Hi Din, bagaimana kabarmu?
Ku harap kau masih di harapan akan hidup yang membaik dari hari ke hari. Tak seperti diriku yang memandang waktu perlahan menggiringku pada masa-masa suram.
Din, harusnya kita bertemu saja agar aku bisa bercerita leluasa sambil menangis terisak padamu, aku harusnya mendapat tissue dari mu. Sama seperti malam-malam kita di Kos petak Pak Gun kala di Jogja bertahun silam.
Aku sesak Din, sesak sekali. Kau tau kan? Di telepon terakhirku aku menangis sejadi-jadinya karena 'dia' yang selama ini rutin ku rindukan, ku cintai tanpa jeda dan ku sebut namanya dalam do'a telah berhasil menghunus rasaku dengan tega. Dia berhianat, bilang bahwa lima tahun bersama adalah kekeliruan yang dibuatnya bersamaku. Apa maksudnya? Aku dihimpit kecewa Din. Sesak sekali.
Belum pula luka ku kering Din, kekecewaan itu datang lagi dengan wajah berbeda. Kau tau? Sosok laki-laki pertama yang ku lihat wajahnya di dunia berhasil memporakporandakan hati, hidup dan semua orang yg ku sayangi Din. Kau tau? Kajadian itu begitu cepat, saat aku sedang terseok-seok membenahi banyak hal, mulai dari, tanggung jawab perusahaan sampai adik-adikku, aku seperti ingin meledak mendengar kabar mengerikan itu.
Ayahku ternyata selama ini telah bersama wanita lain Din. Huuffft..
Entahlah Din, Allah sedang mengujiku untuk apa? Kau tau apa yang ku rasa ketika mendengar kabar itu? Seolah habis sudah sisa kepercayaan yang ku miliki. Habis bersama habis keringnya air mataku. Sempurna Din, aku kosong, tak setitikpun kepercayaan itu tersisa.
Berkelibat di benakku tentang banyak hal, tentang alasan yang diucapkannya tentang mengapa ia memilih bersama wanita lain disaat kami anak-anaknya masih disini, masih bersorak akan sosok ayah, di saat Ibu yang tak pernah kering tangannya melayani sebaik yang ia bisa hanya untuk Ayah. Kau tau alasannya apa? Menurutku ini alasan terbodoh yang pernah ku dengar. Bahwa "Ibuku tak cantik lagi". Ohh Tuhaan....
Din, bisa kau bayangkan. Laki-laki yang selama ini ku hormati dan ku sayang dan satu- satubya laki-laki yang ku yakini tidak akan menyakitiku berkata bahwa memilih wanita lain karna Ibuki tak lagi indah dipandang? Serendah itukah cinta Din? Aku remuk mendengar itu. Sungguh.
Pernikahan ayah dan ibuku memasuki tahun ke dua puluh enam. Dua puluh enam Din.... Berribu rembulan mereka lewati bersama, aku tak tau persis bagaimana hancurnya hati Ibuku. Yang saat ini masih terlihat menyunggingkan senyumnya padaku dan adik-adikku. Beliau masih tersenyum, senyum yang sama sejak aku terlahir. Tulus dari hati. Ibu hanya sering berkilah pada kami "Ibu harus tetap bertahan demi kalian, kalian harus tetap punya ayah"
Diin..... Drama apalagi ini? Aku sampai heran, terbuat dari apa hati Ibuku? Disaat ia disakiti oleh laki-laki yang ia cintai, yang ia lahirkan anak-anaknya dia masih bertahan dan alasannya adalah kami...
Sebenarnya Din, aku ingin sekali marah pada ayahku yang setega itu memperlakukan kami, tapi Din... Bagaimana mungkin aku marah dan acuh pada orang yang selama ini menyayangiku tanpa syarat. Bahkan, jika dibenarkan ingin rasanya aku tak bertemu dengannya, tapi bagaimana bisa Din? Aku sedih, benci, marah, kecewa pada ayah. Tapi apakah semuanya akan memperbaiki keadaanku Din?
Berat rasanya menerima kenyataan bahwa kekecewaan yang ku tuai adalah buah dari ujian yang di titipkan Allah pada ladang hidupku, tapi aku tak punya pilihan selain menuai semuanya Din, pun aku tak tau, sampai kapan kecewa ini terobati..
Aku rindu keceriaan di rumah kami Din, aku rindu makan malam bersama kami, aku rindu melihat ayah dan ibu berada di sofa yang sama dan saling merangkul, aku rindu banyak hal din. Termasuk kedamaian diriku...
Sudah Din, surat ini harus segera bertemu titik akhir, doakan aku sahabat, semoga aku kuat di ujian kali ini...
Dari sahabatmu yang sedang mengumpulkan puing bahagianya.
~D.N.I
Tidak ada komentar:
Posting Komentar