positif akan menerima afirmasi-afirmasi berbentuk positif yang kemudian membentuk pribadi yang juga positif. Hal ini sepertinya juga berlaku untuk sebaliknya.
Fii ayyi ardhin tazro’, sama halnya dengan sawo di halaman rumah yang asin karena kandungan garam tanahnya, sikap toleransi, saling menghargai, gotong royong,  jujur dan sikap-sikap lainnya juga didapat dari perlakuan lingkungan terhadap diri seseorang. Mari berkontribusi terhadap lingkungan positif untuk orang lain Karena…
There are many good people in the word, if you cant find one, be the one.

#alasankenapakitamudik
- mozaiknasional.wordpress.com
- cinikizai.wordpress.com
- samawainsight.blogspot.com

Rumah, 15 Juli 2016

Rabu, 13 Juli 2016

Nasehat la Bungko

Saya lupa awal pembicaraan ini, saya juga bingung kenapa pembicaraan ini mengalir dan saya aminkan.
Sore itu saya bersama si Bungko/bungsu (kholis) berbincang2 di teras rumah, kholis adik bungsu saya yang berumur 15 tahun dan sekarng sedang menikmati masa-masa nyantri di salah satu pondok pesantren kabupaten tetangga. Dia masih kelaas 3 SMP (menurutku terlalu dini) untuk membahas ini :D
Begini kira2 isi percakapan kami:
Kholis: kaka Dini , nanti kalo nyari suami itu yang anak pertama ya.
Saya: emang kenapa Bang?
Kholis: anak pertama biasanya tanggungjawab terus penyayang
Saya: (bengong) terus?
Kholis: jangan cari yang gila sama pekerjaan,
Saya: maksdnya? Kan namanya juga sudah amanahnya seperti itu (memancing)
Kholis: iya kak, kerja ya kerja, tapi keluarga kaka besok harus jadi prioritas, besok pasti kaka dini bakal kerja diluar rumah. Kalo kalian berdua gila kerja, anak kalian sama siapa? Siapa yang didik?
Saya: (kaget, ini anak dapet ilham dari mana), kan kaka dini nanti gak sepanjang hari kerjanya, bakal lebih banyak di rumah dek.
Kholis: iya, itu kaka ngomongnya sekarg, kan gak tau besok2 gmana.
Saya: okdeh, adalagi?
Kholis: kaka kalo bisa nyari yang humoris, yang enak diajak ngobrol. Kakak liat aja kita keluarganya banyak. Kalo dia nggak bisa masuk ke keluarga kan repot. satu lagi kak, dia wajib taat agama dan sayang sama kaka
Saya: (kali ini saya benar-benar speechless), do'ain ya Bang :).

Pembicaraan kami berakhir disitu karena tiba2 mamak muncul dari arah ruang tamu.

Ah, Kholis. Terlepas dari isi pembicaraan si Bungko di atas, Sejak dulu dia tidak pernah berubah. Seperti terlahir akselerasi. Pemikirannya kadang susah ditebak. Selalu bertingkah manja padaku juga Ewi (si anak tengah) banyak hal-hal kecil dari tingkahnya yang buat kami semua merasa *that he loves us with all his heart* misalnya selepas sholat berjamaah dia tiba-tiba akan berbaring dipangkuanku dan meraih tanganku untuk diletakkan di atas kepalanya, atau tiba-tiba mencium pipi kami satu persatu.. ahh tingkah macam ini sangat cukup menjadi #alasankenapakitamudik.
Anyway point penting pemvicaraan diatas dibahas kapan2 ya hihihi

#alasankenapakitamudik
-mozaiknasional.wordpress.com
-cinikizai.wordpress.com
-samawainsight.blogspot.com

Minggu, 10 Juli 2016

Perpindahan

Sebenarnya beberapa hari terakhir pikiranku dikuasai oleh makhluk satu ini. "Perpindahan".
Mengapa begitu rumit dan butuh banyak alasan? Bukankah banyak hal yang dipilih tanpa alasan yang difahami benar oleh penonton dan pembaca? Bukankah si lakonlah yang faham betul mengapa ia harus menangis tersedu atau tertawa terbahak?
Ah perpindahan, 
Mengapa harus menyisakan pilihan-pilihan sulit?
Tak cukup rumitkah semesta menggiring kita pada muara-muara yang harus diperjuangkan?
Disadari betul bahwa perpindahan ini kita yang lakoni dengan satu yang Maha Berkendak. Tapi memilih dari dua hal yang sama kuatnya adalah hal sulit. Apalagi alasan yang dilemparkan lumpuh atau mungkin jadi boomerang untuk diri sendiri.
Ah perpindahan.

#alasankenapakitamudik
-mozaiknasional.wordpress.com
-cinikizai.wordpress.com
-samawainsight.blogspot.com
12 juli 2016, ditemani bau tanah selepas huja  sore tadi

Cerita burasa'

Sudah lama sekali mangkir dari #alasankenapakitamudik, sebenrnya banyak sekali yang bisa diceritakan dihari-hari terakhir ini, mulai dari berburu sinyal, perpindahan, sawo asin sampai burasa' part II.
Oiyah, kalian tau burasa'? Semacam makanan khas orang-orang bugis yang menjadi ikon lebaran. Mungkin di tempat-tempat lain juga ada makanan jenis ini tapi berbeda nama.
Well, burasa' dibuat dari ketan yang dicampur dengan santan (yg sudah dimasak) kemudian di bungkus dengan daun pisang, ada dua jenis daun pisang yang digunakan, pertama daun pisang yang masih muda atau pucuk sebagai bungkusan pertama, nah bungkusan pertama ini ukurannya kecil, sekitar dua-tiga jari dan yang kedua daun pisang yang sudah agak tua dan lebar untuk membungkus beberapa bungkusan kecil menjadi satu.
Bungkusan besar inilah kemudian yang diikat dan dimasak dalam waktu lama, kalian tau berapa lama menunggu untuk burasa' agar bisa disantaP? 6-8 jam vroh, lumayan lama bukan? Tapi apalah arti menunggu untuk sesuatu yang menjadi #alasankenapakitamudik :D.
Selain di masak dalam waktu lama, makanan satu ini juga dimasak dengan tingkat panas (besar api/suhu) yang standar, tidak besar juga kecil, sekali saja pengaturan besar api tidak stabil, maka alamat burasa' akan gagal. Bayangkan bagaimana rasanya melewati proses pembuatan, menunggu tapi kemudian hasilnya gagal karna proses yang salah? Ah, apalah kita manusia hanya bisa berikhtiar (ini ngomongin apa sih?) Haha.
Burasa' biasanya disantap bersama pejabu' (abon ikan) atau dengan poteng (tape ketan), lebih nikmat ditemani secangkir teh hangat, dan dikelilingi orang-orang tersayang.ahhh...... kelar perkara :D
Sebagai gadis Bugis (yang hilang), membuat burasa di setiap lebaran baik idul fitri ataupun idul adha adalah tradisi yang dirindukan, bagaimana tidak, setiap pembuatan buras kami sekeluarga berkumpul didapur mengerjakan tugas masing (semacam latihan tim sesuatu), biasanya aku dan Ewi (si anak tengah) mengisi daun kecil, Kholis (anak bungko/bungsu) mengatur daun2 yang sudah terisi, Mamak menyusun yang kecil menjadi bugkusan besar, dan Bapak yang mengikat, ini tugas yang ajeg, berkali-kali aku mencoba mengatur kedalam yang ukuran besar ada saja kurangnya, begitu juga ketika mencoba meningat selalu saja kurang pas, kalo bukan kendor ya kekencengan. Oiyah gaes, mengikat burasa' juga ada tekniknya lho, harus pas, tidak terlalu lingfar juga tidak kencang, karna jika kendor bisa dipastikan buras yang kita masak akan lembek, begitu juga kalo kencang buras akan mentah meskipun waktu memasaknya sudah lama.
Dari burasa, gadis Bugis (yang hilang ini) belajar banyak hal.
Pertama, burasa' dibuat dari bahan-bahan pilihan, ketan yang dipilih haruslah ketan dengan kualitas terbaik, dicuci dengan sangat bersih (agar tidak mudah basi), santan yang digunakan harus dimasak dengan baik sampai kental dan nampak sedikti bermbinya, daun pisang yang digunkaan haruslah dijemur terlebih dahulu agar mudah ditekuk. Dari ini kita belajar bahwa hal2 baik selalu berisikan yang baik, komposisi niat, tindakan, proses seyogyanya sudah dipilih dan dipilah kualitasnga. Tetntu saja yang terbaik yang dipilih.
Kedua, proses memasaknya yaang melibatkan baanyak orang, melatih kita untuk dapat kooperatif, bekerja di dalam tim dan kompak.
Ketiga,prosesnya yang panjang dan detail, mengajarkan kita bahwa proses adalah kunci dari sebuah perjalanan, ikatan tak boleh terlalu longgar ataupun ketat mengajarkan kita bahwa hal2 baik haruslah sesuai porsinya tidak kurang juga tidak berlebihan, suhu panas stabil juga mengajarkan kita tentang "yang membara" kadang menghanguskan dan "yang terlalu kecil" kadang tak memberi pengaruh apa-apa.
Proses memasak yang lama juga mengajarkan bahwa, sesuatu yang baik tak terburu-buru, butuh kesabaran dalam menanti, hal-hal terbaik datang pada waktu yang tepat dan tak selaalu berarti cepat.
Keempat, buras umumnya disajikan pada moment2 istimeawa, mengapa? Karena yang istimewa hanya untuk yang istimewa :).

Ok, lama belajar tentang burasa. Mari santap buras yang masih hangat ini.

#alasankenapakitamudik
-mozaiknasional.wordpress.com
-cinikizai.wordpress.com
-samawainsight.blogspot.com

Sabtu, 09 Juli 2016

Kau dan senja

Tak ada sisa jejakmu disenja tadi
Aku benar-benar telah meinggalkanmu pada senja kemarin hari
Tak ada nanarku melihat senja dibibir pantai sore tadi
Karena senja2 itu kini berbeda.
Tak ada kau disana
Sungguh.
Apakah telah terganti?
Entahlah
Setidaknya senjaku berbeda
Malamku juuga
Ah, kau
Dimana kau sekarng
Masih tersisakah aku pada senjamu?
Pikirku telah kau hapus juga jejakku
Baiklah.
Biarkan saja senja kita masing-masing bercerita.
Tentang menunggu senja2 yang lain.

#Alasankenapakitamudik
cinikizai.wordpress.com
mozaiknasional.wordpress.com

Kamis, 07 Juli 2016

Terimakasih telah bertanya

Sejak kecil, bagiku moment Lebaran selalu beroleh-olehkan pertanyaan menggelitik. Aku ingat betul ketika itu usiaku masih 7 tahun dan tinggal disebuah desa pedalaman (untuk menuju desa tersebut kami menunggang kuda dan menyebrangi beberapa sungai) dan setiap romadhon mudik ke rumah nenek, begitu juga sepupu2kj yang dtang dari berbagai kota lainnya.
Kalian tau? Setiap kali berkumpul seperti itu kakek akan selalu bertanya pada kami tentang juara kelas, nilai2 mata pelajaran tertentu, ekstrakurikuler yang kami ikuti dan hal2 lain yang mungkin bagi bebrrapa orang menjadi pertanyaan apresiasi juga pertanyaan angker untuk yang lain.

Sejak itulah momen lebaran selalu menjadi pengingatku tentang betapa banyak hal yang harus aku perbaiki. Termasuk apa2 yang dilebaran kemudian akan menjadi pertanyaak khlayak handai-tolan, tetangga, teman sejawat.
Sampai saat ini, pertanyaan *yang membangungkan* itu selalu ku nanti di momen lebaran, karena bagiku jiwa yang sering lupa akan tanggungjawab pertanyaan2 semacam itu adalah salah satu suara semesta membangunkanku dari lamunan panjang selama di tanah rantau.

Untuk kalian yang bertanya
Terimakasih telah bertanya "kapan aku lulus?"
Karena pertanyaan itu kemudian aku tersadar bahwa ada org yang menanti kebahagiaanku, atau mungkin menyisipkan kebahagiaannya pada kebahagiaan milikku.

Terimakasih telah bertanya "kerja dimana?"
Karena pertanyaan itulah yang menjadi pengingat tentang betapa umurku saat ini telah masuk pada fase tanggung jawab yang bukan hanya tentang diriku sendiri, tapi juga mereka yang menanti hasil keringatku. Selain itu aku tersadar, sudah waktunya hari2ku melulu tentng buku dan perpustakaan, tapi juga berkarya untuk org lain.

Terimakasih telah bertanya "Untuk apa melanjutkan S2?"
Karena itulah aku tau betapa pentingnya seorang wanita mengenyam penddidikan tinggi, karena darinyalah sekolah generasi di bentuk.
Pertanyaan tentang itupula yang mengingatkanku bahwa brlajar adalah kewajiban bagi siapapun.

Terimakasih telah bertanya "kapan menikah?"
Karena pertanyaan itulah aku sadar bahwa mungkin sudah saatnya tembok tinggi yang ku bangun saat ini agar sedikit demi sedikit dikikis, karena mungkin irang tuaku beranjak berumur dan mereka mendambakan seorang cucu lucu.
Selain itu, pertanyaan kapan menikah, meningingatkanku bahwa sudah saatnya berbenah dengan serius, menyiapkan diri, dan belajar banyak hal sebelm benar2 memutuskan untuk menikah. Mengingatkanku tentang keharusanku melatih diriku sendiri, memperbaiki diri juga berdo'a semoga dia-yang entah siapa- juga sedang berproses.

Terimakasih telah bertanya banyak hal tentang hidupku,
Apakah aku risih? Tidak
Karena aku tau pertanyaan kalian sejatinya hanya basa basi, tapi bagiku pertanyaan kalian adalah do'a, pengingat dan energi semesta yang dibahasakan oleh manusia.
Teruslah bertanya. Bertanyalah terus.
Terimakasih telah bertanya.

Rumah (dgn sinyal tidak menentu) 8 juli 2016
#Alasankenapakitamudik
cinikizai.wordpress.com
mozaiknasional.wordpress.com

Selasa, 05 Juli 2016

Selamat jalan Ramadhan

Tamu agung yang dinanti sebelas bulan lamanya
Bergegas beranjak untuk datang lagi
Pergi meninggalkan jiwa2 yang setengah sedih separuh haru
Pergi bertolak dari nafs2 yang masih haus tak terperih
Haus bak ditengah sahara
Haus akan rahman juga rahim
Buas akan berkah dan ampunan
Maafkan kami wahai tamu agung
Kami mengacuhkanmu dihari2 ini
Sibuk menyiapkan perpisahan dan mengabaikanmu
Maafkan kami.
Tamu agung itu beranjak bersama senja sore in
Tapi entah bertemu ataupun tidak
Tak ada janji untuk itu.
Sebelas bulan dari hari ini
Ramadhan kita diuji
Saabar kita dipertaruhkan
Ikhlas kita dilihat.
Sebelas bulan didepanlah yang akan tau sejauh mana ramadhan kita gandrungi
Esok hari fitri datang
Pun tak ada janji nafas masih berhembus.
Esok fitri,
Semoga yang baru bukan hanya sandang kita
Tapi juga diri kita.

Senin, 27 Juni 2016

Bandung


Terimakasih kota kembang
Terimakasih kabut pagi yang menyapa tiga bulan ini
Terimakasih atas matahari hangat yang selalu dirindukan
Terimakasih atas terik yang juga bershabat
Atas malam-malam syahdu
Atas bunga berwarna merah indah dibibir jalan
Aduhai bandung, buaianmu terasa hingga sukma
Memapah hati yang belajar berdamai
Menuntun langkah yang kadang gentar
Terimakasih untuk jiwa2 yang kutemui
Senyum-senyum yang merekah indah
Terimakasih bandung.

Bandara. 28062016

Rangers

Entah siapa mereka
Mengapa bersama
Kapan awalnya
Bahkan kitapun lupa
Tapi...
Bersaama mereka tawa tak ada hentinya
Imajinasi tak ada matinya
Masa depan ttp dengan misterinya
Quote tak pernah habis
Mulai dari belajar TPA bareng di sabuga
Kemudian makan soto murah belakang Salman
Keliling bandung dengan angkot
Kajian sore menjelang berbuka
Diiringi tawa tentang hal konyol
Ah, kalian

Bandg dmalam terakhir, 27062016

Meninggalkan

Saat berpindah, ku yakini ada yang harus ku tinggalkan juga ku bawa bersamaku
Namun disaat yang sama, beberapa hal harus ku kubawa bersamaku
Kau tau, betapa sulitnya meninggalkan?
Meskipun pergi dan datang adalah keniscayaan akan tetapi ada selalu rasa yang mengoyak sukma
Takut
Sedih
Haru

Malam terakhir di bandung,
27 juni 2016

Sabtu, 18 Juni 2016

Orang Buta Meraba Gajah


Alkisah disebuah negeri seberang Ghor yang seluruh penduduknya buta. Seorang raja bersama dengan rimbongan dan seekor gajah perkasanya melewati negeri itu. Rakyat berhasil dibuat terkagum-kagum dengab kemasyhuran gajah tersebut.
Beberapa orang dari rakyat kota tersebut menyambangi tempat raja hendak mengetahui bentuk gajah yang namanya disebut-sebut seantero negeri.

Karena sama sekali tak tahu rupa atau bentuk gajah, mereka hanya bisa meraba-raba, mencari kejelasan dengan menyentuh bagian tubuhnya. Masing-masing hanya menyentuh satu bagian, tetapi berpikir telah mengetahui sesuatu.*

Sekembalinya ke kota, orang-orang yang hendak tahu segera mengerubungi mereka.
*
Mereka bertanya tentang bentuk dan wujud gajah, dan menyimak semua yang disampaikan.

Orang yang tangannya menyentuh telinga gajah ditanya tentang bentuk gajah. Ia menjawab, "Gajah itu besar, terasa kasar, luas, dan lebar seperti permadani."

Orang yang meraba belalai gajah berkata, "Aku tahu yang lebih benar tentang bentuk gajah. Gajah itu mirip pipa lurus bergema, mengerikan dan suka merusak."

Terakhir, orang yang memegang kaki gajah berkata, "Gajah itu kuat dan tegak, seperti tiang."

Masing-masing hanya menyentuh satu bagian saja, dan keliru memahaminya. Tak ada akal yang tahu segalanya. Semua membayangkan sesuatu yang salah.

***
Dulu, ketika masih di bangku sekolah dan hidup di asrama nasehat-nasehat ajaib banyak sekali mengalir yang keajaibannya baru terasa saat ini. Salah satu nasehat andalan Buya di awal tahun ajaran adalah *jangan menjadi orang buta yang meraba gajah*, nasehat ini semacam kalimat *selamat datang* untuk siswa baru setiap tahunnya.

Dulu, saya mengartikan nasehat ini sederhana sekali bahwa orang buta yang meraba tubuh bagian-bagian tertentu dari gajah akan mendefinisikan gajah sebagai apa yang yang dipegangnya.

Ternyata setelah melihat, mendengar, melakukan hal2 baru lainnya barulah pemahaman tentang meraba gajah ini sedikit demi sedikit ku (usahakan) untuk memahami bahwa untuk melihat sesuatu baik itu masalah, fenomena, isu, pilihan, pandangan dan juga perbedaan, kita tak cukup hanya dengan *meraba* dari satu sisinya saja atau dari satu perspektif saja.

Perlu berlatih melihat dari berbagai sisi agar masalah kemudian tidak menjadikan kita terpuruk melainkan menjadikan kita tumbuh lebih kokoh, pilihan tidak menjadi kita terkungkung tapi lebih cermat, perbedaan tak menjadikan kita berbisah melainkan menjadi lebih kaya, dan masih banyak hal2 lain yang kemudian menjadi jauh lebih baik dengan kebiasaan kita memandang dari berbagai sisi/perspektif.

Mari berlatih :)

Bdg, 13 romadhon 1437 H
18 juni 2016

Jumat, 17 Juni 2016

Aku malu

Ternyata pernah menulis ini dulu ketika masih kelas 1 SMA. Puisi ini ditemukan diblog salah satu guru terbaik saya. :)

Auflaruk? *nama pena waktu alay dulu

Senin, 13 Juni 2016

Rindu malam rumah

Pak, sekarang Bondeng kecilmu ini tak lagi kecil
Badannya membulat. Persis bondeng
Pak, la Bondengmu ini rindu padamu
Rindu malam2 selepas tarawih berbaring di tangan kokohmu
Merasakan empuk dari daging lenganmu
Mencium aroma tubuhmu
Rindu Bondengmu ini pada dongeng-dongeng sebelum tidur yang kau ceritrakan sangat apik
Bahkan aku mengira, kau melihat setiap lakon dari dongeng itu.
Pak, aku rindu dongeng2 penuh makna itu
Kau selalu menceritakan kisah berbuah manis dari semai sabar dan do'a.
Aku ingat betul betapa gigih kau menceritakan seorang gadis kecil yang miskin keluarganya dan mengimpikan baju baru saat lebaran tiba.
Dan kemudian berakhir ajaib, si gadis kecil berdo'a kepada Tuhan agar esok ketika turun sholat ied dia dapat mengenakan baju baru lengkap dengan sepatu juga mukenah baru
Dan benar saja, keajaiban datang sebelm si gadis kecil putus asa dalam harapnya.
Ku ingat betul kisah itu, kau selalu meceritakan itu ketika aku merengek meminta baju baru untuk lebaran.
Entah. Sampai saat ini semua dongeng2 pengantar tidurmu berbekas di memoriku, merajai alam bawah sadarku
Mengingatkanku tentang do'a, harapan, dan juga kerjakeras.
La bondenmu rindu Pak.
Sekarang dongeng2mu terngiang jelas lengkap dengan ekpresi khas yang kau miliki.
Tak jarang aku menyelamu dengan bertanya usil tentang dimana rumah si gadis kecil, apakah dia punya adik atau tidak, siapakah yang memberi dia pakaian baru.
Semua pertanyaaan itu kau jawab dengan sangat sabar dan meyakinkah seolah itu adalah kisah tetanggamu.
Pak, la bondengmu rindu ditepuk bahunya sembari mendengar *anak Bapak kuat*
Ah Bapak, tepukan itu tak pernah tergantikan oleh jenis obat manapun.
Pak, la Bondengmu rindu.
Peluk aku Pak. Bondeng kecilmu

Bondeng di bandung, 13062016
22.00

Minggu, 12 Juni 2016

Dipeluk dingin

Kau pernah tau rasanya dipeluk dingin?
Tidak, kau tak akan dapatka kehangatan
Karena yang memelukmu adalah dingin
Dingin yang sempurna membeku