Sabtu, 30 Desember 2017

Mimpi

Semua orang saya rasa punya mimpi yang selalu dipupuk, disiram, dirawat dan ditengok ketika lelah mulai menyapa.

Tentang mimpi, ini mimpi kecil saya-saya lupa kali pertama saya bermimpi tentang hal ini- saya ingin menjadi bagian dari orang Indonesia yang bekerja untuk Indonesia tapi tidak di Indonesia. Apakah terdengar rumit? Saya rasa tidak juga.

Well, saya lupa kapan pertama kali saya bermimpi menjadi diplomat, mimpi itu pernah saya utarakan kepada orang tua dulu dengan meminta ijin berkuliah di jurusan Hubungan Internasional, hemat saya waktu itu adalah dengan jurusan itu mimpi saya paling tidak sdah mendapatkan jalannya. Tapi bukankah semesta (dengan ijin Allah tentunya) akan mengaminkan keinginan2 yang kita usahakan. Saya yakin itu...

Kenapa saya teringat mimpi itu? Sudah beberapa bulan terakhir saya menggeluti kegiatan baru di sebuah kantor kecil di daerah Menteng, diperjalanan pulang dan pergi dari kantor ke stasiun KRL terdekat saya selalu melewati beberapa embassy dan setiap kali lewat saya selalu merasa hal aneh terjadi pada diri saya sendiri. Serasa geli tapi bahagia yg entah beraumber dari mana.
Belum, saya belum menjadi bagian dari kedutaan ataupun embassy manapun, tapi entah dengan melewati itu semua saya merasa dekat dengan mimpi2 saya untuk berkeliling globe dengan menjadi abdi Indonesia. 

Entah kapan mimpi itu kadi nyata, tapi saya selalu percaya bahwa semesta akan mengamini mimpi2 kita. Dan kita harua selalu siap kapanpun waktunya mimpi kita di-iya-kan.

Depok

untuk Ray

Aku harus menarik nafas panjang sebelum menulis ini Ray, berat sekali sedang mataku sudah mulai berkaca-kaca. Apa sebenarnya yang akan ku tulis? Apa saja yang menurutku ingin ku tulis karna ku tau kau suka membaca tulisanku bahkan jika itu sebatas bualan semata.

Di penghujung tahun ini aku tak tau apa saja yang telah terlewati, kadang ku merasa hampa, kosong dan gamang bahkan sehelaan nafas selanjutnya adalah aku merasa telah melakukan banyak hal, mendapatkan sejumlah kenangan manis dan berhasil melalui beberapa rintangan.

Tahun ini ku mulai dengan hati yang terluka, iya kau benar, ini karena aku mengijinkan orang lain melukainya. Aku bahkan tak berani menengok ke belakang hanya sekedar untuk memaafkan diriku sendiripun aku sulit. Tahun ini aku mulai dengan pipi yang berjejak garis air mata, banyak yang hilang di awal tahunku. Pilu.

Mungkin kau ingat betapa rapuhnya aku memulai tahun ini, menangis di mana saja, di perpus, di jalan, toko buku, warung soto, angkot, pesawat, stasiun, bandara, terminal dimana saja Rey. Aku menangis kapan saja, pagi hari, siang, senja, bahkan air matalah yang menghantar tidurku. Aku menangis kepada siapa saja, pada potret diriku, pada teman-tean dekatku, padamu juga kan Ray. Mungkin kaupun bosan sudah mendegarkanku yang lemah ini.

Hari-hari ku lewati menyedihkan, aku mencoba mengumpulkan puing-puing kekuatan yang ada pada diriku perlahan, terseok aku menapaki jalan temaramku sendirian. Sampai akhirnya waktu membantuku menyadari, air mataku tak akan membuatnya kembali. Tak akan menjadikanku bersatu dengannya. Benar katamu Rey, dia bukan untukku.

Rey, kau harus tau ini sulit bagiku, melewati malam tanpa berbicara dengannya, merencanakan banyak hal tanpa bersepakat dengannya. Ini sulit Rey. Kau taukan betapa banyak yang sudah kami rencanankan bersama? Tentang dimana anak pertama kami akan lahir, tentang kampus tempatnya akan mengambil phd juga tempat aku akan belajar shortcourse psikologi? Tentang mewarnai paspor kami bersama dengan perjalanan menyenangkan, tentang dongeng bahasa apa yang akan aku dan dia bacakan untuk anak-anak kami kelak, Rey, kau harus tau ketika saat in iak buka kembali mimpi itu, aku melihat dirinya, aku melihat dirinya utuh bersama mimpikku, dia adalah bagian dari mimpiku.
Berkali-kali ku bujuk diriku sendiri untuk menjadi kuat, untuk memaafkan apa-apa yang hidup berikan sepanjang tahun ini dan aku masih saja mencoba. Sampai akhinya aku mengetahui bahwa dirinya memilih orang lain. Dan itu bukan aku.

Betapa hancurnya aku Rey, semudah itulah sesorang melupakan janjinya?. Aku ingat betul kata-katanya, bahwa diamengiginkanku untuk menjadi teman hidupnya, menjadi ibu dari anak-anaknya, menjadi tua bersamanya. Tapi apa Rey? Itu bukan aku. Dia pergi tanpa kata yang bisa ku pahami sepatahpun, dia menghilang tanpa suara. Menghilang begitu saja. Lenyap ditelan nestapa.

Malam ini, dipenghujung tahun ini, berapapun jumlah air mata dan kekecewaan yang ku tuai. Ijikan aku bersyukur telah berhasil melewati ini semua Rey. Bersyukur bahwa aku banyak belajar dari kehilanganku dan belajar merangkai mimpi-mimpiku lagi.

Baiklah Rey, inginkah kau dengarkan cerita lainku di tahun ini?

mungkin besok ya Ray. Mataku terlanjur bengkak.

Terimakasih Rayhana Muttaqiya

sahabatmu.
Bondeng

Jumat, 17 November 2017

Menjadi pendengar

Well, hari ini adalah pekan ke empat ku menjadi bagian dari sekelompok orang yang ditugaskan untuk mendengar, mencatat dan membantu orang lain yang sedang di dalam kubangan masalahnya.

Aku memang belum pernah menuliskan pengalaman ini di sini karena jujur aku masih meraba dan meraba sedang berada di tanah berebtuk apa kakiku berpijak.

Aku memutuskan untuk bergabung dengan tempat kerja ini sekitar 3 bulan yang lalu, setelah menjalani serangkaian tes dan pelatihan hari2ku pun berwarna sedikit berbeda.

Di tempat kerja baru ini aku benar-benar belajar mendengar masalah orang lain dengan menggunakan perspektif yang berbeda, beragam masalah yang ku dengarkan dan tidak satupun kabar bahagia. Mereka yang datang ke kantor adalah mereka yg sedang dirundung masalah, kebingungan dan pengharapan. Mulai dari masalah kekerasan trhadap anak, penelantaran istri, kekerasan pd pasangan (pacar), kekerasa pd istri, penghianatan, kekecewaan dan seterusnya.

Bagiku, sebelum bergabung di kantor ini aku merasa dunia baik2 saja, drama di dalam keluarga hanya ada di sinetron atau novel. Tapi ternyata tidak! Its happened in the real word. Bagaimana seseorang yang berpuluh2 tahun bertahan dalam ketidakbahagiaan drngan pasangannya, bagaimana seorang ibu harus berjuang melawan kerasnya hidup ibu kota, ditinggal sendiri dan harus merawat anaknya yg sakit dan orang tuanya yang sudah lanjut usia. Aku hanya sesekali membayangkan diriku ada di posisinya yang setiap malam tertidur dalam keadaan harus melanjutkan hari esok dengan kegetiran-kegetiran yang baru. Harus mengurus anaknya sendrian dan pasangannya tidak lagi peduli.

Setiap kali selesai mendengar, banyak hal yang aku pelajari dan aku endapkan, kadang aku bersyukur bahwa selama ini aku lahir dan dibesarkan dengan penuh kasih sayang, ditengah keluarga yang hangat, penuh cinta, perhatian dan dukungan. Bersyukur bahwa ketika banyak orang yang harus bertahan dalam hubungan yang dia tidak bahagia, orng tua yang tidak menginginkannya, rumah yg tidak aman, dan tidak punya pilihan dalam hidup selain menjalaninya.

Di sisi lain, melihat, mendengar dan menyaksikan kekerasan yg terjadi, aku kadang berfikir hati mereka yg berbuat seperti itu terbuat dari apa? Sebegitu kejamkah hidup ini sehingga seseorang tak lagi memberi ruang pada hatinya untuk kebaikan? Seberkuasa itukah iblis di dalam diri seseorang sampai tak ada celah untuk kebaikan? Ya Allah.... Terangilah dan tuntunlah kami selalu...

Aku sadar betul, sisi kehidupan banyak sisinya. Manusia mengalamai pasang surut, atas bawah, senang sedih, bahagia kecewa, dan seterusnya. Itulah mengapa bagiku pekerjaanku yang mendengar ini bukan hanya pekerjaan biasa. Aku sedang belajar bab2 baru dalam hidup, melihat sisi2 yang selama ini aku nafikan, meraba rasa yang selama ini aku acuhkan. Aku belajar banyak hal, bahwa hidup harus dihadapi dengan keyakinan yang penuh bahwa Allah tak akan pernah meninggalkan kita. Bahwa yang terjadi dalam hidup adalah pilihan dan pelajaran terbaik.

Untuk para pengajarku yang datang dengan luka dan memperdengarkanku lukanya, semoga malam ini kalian dapat tidur dengan nyenyak, semiga Allah senantiasa menguatkan dan membersamai langkah kalian drngar keberkahan yanh tak ada putusnya. Amiiin.

Minggu, 12 November 2017

Jejak bisu

Berkali-kali deretan obrolan itu kuhapus,
Tapi tak jua berhasil
Berkali-kali juga ku coba membaca kembali bahagia itu
Dan selalu saja berhasil ku ingat
Setiap sudut senyum, janji dan harap
Manis sekali, hangat seolah tak ada hari ini.

Dalam senyap
Kau tinggalkan jejak-jejak bisu
Berserakan janji dan kenangan dari masa lalu
Tak satupun kata kembali terdengar
Kau berlalu...

Ku dengar kau telah mendapatkannya
Dia yang mungkin jadi pelabuhanmu
Aku marah pada diriku
Bagaimana mungkin ku telan begitu saja janjimu waktu itu.

Aduhai kau yang saat ini telah lupa
Taukah kau, lukaku sekali waktu menganga.
Apa salahku?
Iya, aku tau.
Salahku adalah mrnjatuhkan cintaku padamu.
Salahku adalah membawa bersamaku janji-janjimu.
Salahku ada bermimpi menapaki jalan itu bersama.
Salahku adalah meng'iya'kan tuturmu waktu itu.
Ini semua salahku.

Biar saja, biar saja ku eja sendiri
Melangkahlah bersamanya
Semoga kau berbahagia
Ku hanya sedang belajar,
Bahwa manusia sejahat kau pernah ada.
Pernah ku kenal.

Selamat berbahagia.
Depok, november 2017

Senin, 06 November 2017

Menantu idaman (?)

Pasti kalian pernah lihat tulisan "..... Menantu idaman" entah itu profesi, entah itu bulan kelahiran, entah itu jurusan kuliah dan seterusnya.
Biasanya tulisan beginian banyak banget kita temuin di bagian depan topi, atau di baju kaos, atau di papan foto yg biasa dipajang di photobooth di acara2 kondangan.
Well, ada yang salah dengan tulisan itu?
Literally sih gak ada yg salah ya, saya termasuk salah satu orang yang punya baju kaos dengan tulisan "awardee lpdp menantu idamana mertua" 🙈
Baju kaos hadiah pas PK dulu.
Nah apa makna tulisan itu? Bukankah kita sepakat ya, tulisan itu punya makna bahwa kita dengan apapun label yg sedang kita sandang, kita adalah menantu idaman.
Saya kadang geli sendiri kalau pakai kaos saya itu, bagaimana mungkin saya men-declire diri saya sebagai menantu idaman sedangakan sampai saat ini saya hanya bisa masak sup, bubur jagung, kolak pisang, telor dadar/mata sapi, tempe bacem, sayur asem, sayur lodeh, ikan asam manis, dan anek jus. Saya sma sekali jauh dari kata menantu idaman.
Masalah kematangan emosipun begitu, mood saya masih sangat labil, saya masih sering marah-marah gak jelas, atau masih suka tidur abis shubuh dan banyak sekali sederet keburukan lainnya. Lantas, bagaimana mungkin saya berani bilang saya calon menantu idaman? Maafkan dini Tante (calon mertua).
Tapi, terlepas dari itu semua saya berharap tulisan itu bisa membisikkan motivaasi kuat untuk bisa memperbaiki diri saya dalam banyak hal, menuntut saya untuk lbh rajin belajar masak, belajar tentang parenting dan membaca buku pengembangan diri. Semoga saja.

*di sela2 tesis
Depok, 6 November 2017

Rabu, 01 November 2017

Tetap saja

Tetap saja seperti itu
Seperti itu saja disana
Disana saja terus
Terus saja diam
Diam saja dulu
Dulu juga begitu

Jika hendak pergi
Pergilah segera
Segeralah menjauh
Menjauh yang jauh
Jauh sampai tak terlihat
Terlihat oleh mata juga hati
Hati pun bertepi

Bertepi sejenak
Sejenak menarik nafas
Nafas panas
Panas akan geliat rasa
Rasa yang pernah kita sebut ada
Ada...ah, ada-ada saja

Depok, 2 November 2017
*andai tesis seindah sajak

Jumat, 15 September 2017

Positif

Akhir-akhir ini saya gak tau kenapa, tiba-tiba merasa sedang diselimuti banyak sekali hal-hal positif, teman-teman positif, kegiatan posotof, dosen positif, pencapaian-pencapaian yang positif dann banyak hal lain yang menurut saya jadi nutrisi dalam dalam diri.

Sebenarnya kalau dibilang sedang sellow, saya sama sekali tidak. Deadline dimana-mana, janji bertemu teman2 lama, teman baru, relasi dan dosen. Banyak jadwal. Tapi entah ya, saya merasa energi saya sedang positif-positifnya. Alhamdulillah, saya yakin ini karunia yang indah sekali. That even money can't buy.

Apakah saya sedang jatuh cinta sampai sebegitu berenerginya? Tentu saja tidak, saya sama sekali sedang tidak jatuh cinta pada siapapun. Saya sedang jatuh cinta pada kebaikan-kebaikan orang-orang di sekitar saya. Banyak sekali orang baik, mulai dari bapak Gojek, interviewer, pengemis di depan kos, dosen, anak sma yg sampingan di kereta dan masih banyak lagi orang baik yang saya temui. Saya sedang jatuh cinta pada kebaikan, tentang keniscayaan yang dianugrahi Allah pada setiap hati kecil hambanya 'dhamir'.

Dulu saya pernah menghafal ada mahfudzat (kata mutiara) bahasa Arab yang kurang lebih begini artinya *keburukan itu menular* tapi hari ini saya yakin, bukan hanya keburukan yang menular, kebaikan-kebaikan juga menular, setiap orang baik menularkan kebaikan dalam dirinya kepada orang lain yang menjadikan orang disekitarnya damai dan merasa sedang dipeluk oleh keberkahan. Seperti itu yang saya fahami.

Tentang kebaikan, bukan sekedar giving material thing saya rasa, tapi juga mengucapkan terimakasih kepada kasir supermarket, senyum kepada bapak gojek yang sudah mengantarkan kita ke tempat tujuan, berdo'a dalam hati untuk keselamatan orang lain, mendengarkan curhatan teman dengan baik (gak sambil scrool feed ig), memberi tempat duduk pada wanita paruh baya, and sooo manything yang mungkin hal sederhana yang kalau kita sadari sebenarnya sedang memberi kebahagiaan pada jiwa kita sendiri. Menutrisi jiwa kita sendiri.

Beberapa hal yang saya tuliskan di atas adalah hal sederhana tanpa biaya yang membatu kita memahami makna senyum orang lain pada kita, entah kenapa, setiap kali melihat senyum ibu paruh baya yang kebetulan sedang berdiri di kereta dan saya persilahkan duduk. Saya merasa saldo kebahagiaan saya bertambah. That smile give me powers.

Saya bersyukur, masih diberi keberkahan untuk bisa bercengkrama dengan nurani saya meskipun frekuensinya sangat amat sedikit. Saya masih berlatih untuk lebih mendengarnya, mengajaknya berdiskusi, menentukan pilihan dan berjalan bersama. Iya Nurani... Bagian terkecil dari hati.

*di KRL dari bojong gede
15 september 2017

Senin, 11 September 2017

pohon waru dan kupu-kupu ungu

Suatu hari
Matahari sedang terik-teriknya
Aku berteduh dibawah pohon waru  dengan bunga yang masih kuning cerah
Nampak beberapa jam yang lalu baru saja mekar
Hari ini cukup memeras peluh, gumamku.
Mengejar banyak sekali ego yang tertinggal di masa lalu…

Dan diperjalanan kali ini
Tugasku adalah membayarnya lunas, tuntas.
Belum kering tetes peluhku
Beterbangan kupu-kupu ungu di hadapanku
 Elok sekali
Guratan warna ungu dan kuningnya serasi
Cantik
Kupu-kupu itu terbang berlalu
Ku ikuti perginya
Kadang ia lambat tapi terkadang cepat terbangnya

Ku rasakan peluhku menetes
Aku sudah jauh meninggalkan waru berbunga kuniing
Perlahan, ku dapati diriku terbawa kupu-kupu
Dan sekarang aku tepat berdiri di depan sosok tinggi bersepatu kulit
Tak ku enal sosok itu
Tapi kemana kupu-kupu tadi
Kulihat kupu-kupu terbang dan mengecil
Masuk ke dalam bola mata kanan sosok yang berdiri di depanku

Sekarang
Kupu-kupu lenyap sudah
Keindahannya berpindah ruang
Dua bola mata itu menjelma sangat indah
Seolah mengajakku masuk ke dalamnya
Bersama, bersemayam bersama kupu-kupu ungu.

Tapi tidak Tuan
Sahaya harus kembali ke pohon waru
Disana tertinggal ego yang harus terbayar sebelum senja menjelang
Barlah hanya kupu-kupu itu yang mengisi ruang bola mata hitammu
Aku harus beranjak Tuan
Selamat siang.

Depok, 12 September 2017
*di tulis disela-sela baca jurnal :)
tesis oh tesis


Rabu, 06 September 2017

Perpustakaan

Di perpustakaan aku bertemu kata
Juga merangkainya
Di perpustakaan aku menulis kata
Juga menjadikannya puisi
Di perpustakaan aku kedinginan
Sembari memeluk diriku sendiri
Di perpustakaan aku menjadi
Menjadi pemburu kata

Jumat, 01 September 2017

Hanya ada Jelly malam ini

Maaf, malam ini kata di memoriku membeku.
Jadi, tak ada puisi selamat malam untukmu
Yang ada hanya semangkuk Jelly strobery yang masih mengepul.
Mengepul bersama ingatanku tentangmu.
Sederhana saja sebenarnya.
Mungkin sesederhana kau lewat di depan SS dan memesan buah mix. Dan lupa.
Tapi sayang,
Aku tak cukup mampu menjadikan Jelly ini sederhana.
Dibalik Jelly aku bersembunyi dari ketidakmampuanku memanggil diriku yang terbawa olehmu.
Aku menyamarkan manis Jelly di mangkuk ini dengan memaksa diriku tersenyum dengan kenyataan bahwa Jellyku tak pernah lagi kau inginkan.

Aku akan terus membuat Jelly.
Jadi ketika kata-kataku membeku, Jelly dalam mangkuk putih akan jadi temanku bercerita tentangmu.

Selamat malam.
*dari yang masih belajar membuat Jelly.

Kamis, 24 Agustus 2017

Nasiku sempurna jadi bubur

Halo Ondeng....
Bagaimana kabar ibu kota? Sudah bersahabat belum? Apapun kesibukanmu sekarang semoga kamu tetap dilingkupi kebahagiaan ya ndeng...

Ndeng, aku berfikir ada baiknya aku menuliskan surat ini untukmu, bukan untuk apa-apa, hanya sekedar untuk meluapkan apa yang sedang ku rasa.
Ndeng, aku inget kata-katamu waktu aku sering menyambangi Jogja untuk menemuinya. Kamu selalu mengajakku untuk menginap di kosmu, tapi sesering itu juga aku menolak dengan berbagai alasan sampai waktu itu kau pernah ingatkan aku tentang suatu hal yang sekarang terjadi.

Mungkin kamu sudah tau jalan ceritanya dari kabar-kabar angin yang disampaikan burung-burung pipit yang terbang kesana kemari. Iya ndeng begitulah hidupku sekarang, aku harus bisa menerima bubur yang ku buat sendiri dari nasiku.
Kau lihat sendiri, kuliahku berantakan, keluargaku kecewa setengah mati, hidupku luntang lantung, bahkan laki-laki yang sekarang ini bersamaku membesarkan anak kami harus menanggung beban keluarga kecil kami.

Ndeng, setelah semuanya terjadi aku sadar apa yang aku lakukan di masa lalu adalah kesalahan yang ku ciptakan sendiri, aku sendiri yang membuka pintu menuju jurang itu ndeng. Aku sesak mengingat kebodohan itu.

Saat ini hidupku hanya sesempit rumah tempat tinggalku, setelah pindah dari rumah mertua dan rumah orang tuaku, aku kemudian memutuskan untuk pindah ke rumah kami tidak jauh dari rumah orang tuaku. Aku memulai hidupku ndeng. Meskipun terseok-terseok aku harus kuat, kuatku menjalani ini semua adalah caraku menebus kesalahan ini kepada orang tua dan anakku.

Sekarang, aku hanya dapat melanjutkan hidupku. Apapun keadaannya, suamiku sekarang tidak bekerja di bidangnya karena bagaimanapun, tungku kami harus tetap mengepul ndeng sedangkan profesinya yg di dapat dari kuliah bertahun-tahun tidak bisa menjanjikan apapun. Sekarang aku tak lagi mendengar apa kata orang tentang hidupku. Aku tau aku salah, ini semua karena ulahku. Tapi jika sisa hariku ku habiskan untuk mendengar ocehan orang, menyesal dan mengutuk keadaan apa mungkin semuanya akan kembali seperti sedia kala?

Saat ini senyum manis anakku-lah yang menjadi penguat, aku harus kuat demi dia. Hidupnya harus tetap berlanjut. Biar saja hidupku begini.... Ah ondeng....

Anakku tiba-tiba nangis, aku sudahi dulu ya. Besok-besok kita lanjit. Ku do'akan kamu bahagia, do'akn juga aku dan keluarga kecilku ya... Miss you Ndeng.

*sahabatmu yang sekarang jadi Ibu
~S.D

Selasa, 22 Agustus 2017

Karena semuanya baik-baik saja

Diniiii.... Baru beberapa minggu nggak ketemu, gue kangen tempe bacem dan ikan pindang buatan lu.
Din, gue udah pindah kantor. Bukanlagi di dekat pasar tradisional yanh becek itu.
Sekarang kantor gue di deket pusat kota, kabar baiknya adalah bukan cuma kantor gue yang pindah tapi kerjaan gue juga sudah meningkat. Target yang pernah gue crritain ke elu waktu awal gue ke Jakarta itu ternyata datang lebih cepet. Selangkah lagi top target gue kecapai...

Tapi Din, pernah gak sih lu ngerasa bahwa ketika hidup memperlakukan elu dengan sangat baik maka elu sebenrnya gak dalam keadaan baik. Nah this is it.
Gie lagi ngerasain itu banget akhir-akhir ini..
Jenjang karir gue yang berlahan merangkak malah bikin gue ngerasa kosong, hampa. Kayak diri gue kehilangan ruh. Hiks

Kalo lu pernah dengerin lagunya maudi ayunda yang jakarta ramai, mungkin itu dia yang gue rasain Din, sedih tapi gue sendiri gak tau alasan kenapa gue sedih. Sering tiba-tiba gue kepikiran untuk ninggalin Jakarta sesegera mungkin, gue gak cocok din di sini. Ruh gue mati.
Gue sering kepikiran mimpi-mimpi gue yang jadi alasan pertama gue ke jakarta yang semakin kesini semakin gak berwujud.. Gue bahkan gak tau apa kabar impian-impian gue. Menyedihkan gak sih?

Padahal kalo dipikir-pikir ya Din, apalagi sih yang gue cari? Kerjaan gue ok, kebutuhan2 gue terpenuhi, di sekeliling gue lingkungannya menyenangkan, mulai dari tetangga kos, ibu kos, teman kerja, sampai bos gue. Semuanya asik. Terus kenapa gue ngerasa gue kayak jasad yang gak punya ruh.

Berasa banget gue idup kayak robot, berangkat pagi buta, meeting, presentasi, pulang, ngantuk, tertidur. Udah gitu aja pola hidup gue.

Kadang gue mikir, mungkin gue kurang bersyukur atas apa yang gue dapetin. Tapi Din..ah gue bingung ngejelasim rasa yang sekarang gue rasain.

Udah ya, besok gue tunggu lu di Pasar minggu. Pokoknya lu harus masakin gue tempe bacem yang paraaah enaknya itu 😂

*dari gue, anak rantau ingusan.
~S.A

Malam hidup

Kamu adalah alasan malam-malamku hidup
Tidur seolah ritual menjumpaimu
Karena apa?
Sejak hilangmu, kau bahkan tak pernah alpa
Tak pernah terlewatkan semalampun untuk kau rutin menyambangiku
Bercerita, tertawa, menangis, bermain bersama, berbicara tentnag banyak hal.
Seperti waktu-waktu itu
Kadang ku tak biarkan diriku tertidur
Bukan karna aku tak ingin bertemu denganmu dalam mimpi
Tapi aku rindu kau yang nyata
Dan mimpi itu menyadarkanku bahwa kau jauh
Tak tersentuh
Pun tak menoleh padaku.
Entah kenapa, semakin jauh aku mecoba lari
Semakin terjerat aku dengan bayangmu
Ratusan kilometer jarak nyata kita
Tapi mengapa dekat aku merasa.

Senin, 21 Agustus 2017

Edisi surat dari sahabat

Beebrapa postingan kedepan mungkin akan satu seri yaitu "seri surat dari sahabat".
Kumpulan kisah yang menurut saya pribadi layak ditulis agar menjadi bahan renungan esok lusa. Apa ini fiktif atau nyata? Yang jelas dia ada, siapapun dia sahabat yang berkirim surat itu ada...
Seniga bermanfaat

Kecewa itu ternyata begini rasanya

Hi Din, bagaimana kabarmu?
Ku harap kau masih di harapan akan hidup yang membaik dari hari ke hari. Tak seperti diriku yang memandang waktu perlahan menggiringku pada masa-masa suram.

Din, harusnya kita bertemu saja agar aku bisa bercerita leluasa sambil menangis terisak padamu, aku harusnya mendapat tissue dari mu. Sama seperti malam-malam kita di Kos petak Pak Gun kala di Jogja bertahun silam.

Aku sesak Din, sesak sekali. Kau tau kan? Di telepon terakhirku aku menangis sejadi-jadinya karena 'dia' yang selama ini rutin ku rindukan, ku cintai tanpa jeda dan ku sebut namanya dalam do'a telah berhasil menghunus rasaku dengan tega. Dia berhianat, bilang bahwa lima tahun bersama adalah kekeliruan yang dibuatnya bersamaku. Apa maksudnya? Aku dihimpit kecewa Din. Sesak sekali.

Belum pula luka ku kering Din, kekecewaan itu datang lagi dengan wajah berbeda. Kau tau? Sosok laki-laki pertama yang ku lihat wajahnya di dunia berhasil memporakporandakan hati, hidup dan semua orang yg ku sayangi Din. Kau tau? Kajadian itu begitu cepat, saat aku sedang terseok-seok membenahi banyak hal, mulai dari, tanggung jawab perusahaan sampai adik-adikku, aku seperti ingin meledak mendengar kabar mengerikan itu.

Ayahku ternyata selama ini telah bersama wanita lain Din. Huuffft..

Entahlah Din, Allah sedang mengujiku untuk apa? Kau tau apa yang ku rasa ketika mendengar kabar itu? Seolah habis sudah sisa kepercayaan yang ku miliki. Habis bersama habis keringnya air mataku. Sempurna Din, aku kosong, tak setitikpun kepercayaan itu tersisa.

Berkelibat di benakku tentang banyak hal, tentang alasan yang diucapkannya tentang mengapa ia memilih bersama wanita lain disaat kami anak-anaknya masih disini, masih bersorak akan sosok ayah, di saat Ibu yang tak pernah kering tangannya melayani sebaik yang ia bisa hanya untuk Ayah. Kau tau alasannya apa? Menurutku ini alasan terbodoh yang pernah ku dengar. Bahwa "Ibuku tak cantik lagi". Ohh Tuhaan....
Din, bisa kau bayangkan. Laki-laki yang selama ini ku hormati dan ku sayang dan satu- satubya laki-laki yang ku yakini tidak akan menyakitiku berkata bahwa memilih wanita lain karna Ibuki tak lagi indah dipandang? Serendah itukah cinta Din? Aku remuk mendengar itu. Sungguh.

Pernikahan ayah dan ibuku memasuki tahun ke dua puluh enam. Dua puluh enam Din.... Berribu rembulan mereka lewati bersama, aku tak tau persis bagaimana hancurnya hati Ibuku. Yang saat ini masih terlihat menyunggingkan senyumnya padaku dan adik-adikku. Beliau masih tersenyum, senyum yang sama sejak aku terlahir. Tulus dari hati. Ibu hanya sering berkilah pada kami "Ibu harus tetap bertahan demi kalian, kalian harus tetap punya ayah"
Diin..... Drama apalagi ini? Aku sampai heran, terbuat dari apa hati Ibuku? Disaat ia disakiti oleh laki-laki yang ia cintai, yang ia lahirkan anak-anaknya dia masih bertahan dan alasannya adalah kami...

Sebenarnya Din, aku ingin sekali marah pada ayahku yang setega itu memperlakukan kami, tapi Din... Bagaimana mungkin aku marah dan acuh pada orang yang selama ini menyayangiku tanpa syarat. Bahkan, jika dibenarkan ingin rasanya aku tak bertemu dengannya, tapi bagaimana bisa Din? Aku sedih, benci, marah, kecewa pada ayah. Tapi apakah semuanya akan memperbaiki keadaanku Din?

Berat rasanya menerima kenyataan bahwa kekecewaan yang ku tuai adalah buah dari ujian yang di titipkan Allah pada ladang hidupku, tapi aku tak punya pilihan selain menuai semuanya Din, pun aku tak tau, sampai kapan kecewa ini terobati..
Aku rindu keceriaan di rumah kami Din, aku rindu makan malam bersama kami, aku rindu melihat ayah dan ibu berada di sofa yang sama dan saling merangkul, aku rindu banyak hal din. Termasuk kedamaian diriku...

Sudah Din, surat ini harus segera bertemu titik akhir, doakan aku sahabat, semoga aku kuat di ujian kali ini...

Dari sahabatmu yang sedang mengumpulkan puing bahagianya.
~D.N.I

Minggu, 20 Agustus 2017

Hari ketiga

Ole baiklah, saya sudah di hari ketiga treatment saya. Di hari ketiga ini saya mendapatkan tantangan *berjalan kaki disekitar tempat tinggal* not too hard, karena meskipun akhir2 ini saya jadi langganan ojeg online, saya masih sering juga jalan kaki. Tapi karena ini tantangan i will do it :)

Kebetulan hari ini saya ada jadwal wawancara lebih tepatnya diwawancarai oleh salah satu komunitas yang rencananya akan saya geluti enam bulan kedepan. Biasa komunitas yang gak jauh2 dari belajar mengajar.
Tadi pagi saya berangkat dari kos seorang teman di jakarta pusat, menumpang krl dan sempat berbagi tenpat duduk dengan seorang ibu berumur kurang lebih 50 tahun, senyumnya manis sekali ketika aku pamit ubtuk turun duluan (berbagi memang energi). turun di stasiun Kampus dan berjalan kaki ke tempat wawancara berlangsung.

Perjalanan yang lumayan, karena ketemu orang-orang baru, anak2 muda yang bersemabgat. Hahaha
Berasa tua sendiri di konunitas itu ( maklum sebagian mereka masih semester2 unyu2).

Perjalanan pulang pun menyenangkan, saya ketemu salah seorang volunteer.  cewek manis yang berasal dari palembang, kamipun berbincang sepanjang jalan sampai akhirnya berbisah di stasiun karena dia harus kembali pulang ke daerah Tangerang.

Sisa perjalan kembali ke kos saya berjalan sendirian, menyapa yang bisa saya sapa, berharap mendapat energi positif dari senyum banyak orang.

Begitulah jalan kaki saya hari ini... I feel better...
Thaen I do believe that positive energi can be transmitted...

Depok, 20 agust 2018
* saya menulis ini di depan nasi goreng yang mengepul dan diiringi lagu jawa dari warung nasi goreng :)

Sabtu, 19 Agustus 2017

Tantangan kedua

Hari ini hari kedua saya dengan self-treatment dengan #21daymentalwellbeing (salah satu referensi setelah berselancar di dunia maya). Jadi di hari kedua ini tantangan yang saya lalui adalah menulis 10 hal yang saya syukuri. Well, karena menulisnya di diary akan menjadi sangat biasa, maka saya coba menuliskannya disini, untuk besok lusa saya baca kembali.
Well, sebenrnya dari tadi pgi saya sedang memulai mencari 10 hal yang akan saya tulis di dalam list, tapi setrlah saya list kenapa ini lebih dari 10? Hehehe
Memang ya nikmat Tuhan itu uncountable and we never can do it.. Baiklah, say akan mulai menulis 10 hal yang saya syukuri:

1. Masih bisa bangun shubuh untuk tersungkur di atas sajadah di kos2an yang ukuran 2x3.
2. Bisa membaca beberapa potong ayat dn mengingatnya kembali
3. Bisa kuat puasa tanpa sahur
4. Bisa berbuka dengan masakan sendiri
5. Bisa ngobrol asyik dengan keluarga di rumah, teman2 yg berjauhan dan sekost
6. Bisa menolong orang lain
7. Bisa tidur siang
8. Bisa berbagi
9. Sehat
10. Punya keluarga yang menyenangkan

Mungkin itu hal yg bisa ku tulis malam ini,  tidak ditulis dengan skala prioritas tapi semoga mewakilkan kesyukuran bahwa kita masih diberi kesempatan untuk mencicipi nikmatNya, meski dosa kita menggunung tinggi, khilaf kita melangit luas...

Besok saya akan jaankam tantangan ketiga...semoga tetap istiqmah saya :)

Senin, 07 Agustus 2017

Cerita komuter

Mungkin ini adalah postingan yang entah kesekian kalinya sya tuliskan di gerbong krl. Iya, banyak sekali inspirasi bertebaran di sepanjang krl dan hal2 yang berkaitan dengan krl.
Mulai dari puluhan ekspresi wajah para penumpang krl yang seharian diselimuti penat bekerja, anak yang menangis, tawa sekelompok anak berseragam sma, ah banyak sekali ragamnya. Lengkap sebagai sampel ibu kota.

Kali ini mungkin saya akan sedikit cerita tentang hal paling biasa yang terjadi di kereta, tentang "berbagi" ah, ini biasa saja. Sungguh.

Jadi begini, penumpang krl ini beragam mulai dari bayi belasanminggu sampai dengan lansia. Di setiap ujung gerbong disediakan kursi khusus yabg dipriotitaskan untuk orang tua, ibu hamil dan penyandang disabilitas. Tapi tak jarang ketika krl lengang atau tak ada penumpang dengan kategori prioritas, penumpang biasa juga duduk. No problemo kan y?
Nah yang jadi masalah adalah ketika tidak sedikit penumpang yang tak tahu diri alias perlu bantuan untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai penumpang prioritas atau bukan. Miris kan ya?. Penumpang jenis ini biasanya seenak jidat duduk manis di kursi-kursi prioritas. Hiks
Itu salah satu potretnya, pada potret yang lain, kita akan banyak sekali menemukan jenis penumpang yang acuh tak acuh akan siapa disekitarnya. Iya, jenis ini banyak sekali ragam variannya. Sebut saja misalnya, ketika di stasiun pemberhentian tertentu seorang ibu-ibu sekitar umur 50 tahun naik dan tak mendapatkan tempat duduk. Saya tak jarang melihat betapa tak sedikit orang yang duduk yang notabene masih muda, laki-laki, kiat, sehat dan sibuk saja menatap layar handphonenya. Saya berasa ingin nimpukin kalo begini..
Jenis ini juga ada yang pura2 tertidur, jadi ketika di depannya adalah wanita dan mungkin lebih tua dia terbebas dari beban berbagi..
Ah membicarakan betapa kita mungkin sangat sibuk, sangat lelah, sangat membutuhkan istirahat, sangat penat dan sangat2 yang lain sehingga tak sempat memperhatikan di depan dan sampng kita adalah orang yang lebih berhak mendapat kenyamanan. Seegois itukah kita? Sekeras itukah hidup kita, sampai untuk berbagi saja kita ikut berat?
Tak sempatkah kita berfikir atau membayabgkan bagaimana jika ibu-ibu yang sedang berdiri itu adalah ibu kita dan tak ada yang peduli?

Saya menulis ini bukan berarti saya tak pernah melakukan 'dosa' di krl. Tapi hanya untuk mengingatkan diri saya sendiri untuk lebih peduli, lebih empati, simpati, merasa, dan lebih yang lain....

*bojong gede sampai cawang
7 aguatus 2018

Rabu, 26 Juli 2017

Di balik puisi

Di balik puisi
Aku bersembunyi
Sembunyi dari rindu tak berkesudahan
Dalam setiap barisnya
Ku simpan rintik air mata kepedihan
Di balik katanya rahasia bercerita.

Di balik puisi
Aku bercerita tentang kenangan juga angan
Karena membacanya berarti menapak
Masuk ke dalam labirin waktu.
Tersesat.

Di balik puisi
Ada sapa yang tercekat
Tertahan dalam gemuruh di dalam sana
Tak peduli tumpah basah kertas putih
Nyanyian itu tetap saja berputar pada keping piringnya

Di balik puisi
Takkah kau temukan dirimu di sana?
Bersama derai rindu yang menjelma jadi kata
Takkah kau lihat dirimu di baliknya?
Menari menjadi lakon utama.

Di balik puisi
Ku biarkan nestapa membiru
Ku ijinkan sukma membeku
Ku biarkan juga kau bersemayam

Di balik puisi
Aku menari sendiri
Diiringi nyanyian melankoli
Bertemankan temaram senja hari
Menjemput malam dengan sepi.
Sendiri.

Di balik puisi

~Depok
26/7/2017

Selasa, 11 Juli 2017

Sampai kapan anak dibohongi?

Saya sedang menunggu keberangkatan pesawat ketika menulis ini. Dari sela-sela kursi tempat saya duduk, saya mendengar suara seorang Ibu yang sedanng mengatur anak-anaknya. Dari sekian banyak kata yang diucapkannya, saya mendengar kata ini "Nak, di pesawat  kita harus pakai jaket dan jilbab kalo ndak nanti dimarahin pilot".
Saya terenyuh. Saya menoleh ke arah sumber suara. Dari sela-sela kursi saya melihat anak seumuran 4 tahun bersmaa kedua orang tuanya.
Dia anak yang ditegur Ibunya tadi karena ingin melepas jilbab dan jaketnya.
Mau sampai kapan kita berbohong pada anak? Menjejali ketakutan-ketakutan sesaat hanya untuk mendapat kepatuhan sesaat.
Saya pikir mungkin karena saya belum menjadi Ibu,  jadi saya belum terfikir alasan mengapa harus berbohong pada anak. Tapi, dari sekian banyak diksi kata, jenis kalimat dan redaksi, mengapa orang tua harus berbohong? Bukankah jelas sekali anak menyerap sekaligus mereplikasi banyak hal dari orang tuanya?
Banyak sekali contoh kebohongan yang sering kita dengar dari orang tua, kebohongan untuk menakut-nakuti agar anak patuh, agar anak menyelesaikan yang diinginkan. Misalnya saja kata "ayo makannya dihabisin dulu sayang, kalo gak makan nanti ditangkap pak polisi lho?" dikehidupan orang dewasa yang nyata, tidak ada satupun saya mendengar berita ada polisi yang menangkap tangan orang yang tidak menghabiskan makanannya. Lucu bukan? Kita menggunakan 'ketidaktahuan' dan kepolosoan anak untuk mempermudah urusan kita mengurus mereka.
Kita memaksa mereka untuk menuruti kehendak kita dengan cara yang kita inginkan, abai kita tentang kita sedang berbicara pada pelajar yang paling cepat.
Mereka merekam kebohongan kita, dan suatu saat ketika mereka menemukan kebenaran itu, jangan slaahkan anak jika kadang tak sepenuhnya patuh, percaya dan menurut sepenuh hati.
Karena sudah terlalu banyak kebohongan yang kita jejali di otaknya.
Pesawatnya, sebentar lagi berngkat. Saya save dulu. Lain kali kita ngobrol lagi.
Semoga besok lusa saya bisa jadi Ibu yang jujur. Karena jujur itu hebat *eh KPK bgt 😉

Selasa, 06 Juni 2017

Cumi Tumis Pedes

Sekali-kali boleh dong ya yang ditulis resep eksperimen menu berbuka :)
Pas banget untuk perantau yang kangen masakan seafood rumahan. (aslinya emang lg kangen rumah)

Bahan:
1/2 kg cumi segar
1 butir kemiri
5 siung bawang merah
2 siung bawang putih
3 buah cabe keriting
5 buah cabe rawit
1 lembar daun salam
2 buah tomat
Garam secukupnya
Gula sesuai selera

Cara memasak:
1. Bersihkan cumi sampai bersih, iris-iris
2. Rebus cumi sampai empuk, tiriskan.
3. Haluskan semua bumbu halus
4. Panaskan minyak,  dan tumis bumbu halus sampai wangi
5. Tambahkan 3 sdm air, daun salam,dan daun jeruk.
6. Masukkan cumi, aduk dan tunggu sampai bumbu meresap ( ±5 menit)
7. Cumi tumis pedas siap disantap. (2porsi)

Selamat menikmati :)

*do'akan Ibu istiqomah masak gak pake msg Nak :D

Sabtu, 03 Juni 2017

Ku adukan kau

Suatu malam
Mimpi itu datang lagi
Entah untuk kali keberapa
Tapi kali ini aku bangun tak lagi sembab

Ku tau kemana aku melangkah
Menuju aimpuh pengaduan

Suatu malam
Tak ada suara selain suara malam
Tak gerk selain gerak rangkaj waktu
Malm itu ku datangi Dia

Suatu malam
Satu persatu rasa sakit itu menghujam
Pilu
Kecewa
Marah
Lumpuh
sendiri
Hanya bertemankan Dia.

Suatu malam
Malam itu juga
Ku adukan kau padaNya
Ku ceritakan betapa kau datang tempo hari
Datang bersama penawar luka ku
Meski yakinku penuh
Bahwa tanpa ku beri tahu
Dia tahu segalanya

Malam itu jua
Ku adukan kau padaNya
Ku adukan tentang kau yang telah berbaik hati menerimaku
Bersabar menghadapiku
Tersenyum saat aku bertngkah aneh
Meredam amarah ketika aku salah
Ku adukan itu semua
Meski ku tau. Dialah yang Tahu kamu.

Malam itu jua,
Di atas permadani peraduanku
Ku adukan kau padaNya
Ku adukan tentang keinginan-keinginan yang pernah ada
Juga mimpi tentang diri yang ingin terua belajar
Tentang impi akan keyakinan akan garisMu

Tepat malam itu,
Ku adukan kau padaNya
Ku adukan kau yang pergi tanpa sepotong penjelasan yng dapat ku mengerti.
Ku adukan kau yang begitu saja membiarkan gadia kecil ini sendirian membalut lebamnya
Berderai air mata.

Tapi. Malam itu jua
Ku adukan kau padaNya.
Tentangmu yg sedang diuji
Semoga Dia berkenan kuatkan kau juga aku
Ku adukan kau padaNya
Agar kemurahan cintanNya selalu membimbingmu di jalanNya
Meski ku adukan kau padaNy
Ku tau Kuasanya lebih besar dari aduanku.

Sudikah kau adukan aku PadaNya?
Adukanlah,  betapa aku butuh cintaNya. 
Juga butuh dirimu. 

Ramadhan..
Depok

Jumat, 02 Juni 2017

Untuk apa ramadhan

Untuk apa ramadhan datang
Jika kita hanya sibuk saling sikut
Saling injak saling teriak

Untuk apa ramadhan hadir
Jika lapar dan dahaga berlalu begitu saja
Tak berbekas sebagai pisau intuisi

Untuk apa ramadhan kembali
Jika kita jumawa akan diri
Sibuk menghitung puing-puing yg kita miliki

Untuk apa ramadhan bertandang
Jika hadirnya tak bersama damai dan insyaf
Jika hadirnya tak lagi kau indahkan

Senin, 29 Mei 2017

Ramadhan dan Rumah

Hari ke-3 ramadhan, berjalan seperti sewajarnya.  Masih mencoba melawan diri sendiri untuk banyak hal. 

Saya masibg ingin bernostalgia dengan suasana ramadhan di rumah.
Dulu ketika masih kecil, momen ramadhan selalu manis untuk dikenang.  Bangun sahur dengan mata yang tidak bisa diajak kompromi,  'paksaan' yg dtang dari bapak untuk minum bergelas-gelas air, maklumlah tempat kami pesisir pantai yang panasnya lumayan.  Bapak waktu itu selalu meminta kami semua minum tiga gelas air yang tinggi, konon satu gelas untuk pagi,  siang dan sore.

Selepas shubuh kami biasa berjalan pagi bersama,  menuju ujung desa. Menuju bibir pantai sambil tertawa dan menatap matahari terbit bersama. Jika tidak kami semua sepakat tidur hihihi

Disiang hari, selepas sholat dzuhur Bapak sering mengajak kami tadarrus bersama di ruang sholat kami yang mungil.  Membaca al-qur'an secara bergilir, saling membenarkan bacaan dan mendengarkan.  Ah,  ini manis sekali....tertanam dalam long term memoryku dan berharap besok lusa rumahku dengan keluarga kecilku akan begitu. 

Bakda ashar kami sudah mulai hectic untuk mempersiapkan takjil,  menu andalan biasanya jadi perundingan setelah sahur,  aku yang selalu meminta mamak membuat pallubutung,  bapak yang minta barongko, ewi yang mibta suro manis dan kholis yang mintaa jus, tak jarang permibtaan kami berakhir dengan voting.  Ah,  mamak dengan keahlian memasaknya mampu menghipnotis kami semua. 

Masa-masa mempersiapkan takjillah yg menjadi masa tersulit,  energi yang tersissa tak seberapa,  sedangkan tuntutan untuk mobilotas meningkat.  Tak jarang meminta untuk menghantarkan makanan kesukaan kakek,  atau menghantarkan menu berbuka ke rumah paman-paman. Betul-btul sore yang melehakan.

Magrib tiba,  kami melingkar di atas tikar plastik di ruang tengah,. Iya,  meja makan hanya formalitas di rumah kami karena setiap waktu makan kami selalu duduk melingkar di atas tikar tanp kursi...  Aku suka makan seperti ini. 

Tak jarang Bapak bercanda ketika makan,  atau sekedar bertutur tentang betapa enak masakan mamak yang tak pernah berubah sejak 25 tahub yang lalu,  mamak tersipu malu.  Merona.
Jangan tanya betapa lahap kami makan,  walau hanya sayur bayam bening dan ikan bakar.  Restoran elit mah gak bisa ngalahin.

Selepas tarawih kami kerap tadarus sendiri-sendiri atau berkumpul di ruang tengah. Berbaring di depan tivi.  Berjejer drngan kepala di lengan bapak.  Sambil menonton atau mendengar cerita bapak. 
Malam yang menyenangkan bukan?

Begitulah sekilas ramadhan di rumah kecilku,  di tengah pulau sana. 
Momen manis setiap tahun,  karena hanya pada momen ini kami lengkap di rumah.  Tertawa,  diomelin,  saling bercerita. Kemewahan tiada tara.

Bagaimana?  Bagaimana ramadhan di rumahmu?  Jadi kapan kita serumah dan seramadhan bareng?  *eeh 🙊🙈
(kidding)

Jumat, 26 Mei 2017

Ramadhan dan momen mengumpulkn memori

Saat menuliskan ini,  saya persis sedang duduk di dalam salah satu gerbong kereta listrik menuju jakarta,  saya duduk dengan menghadap senja. Terlihat bayang senja yang sesekali nampak dibalik pepohonana dan gedung menjulang.

Besok ramadhan dimulai,  entah kenapa saya merasa belum siap saja menyambut tamu yng hanya datangnya sekali setahun ini. pertama, karena minggu-minggu ini sampai dua minggu berikutnya saya masih harus bergulat dengan ujian semester.  Kedua,  seperti ada hutang yang belum terbayar tapi apa?,  saya merasa ada yang kurang untuk berhadapan dengan ramadhan kali ini. Ketiga,  akhir-akhir inu Depok panasnya menggila,  berada di luar rumah seperti terasa panas di ubun-ubun. 
Begitu sekilas keadaan saya sekarg. Serasa ada yang ganjil. Maafkan aku ramadhan :(

Tentang ramadhan,  entah mengapa moment ramadhan selalu berhasil membobgkar memori setahun terakhir,  mencari bongkahan-bongkahan kejadian di ramadhan Sebelumnya. 
Contohnya saja sekarang,  saya sedang membayangkan memulai puasa tahun lalu,  ditengah kesibukan persiapan bahasa di Bandung,  dengan teman-teman kelas yang menyenangkan,  berjalan bersama menuju masjid salman dan tertawa sepanjang perjalanan.  Ini memori manis sekali, sekali2 momen persiapan menu berbuka di kosku daerah cisitu. Memasak pallubutung ataupun ikan khas aceh.  Ah...  Saya rindu kebersamaan itu.
Ramadhan tahun sebelumnya saya habiskan setengahnya di Jogja,  berburu takjil di masjid-masjid terkenal.  Bangun sahur dan masak ksendiri...  Saya juga berhasil rindu jogja...
Sebelumnya lagi,  saya habiskan ramadhan di tempat kkn,  bersama teman-teman tim kkn dan anak2 lucu desa posko.  Menghabiskan waktu sore dengan vermain bersama anak-anak di TPA atau sekedar mempersiapkan menu berbuka bersama,  memancing,  memetik sayuran,  berbelajanja ke pasar ujubg desa...  Ah saya rindu kulonprogo...

Lihat bagaimana ramadhan berhasil menghimpun memori2 indah selama perjalanan setiap tahunnya,  menjadi saksi akan pertemuan,  perpisahan dan kebersamaan.

Apa kabar tim wani rekoso?  Apa kabar anak kos jogja?  Apa kabar rangers?  apa kabar masjid salman?  Apa kabar kamu? Iya kamu.  Yang sampai sekarg belum berhasil beranjak dari mimpi-mimpi disetiap malamku. 

Sebentar lagi manggarai,  dan perjalanan ramadhan tahun ini baru saja akan dimulai. Senoga ramadhan menjadi obat yang terluka,  mempertemukan yang terpisah dan mendamaikan diri. 

Stasiun cawang,  26 mei 2016

Senin, 22 Mei 2017

Jilbab si Bondeng

Saya ingat betul bagaimana perasaan saya waktu itu,  sekitar lebaran di tahun 2003 yaah 15 tahun yang lalu. 
Waktu itu paman saya baru saja menikahi seorang perempuan yang memilihnya.  Dan lebaran di tahun itu adalah lebaran pertama kami dengan bibi baru.

Seingat saya waktu itu adalah malam-malam di penghujung ramadhan,  paman dan bibi baru saja tiba dari pulau seberang.  Aku bahagia sekali waktu itu.
Pertama karena paman yang paling dekat denganku dan menjadi role modelku dalam belajar dan seperti biasa, paman selalu memperlakukanku dengan sangat baik dan aku hanya bisa bermanja dengannya.
Kedua, apalagi kalau bukan tentang kado lebaran yang menurutku spesial. 
Jadi begini kawan,  dalam tradisi keluarga intiku tidak dibenarkan membeli baju di luar lebaran,  karenanyalah momen lebaran jadi momen yg ditunggu karena pertanda satu baju baru akan jadi koleksi terbaik bertambah. 

Akan tetapi lebaran tahun itu benar-benar iatimewa,  untuk kali pertama aku mendapat kado lebaran dari paman kesayanganku.  Jilbab berwarna coklat susu dengan renda putih di bagian bawah dan pat depannya.  sebenarnya bukan hanya aku yang mendapat kado jilbab itu,  tapi semua keponakan paman yang lain, dan waktu itu aku bingu bg memilih apakah warna coklat atau peach. Karena ku tau Ewi menginginkan jibab peach itu,  ku berikan untuknya dan aku harus puas dengan warna coklat.  Sepertinya paman dan bibi membeli satu lusin dengan model yg sama dan .  Ah apapun itu, aku bahagia sekali memiliki jilbab pertamaku itu. 
Ku ingat betul bagaimana jibab itu menjadi jibab pertama dan andalanku sampai warnanya tak lagi coklat,  lebih lusuh.

Entah mengapa,  memori tentang jilbab dan euforia memiliki jilbab menyenangkan bila diingat.  Betapa 'Bondeng' kecil menyukai jilbabnya.
Masih teringat jelas potret tawa bahagiaku mematut diri di depan cermin sambil memperlihatkan jilbab baru pada paman.  Mungkin itu kali pertama aku jatuh cinta pada jilbab. 

Sepertinya sudah saatnya giliranku menghadiahi jilbab pada peri-peri kecil itu (tak perlu menunggu mereka punya 'kakak'baru,bukan?) :D
Dan semoga mereka jatuh cinta pada jilbab lebih awal dibanding Bondeng.

*anak2 mungkin lupa pelajaran sekolahnya,  tapi "rasa" yang pernah diterimanya akan selalu diingat.

Depok, ditengah2 bala tentara UAS yabg memyerang.
 
Mei 2017

Kamis, 18 Mei 2017

Baru saja rembulan berlalu

Baru saja rembulan berlalu
Meninggalkan jejak rindu
Berucap pisah pada jiwa-jiwa yg menunggu.
Hari masih terhitung
Sejauh mana harap-harap tergantung
Membujuk rembulan tuk tinggal lebih lama
Karna perginya mengundang nestapa
Tangis dan juga lara

Baru saja rembulan berlalu
Malam-malam setelahnya hampa
menyisakan bayang-bayang semata
Tak peduli akan lara durjana.
Rembulan tetap saja beranjak

Baru saja rembulan beralu
Tatapan terakhirnya menyisakan pilu
Seolah berkata tak perlu lagi kita bertemu
Karena hanya bintang yang pantas bersamamu

Malam sempurna terhitung
Rembulan kembali lagi
Membayar rasa yang pernah dimulai
Merajut harap yang terserak

Baru saja rembulan berlalu
Tapi satu pertanyaan yang inginku ujar
Masihkah kita di do'a yang sama?
Masihkah kita mengingat mimpi yang pernah kita rajut?
Masihkah ada namaku dalam do'amu?
Masihkah kau simpan bayangku dalam kelopak matamu?
Masihkah?
Masihkah aku ada dalam memori dan harapmu?
Jika kau bertanya padaku tentang itu
Maka jawabku hanya satu "iya,  masih"
Semuanya masih sama.

Baru saja rembulan berlalu
Hujan pun begitu
Tapi ku harap kau tak lupa begitu saja
Bahwa ada 'kita' yang dulu kita semogakan
Semoga kau baik-baik saja.

Depok.  21 Mei 2017

Kamis, 11 Mei 2017

Perihal mimpi (II)

Ada kabar apa yang ingin dibawa mimpi?  dari sekian banyak kemungkinan hal,  peristiwa,  tempat dan cerita yang bisa jadi mimpi saya selalu tak pernah puas menemukan jawaban atas alasan mengapa harus mimpi itu yg datang.
Kisahnya selalu menyisakan tanya ketika terbangun.

Di mimpi itu,  matahari sedang terik-teriknya saya baru saja mendapat telfon dari teman di kota ribuan kilometer dari tempat saya berdiri saat itu,  di ujung sana terdengar suaranya berkabar tentang keadaan tidak menyenangkan.  Kau jatuh sakit dan sedang dirawat.
Ku tutup telfon itu setelah mengiyakan permintaan si penelfon untuk segera ke rumah sakit.  Aku menghela nafas panjang.  Aku harus berangkat segera. 

Tak lama berselang,  aku menemukan diriku berdiri di depan rumah sakit besar kota besar itu,  aku tak tau bagaimana bisa secepat itu aku berdiri di sana.  Aku berjalan menyusuri lorong rumah sakit,  tercium bebauan khas, bebauan dari obat yang bercampur dengan pengahrum ruangan dan juga cairan pel lantai.  lorong itu lengang, ku rasakan kecemasan yang tiba-tiba membungkus diriku,  kecemasan yang entah datang dari mana. Aku mempercepat langkah menuju kamar yang disebut penelfon tadi.

Sekarang aku berdiri tegak didepan pintu dengan kaca tebal dan gagang besi.  Tanganku kelu,  kakiku beku.  Perlahan ku tarik nafasku ku atur ritme jantungku.  Ku bujuk diriku untuk segera masuk, detik terlewati,  menitpun begitu. 
Kekuatan itu muncul berlahan,  ku sentuh gagang besi 15 derajat ke bawah dan perlahan pintu itu terbuka..

Ku temukan dirimu berbalut pakaian hijau,  khas sekali dengan rumah sakit. Belalai panjang selang yang tersambubg dengan tangan kirimu tak bergoyang sedikit pun.  Tak seorangpun di sana.  Pipiku tiba-tiba basah.
Kau terlihat tertidur dan pucat pasih. Tersendu aku dalam tangisku. 

Ku dekati dirimu, ku tatap dalam-dalam wajah sendumu. Tersadarkan aku betapa aku merindukan dirimu.  Aku masih menangis.

Sekarang Aku terduduk di sampingmu, dibenakku hadir tawamu,  ceritamu,  wajah seriusmu,  semuanya. Di telingaku ku dengar renyah tawamu,  panggilan nakalmu, bullyanmu,  semuanya.
Ku genggam erat tangan pucatmu.  Aku masih menangis dan kau tak jua terbangun.

Menit berlalu, jam berganti. Aku tertidur di sampingmu.  Aku terbangun ketika suara itu datang.  Terdengar suara gopoh menuju kamar ini. 
Seorang wanita paruh baya masuk bersama dua orang gadis remaja dan seorang gadis seumuran denganku.  Mereka menatapku seolah bertanya "siapa kau?  Sedang apa kau disini?" aku berdiri menyambut mereka dengan senyum yang ku letakkan sekenanya. 

Perempuan paruh baya itu tumpah menangis dan memelukmu, begitu juga dua gadis kecil itu.  Hanya gadis yang seumuran denganku yang berdiri mematung. 

Aku tau,  itu Ibumu dan kedua adikmu.  Aku pernah mendengar suara mereka di telfon waktu itu.  Tapi siapa perempuan berjilbab peach itu? 
Ruangan itu kini telah benar-benar asing bagiku.  Aku seolah tak ada.
Ibumu meliriku seolah berkata "apa yang kau tunggu wahai gadis?"
Aku tertunduk,  bingung hendak menjawab apa.  Seolah ingin segera lari tapi kakiku tertahan disana. 

Di tengah kebingunganku,  ibumu menghampiriku dan memegang tanganku. Mengajakku keluar dari kamar itu, tapi aku tak ingin meninggalkanmu.  Hatiku memanggilmu,  "ayolah bangun,  temani aku keluar bersama ibumu".
Tapi sepertinya suaraku tercekat di hati,  ku ikuti langkah ibumu keluar dari sana. 

"nak Dini,  saya tau kamu mencintainya,  saya bisa lihat dari bahasa matamu. Tapi keadaan sepertinya tak bernasib baik Nak.  Kau lihat tadi perempuan berkerudung peach itu?  Dia adalah gadis yang kami pilih untuknya. Jadi saya mohon,  tinggalkan dia." kata-kata itu terdengar begitu menyayat hati.  Aku kaku. Air mataku membeku, tubuhku juga... Sambil memegang tanganku,  Ibumu baru saja menjelaskan sesuatu yang mudah saja aku fahami. 
Aku tersnyum,  entah dari mana ku temukan kekuatan itu.  Sambil berkata "iye' Tante,  saya mengerti apa yang harus saya lakukan untuk orang yang saya cintai,  semoga berbahagia" akupin bingung dari mana keberanian itu ku dapatkan. 

Pembicaraan itu berakhir dengan pelukan hangat untukku dari ibumu di ujung lorong rumah sakit itu.  Dan setelah itu aku berdiri disana sendirian. 

Segera aku berlari entah menuju pintu apa,  aku tak peduli, aku ingin menangis sejadi-jadinya.  Rasa-rasanya dadaku sesak sekali.

Kini aku terduduk di kursi taman rumah sakit itu,  kata-kata yg baru saja ku dengar menggema,  wajah perempuan itu,  wajahmu,  wajah ibumu berganti cepat sekali sekali dimataku.  Aku menangis sendirian disana.  .tersedu lama sekali. 
Seorang tiba-tiba mendekatiku,  suaranya pelan namun berat " yang sabar ya Din,  kamu pasti kuat". Iya itu suara yang menelfonku tadi. 
"terimakasih Bawan,  sya sekarang mengerti". Balasku sekenanya sambil sibuk mengatur nafas karena sesak. 

Aku beranjak,  saatnya kembali ke kotaku. Aku terbangun,  masih dengan mata sembab. 

Depok,  Mei 2017

Senin, 08 Mei 2017

Obrol-obrol

Sore itu, langit mencekam,  bebunyian berderu dari langit, kilat menyambar.  Pertanda hujan akan turun menghujam tanah di penutup hari ini.
Saya memutuskan untuk menumpang mobil yg saya pesan secara online menuju rumah sakit,  di sepanjang perjalanan Bapak pengemudi membuka perbincangan seru itu.  Beliau laki-laki yang kutebak berumur 50an awal,  beliau memperkenalkan dirinya sebagai keturunan suku besar di Sumatra. 
Perbincangan kami berawal dari pertanyaan beliau tentangku,  hal ap yg membawaku sampai ke tanah metropolitan ini. Awalnya hanya ku jawab sekenanya,  karena aku sibuk memperhatikan hujan di luar sana.
Beliau bertanya tentang kesibukanku dan segera berceramah panjang ketika ku jawab dengan bilangan umur 24 dan status mahasiswi. 
"mbak,  kita boleh saja sibuk dengan mimpi2 kita,  cita-cita dan pekerjaan kita.  Tapi itu semua bukan alasan untuk tidak memikirkan kebutuhan akan menikah" begitu kira-kira kalimat pembuka beliau. 
Hujan di luar semakin deras, aku tersenyum sembari mengangguk mengiyakan itu.  Beliau kemudian bercerita tentang perjalanan beliau,  pekerjan,  sekolah,  sampai pada titik beliau bercerita tentang penyesalan.  Beliau menyebitnya sebagai penyesalan yang tak bisa disesali.  Apa pasalnya?  beliau melanjutkan "saya menyesal mbak,  saya baru menikah di umur 38, sekarng anak saya masih kecil saya sudh setua ini,  Saya menyesal atas keegoisan saya dulu karna menunda pernikahan". Aku mendengar dengan seksama suara Bapak yang sdah mulai bergetar itu. 
Aku bertanya sekenanya "mengapa Bapak memilih menikh di umur 38?" beliu tertawa geli mendengar pertanyaan konyolku.  Dan menjawab "saya tidak pernah memilih menikah di umur segini mbak,  tapi namanya perasaan kita tidak bisa paksakan" beliau menghembuskan nafas berat sekali.  beliau melanjutkan cerita tentang alasan dan sekelumit perjalanan beliau tentang masa lalu yang mau tidak mau menjadi alasan beliu menikah 'terlambat'.
Adalah seorng gadis yang berhasil membiatnya terpikat untuk pertama kali di bangku SMP, hubungn mereka berlanjut di SMA dan terbawa sampai keduanya melanjutkan studi di kota Istimewa Jogja. Pendek cerita, setamat kuliah beiau mendapatkan pekerjaan di Jakarta dan wanit pujaan hatinya memilih untuk melanjutkan studi dan tetap di Jogja. Tahun berganti,  tapi tidak dengan rasa sampai pada suatu saat keputusan besar harus menjadi pemisah kebersamaan mereka selama bertahun-tahun itu. Wanita yang dicintainya menikah atas desakan kedua orangtuanya,  meninggalkan laki-laki yang selama ini bersamany. 
"Sejak saat itu saya tak lagi berfikir akan menikah" sambungnya dengn suara tercekat. 
"Saya kembali melanjutkan hidup saya,  sibuk bekerja, berpindah dari satu kota ke kota yang lain, dan melihat dari kejauhan wanita yang saya tak sempat memilikinya" kalimat terakhirnya turun.  Aku sibuk mencari cara mengalihkan pembicaraan, ditengah hujn dan macet yang menjadi-jadi aku tak ingin Pria yang mengendarai mobil ini tiba-tiba hilang kontrol.
Tapi kekhawatiranku sepertinya berlebihan,  beberapa saat setelah beliau bercerita kegetiran itu,  baliau tersenyum. "mbak tau saya akhirnya menikah dengan siapa?, saya menikah dengan wanita palibg baik yg pernah saya temui.  Kami bertemu di acara reuni kampus. Dia senior saya jauuuh dulu. Ah saya tidak pernah menyangka reuni itu menjadi pintu kebahagiaan saya" tutur beliau dengan semangat. 
Beliau bercerita bgaimana perjalanan mendekati,  melamar dan khirnya menikahi perempuan Jawa itu.
Aku menarik nafas lega mendengar penutup cerita yang berbahagia itu.  Gedung rumah sakit tujuanku sudah nampak dari kejauhan,  aku hampir tiba.  Bapak pengemudi menutup perjumpaan kami dengan berkata "sukses ya mbk kuliahnya,  snoga segera mendapat pendamping". Aku tersenyum dan mengaminkan, tak lupa ku ucapkan terimakasih untuk cerita dan bintang lima di aplikasi onlineku.

Obrol-obrol

Sore itu, langit mencekam,  bebunyian berderu dari langit, kilat menyambar.  Pertanda hujan akan turun menghujam tanah di penutup hari ini.
Saya memutuskan untuk menumpang mobil yg saya pesan secara online menuju rumah sakit,  di sepanjang perjalanan Bapak pengemudi membuka perbincangan seru itu.  Beliau laki-laki yang kutebak berumur 50an awal,  beliau memperkenalkan dirinya sebagai keturunan suku besar di Sumatra. 
Perbincangan kami berawal dari pertanyaan beliau tentangku,  hal ap yg membawaku sampai ke tanah metropolitan ini. Awalnya hanya ku jawab sekenanya,  karena aku sibuk memperhatikan hujan di luar sana.
Beliau bertanya tentang kesibukanku dan segera berceramah panjang ketika ku jawab dengan bilangan umur 24 dan status mahasiswi. 
"mbak,  kita boleh saja sibuk dengan mimpi2 kita,  cita-cita dan pekerjaan kita.  Tapi itu semua bukan alasan untuk tidak memikirkan kebutuhan akan menikah" begitu kira-kira kalimat pembuka beliau. 
Hujan di luar semakin deras, aku tersenyum sembari mengangguk mengiyakan itu.  Beliau kemudian bercerita tentang perjalanan beliau,  pekerjan,  sekolah,  sampai pada titik beliau bercerita tentang penyesalan.  Beliau menyebitnya sebagai penyesalan yang tak bisa disesali.  Apa pasalnya?  beliau melanjutkan "saya menyesal mbak,  saya baru menikah di umur 38, sekarng anak saya masih kecil saya sudh setua ini,  Saya menyesal atas keegoisan saya dulu karna menunda pernikahan". Aku mendengar dengan seksama suara Bapak yang sdah mulai bergetar itu. 
Aku bertanya sekenanya "mengapa Bapak memilih menikh di umur 38?" beliu tertawa geli mendengar pertanyaan konyolku.  Dan menjawab "saya tidak pernah memilih menikah di umur segini mbak,  tapi namanya perasaan kita tidak bisa paksakan" beliau menghembuskan nafas berat sekali.  beliau melanjutkan cerita tentang alasan dan sekelumit perjalanan beliau tentang masa lalu yang mau tidak mau menjadi alasan beliu menikah 'terlambat'.
Adalah seorng gadis yang berhasil membiatnya terpikat untuk pertama kali di bangku SMP, hubungn mereka berlanjut di SMA dan terbawa sampai keduanya melanjutkan studi di kota Istimewa Jogja. Pendek cerita, setamat kuliah beiau mendapatkan pekerjaan di Jakarta dan wanit pujaan hatinya memilih untuk melanjutkan studi dan tetap di Jogja. Tahun berganti,  tapi tidak dengan rasa sampai pada suatu saat keputusan besar harus menjadi pemisah kebersamaan mereka selama bertahun-tahun itu. Wanita yang dicintainya menikah atas desakan kedua orangtuanya,  meninggalkan laki-laki yang selama ini bersamany. 
"Sejak saat itu saya tak lagi berfikir akan menikah" sambungnya dengn suara tercekat. 
"Saya kembali melanjutkan hidup saya,  sibuk bekerja, berpindah dari satu kota ke kota yang lain, dan melihat dari kejauhan wanita yang saya tak sempat memilikinya" kalimat terakhirnya turun.  Aku sibuk mencari cara mengalihkan pembicaraan, ditengah hujn dan macet yang menjadi-jadi aku tak ingin Pria yang mengendarai mobil ini tiba-tiba hilang kontrol.
Tapi kekhawatiranku sepertinya berlebihan,  beberapa saat setelah beliau bercerita kegetiran itu,  baliau tersenyum. "mbak tau saya akhirnya menikah dengan siapa?, saya menikah dengan wanita palibg baik yg pernah saya temui.  Kami bertemu di acara reuni kampus. Dia senior saya jauuuh dulu. Ah saya tidak pernah menyangka reuni itu menjadi pintu kebahagiaan saya" tutur beliau dengan semangat. 
Beliau bercerita bgaimana perjalanan mendekati,  melamar dan khirnya menikahi perempuan Jawa itu.
Aku menarik nafas lega mendengar penutup cerita yang berbahagia itu.  Gedung rumah sakit tujuanku sudah nampak dari kejauhan,  aku hampir tiba.  Bapak pengemudi menutup perjumpaan kami dengan berkata "sukses ya mbk kuliahnya,  snoga segera mendapat pendamping". Aku tersenyum dan mengaminkan, tak lupa ku ucapkan terimakasih untuk cerita dan bintang lima di aplikasi onlineku.

Kamis, 27 April 2017

Masjid dan penutup hari

Sore ini aku sengaja menghabiskan sisa hari di beranda masjid kampus,  selain karena ada janji dengan kak Siti aku juga merasa sudah lama tidak duduk menikmati pemandangan yang menyenangkan ini,  danau berair tenang di samping masjid,  anak-anak yang berlarian di halaman masjid,  halaqoh-halaqoh yang terdiri dari tiga sampai empat orang,  orang-orang yang duduk sendirian di sepanjang pelataran. Menurutku pemandangan ini selalu istimewa.  Mendengar sayup2 suara tartil dan tahsin dari halaqoh itu dansuara tertawa anak-anak yang riang bagiku melodi indah sebagai penutup hari. 

Aku jadi teringat sore-sore di Robbani,  suasanya hampir mirip,  menjelang senja. Aku selalu mengambil posisi beranda sayap kiri masjid yang berhadapan langsung dengan hamparan berhektar sawah dengan latar belakang gunung dengan ukiran tebing menawan. Sekitar tujuh tahun yang lalu kebiasaan itu ku lakoni.  Selalu di tempat yang sama.  Aku menikmti melihat sekelompok burung pipit yang berbondong-bondobg kembali ke peraduannya,  para petani yang jalan beriringan di pematang sawah lengkap dengan cangkul dan capit mereka,  para santri yang masih bersiap-bersiap kemasjid,  dengan mukenah putih dan sajadah di bahu kiri juga mushaf di tangan kanan.  Pemandangan ini selalu istimewa.  Oiyah,  satu lagi.  Suara sayup Qori' masjid yang melantunkan surat andalannya 'Abasa dan al-mulk.  Perpaduan yang menawan bukan untuk menutup hari? 

Kebiasaan ini juga yang sering ku lakoni dulu di Bandung,  jika malas langsung kembali ke kosan di daerah angkot ungu,  aku selalu mwmilih duduk di maajid seberang kampus,  entah msjid Salman ataupun Batan,  aku suka saja melihat aktifitas para mahasiswa di masjid.  Menghibur jiwa.
 

Iya, masjid. 
Memang selalu tempat mencari hati yang tertinggal,  tenang,  penuh dengan energi positif, jauh dari hiruk pikuk dunia yang menggila,  terasa Rahman dan Rahim menyelimuti kita. Menurutku selain tempat ibadah, masjid selalu tempat tafakkur dan tarbiyah terbaik. 

Masjid UI,  27 april 2017
*sedang menabung untuk masjid travel :)

Selasa, 25 April 2017

Rindu (?)

Beratus senja terlewati
Berpuluh rembulan terhitung
Aku masih saja sibuk sendiri
Sibuk mengemasi rinduku

Ratusan kata terbaca
Puluhan puisi tercipta
Aku masih saja disini
Memintal rasaku sendirian

Jutaan bulir bening membasahi gunung pipi
Ratusan nasehat terucap
Tapi aku masih saja dalam sedu sedanku
Iya,  sedu sedang sendirian

Aduhawai waktu,
Bantu aku. 
Bantu aku memanggil jiwaku yang lama tertinggal
Bantu aku menghimpun serpihan hati lebamku.
Bantu aku,

Aduhai hati.
Balut saja lebammu sendiri.
Aku lelah.
Benar-benar sedang lelah... 

Senin, 10 April 2017

Perihal mimpi

Mimpi itu datang lagi,  entah pertanda apa. Apakah kau baik-baik saja?

(1) di mimpi itu kita terduduk bersisian,  entah apa yang kita berdua sedang pikirkan.  Kita sibuk menghitung rintik hujan yang jatuh di depan kita sembari mengumpulkan puzzle kejadian, kita menikmati suara dentum air. Kau diam,  akupun begitu.
Tiba-tiba kau berpindah ke hadapanku,  sekarng kita berhadapan,  sekarang di hadapanku ku temukan dua mata yang selama in ku rindukan lengkap dengan bayang-bayang kekhawatiran di dalamnya.  Nampak sekali gurat resah di wajahmu.  Kau pegang erat tanganku,  perlahan bulir-bulir peluhmu nampak,  wajahmu spontan panik,  nafasmu tersengal,  hanya ada suara nafas itu di sela-sela hujan yang meringsut reda. 

(2) aku masih terpaku di hadapanmu,  aku masih setengah percaya separuh bingung.  Perlahan ku hapus peluhmu dengan telapak tangan kosongku,  ku hapus peluh gelisah itu sambil bertanya dengan suara bergetar "Daeng, kenapa ki? ", kau jawab aku dengan isak tangis penuh sesak. Tangan kananku menghapus jejak air mata itu.  Kembali ku sebut namamu "Daeng", ku eratkan genggamanku, berharap sisa energiku  untukmu.  Tangismu mereda. Tapi peluhmu masih bersisa.

(3) sisa pertemuan itu, berlalu masih dengan kebisuan.  Kau tak menjelaskan apapun,  dan aku tak memahami apapun.  
Aku terbangun dengan mata sembab,  rupanya aku menangis dalam tidurku.  Apakah kau baik-baik saja?  Apakah minpi itu hanya lelucon? 
Bagaimana jika aku berdo'a agar mimpi itu dapat tersambung hingga ku tau gundahmu,  setidaknya aku akan berdo'a untuk itu. 

Apakah kau baik2 saja?

Sabtu, 11 Maret 2017

Hahahihi

Alangkah lucu hidup ini
Dihadirkan ditengah manusia-manusia lucu
Dilakoni dengan kelucuan berrantai
Dibicarakan dengan gelak tawa berderu
Dinyinyir-kan oleh orang-orang konyol

Ha..ha..haa
Betapa lucu hari-hari kita
Bertumpu pada setumpuk kekonyolan semu
Beceritra tentang indah negeri dongeng
Tempat kita menertawakan dosa
Geli akan nista

Hi..hi..hi
Beginilah sajak lucu dari manusia lucu
Yang nyengir disela-sela komedi putar
Belajar guyonanan di ujung ruangan
Dan terbahak-bahak sendirian
Dan esok akan berteriak dengan penuh lelucon yang dimilikinya

Ha..ha..ha..
Sepertinya lelucon ini tak akan ada habisnya
Selalu mencari hulu dari hilir yang berbeda
Mengumpulkan reruntuhan gedung jenaka
Mencoba menggelitik hari-hari agar mereka tertawa bersama

Ha..ha..hi..hi..
Hai anak muda!
Tertawalah kau sebelum kau ditertawakan dunia
Karena dunia sedang candu tawa
Tak tertawa berarti mati
Akan dikenang di batu nisan
Menjadi cerita pada anak cucu
Bahwa kau pernah tertawa

Hi..hi...hihi
Tertawalah kau anak muda
Sampai habis suaramu
Hingga kaku perutmu
Dan suaramu tercekat karena tawa tak henti
Sampai suatu ketika kau dijemput ajal dengan tawa
Tak usah peduli tawa nyinyir manusia konyol
Mereka hanya akan menertaeakan ketawamu.
Karenanya, tertawalah..

Hahahaah....

Depok, maret 2017

Suara ibukota

Andai waktu dapat kumiliki
Akan ku ajak dia bersenda gurau, tanpa harus dikejar dan ditatar
Renta sudah ragaku
Berselimut kepalsuan dunia
Manusia berganti
Yang dicaripun semakin menggila
Manusia di atasku tak lagi waras
Nyawa tak lagi berharga
Demi hidup, mereka berlari, rakus, membunuh
Semua demi hidup.

Tak semalampun aku berhasil tertidur
Terjaga aku dalam mimpi buruk yang nyata
Tentang janji yang dikejar manusia
Lihat, bangunan tinggi semakin menjadikanku kecil
Seolah yang abadi hanyalah harta

Belum pula embun jatuh ke pangkuanku
Manusia sibuk berisik
Saling sikut saling maki
Saling sorak tentang kebenaran
Padahal berkubang mereka dalam kebohongan
Kebohongan bertahtakan keangkuhan dan ingin tak bertepi

Jangan kau tanya tentang senja
Padaku, senja tak pernah datang menyambangi
Senja hanya menjadi kawan lama
Terhijab kepulan ego manusia
Padahal abad sebelumnya, teh hangat selalu jadi cerita kami
Semuanya hanya tinggal cerita

Lihatlah aku sekarang
Bertutur sendiri tentang nestapa
Mencoba mencari jawaban ditengah jiwa-jiwa hampa
Seolah mencari namun tak pernah tau
Hanya waktu yang dapat ku hitung
Menanti kapan giliranku pergi
Berucap pamit pada manusia setengah patung
Agar sadar mereka kepada diriku
Diri yang renta nan lelah.

Depok, 11 maret 2017

Selasa, 07 Maret 2017

Rayuan malam

Pelopak mata sang malam beranjak terkatup
Mengucap salam perpisahan pada jiwa yang masih gamang
Aku masih di atas sajadah penuh aduanku
Terduduk menghitung hujan yang menetes dari dalam jiwa
Aduhai diri
Malam akan lekas berlalu
Hari tak lagi sama
Pelangi akan indah dengan lengkungan ke atas
Mengapa kau termangu melengkung ke bawah?
Hari akan menjemputmu ke dalam hidup esok hari
Mengapa menoleh pada yang telah pergi?
Ditengah harimu, kau hanya akan sendiri
Tak bertemankan janji tempo hari
Tidurlah wahai malam
Pejamkan mata indahmu dengan tenan
Kan ku jemput kau esok hari

Minggu, 05 Maret 2017

Baby iam in love

Ini salah satu foto favorit saya dua minggu ini, akhir pekan kemarin kami menyempatkan diri mengunjungi kediaman seorang classmate yang baru saja kehadiran malaikat kecil di dalam keluarganya.
Namanya Shanum, bayi 3 bulan ini cantik sekali, matanya masih mencari cari warna, bergerak sesuai warna tertentu, kadang menggeliat, kadang merengek.
Awalnya, saya ragu menggendong Shanum, karena memang belum pernah menggendong bayi berumur bulanan. Tapi
Bundanya menyodorkan Shanum kepadaku, katanya belajar terbiasa menggendong bayi... hihihi
Shanum hanya terjaga beberapa saat digendonganku. Beberapa menit setelahnya dia pulas sekali, lucu sekali melihat matanya yang perlahan tertutup.
Pengalaman pertama menggendong bayi ini menurutku menyenangkan, terlebih shanum yang langsung tertidur di dalam gendonganku.
Bahagia rasanya melihat Shanum tertidur pulas sekali di atas lenganku. Kalo kata teman2 "gmana gak langsung tidur Shanum, itu lengan empuk bgt".
Hahaha.. saya bahagia.

Kamis, 23 Februari 2017

Detak malam

Aku masih menghitung detak malam
Mengukir gulita
Mengeja rindu
Meski engkau entah dimana
Dibalik sayup angin menyambut maret
Ku intip kau dari kejauhan
Ah ternyata kau telah berhasil melupakanku
Bahkan menolehpun kau enggan
Hanya ingin ku ucapkan selamat padamu
Padamu yang berhasil meninggalkan jejak padaku
Kau tau?
Jejakmu ku susuri sendiran
Berharap kau kembali
Tapi kau ditelan mega senja tadi
Pergilah, jika pergi membuatmu mampu tersenyum
Abailah terhadap air mataku
Ini hanya akan menjadi jejak baru
Terimakasih telah hadir
Terimakasih ubtuk pernah berjalan bersisian denganku
Setidak aku pernah bahagia kala itu
Akan ku ingat selalu rasa bahagia itu
Hingga masih ada kesempatan tersenyum untukku
Meski luka itu ku balut sendiri.
Jika kau bertemu bayanganku diperjalananmu
Kau kan kubiarkan menyapaku
Jikapun itu kau masih ingat aku
Oiyah, aku lupa
Bahwa kau telah berhasil melupakanku, bahkan bayanganku.

Depok 24 feb 2017

Rabu, 22 Februari 2017

Mamak (part I)

Kalian tau? Saya selalu gagal menuliskan tentang satu sosok ini. Iya, Mamak.
Saya bingung mau mulai dari mana, dari sisi apa, dan dengan kata apa. Berkali-kali saya mencoba memulai menceritakan detile tentang Mamak tetap saja saya gagal, entah. Sepertinya setiap kali ingin atau tengah menulis tentang Mamak saya selalu gagal mengalajkan luapan kabut di kelopak mata saya.
Malam ini, saya hanya berwhatsapp singkat di ruang chat yang berisikan saya, Mamak dan Ewi (adik saya).
Seperti biasa, Mamak selalu bertanya tentang hal-hal sederhana namun berarti, seperti sedang dimana, sudah makan, sedng sama siapa dan seterusnya. Pun saya, bertanya hal yang sama adalah ritual memulai pembicaraan.
Jam setengah 11 malam, mamak masih membalas percakapan di WA, katanya sedang menyelesaikan pembuata RPP untuk tiga mata pelajaran esok hari. Saya meminta Mamak mengirimkan fotonya sebagai pelepas rindu. Ah saya selalu rindu..
Saya selalu rindu dengan kebiasaan Mamak mengelus kepala sebelum tidur sampai saya tertidur, tiba-tiba mencium ketika saya tidur atau pura2 tidur. Atau terbangun dengan selimut membungkus badan.  Saya selalu rindu kehangatan itu. Ah Mamak.
Pernah suatu malam Mamak tetiba menangis tersedu-sedu, aku bingung dan kemudian bertanya.
"Kenapa kita (sebutan You untuk org lebih tua dlam bahasa Bugis) nangis Mak?" Tanyaku sambil menahan tumpahan air mata demi melihat beliau tersedu.
"Mamak ini yatim piatu sejak kecil, tidak punya satu orangpun dalam hidup yang benar-benar menyanyangi Mamak, kalau bukan kalian anak-anak Mamak, Mamak ndak punya siapapun", air mata beliau semakin deras, menangis sedih sekali.
Aku hancur, tak berdaya.
Meskipun Mamak sering sekali berbicara betapa beruntungnya kami yang masih berBapak-Mamak, tapi pernyataan kali ini benar-benar berhasil menyayat. MAMAK TAK PUNYA APAPUN DAN SIAPAPUN SELAIN KAMI BERTIGA ANAK-ANAKNYA. Apa saja yang selama ini aku lakukan? Bukankah aku selama ini egois? Membiarkan orang yang paling menyayangiku khawatir, cemas, sedih tentangku?
aku sadar, durasiku di tanah rantau lebih banyak dibanding dengan kebersamaanku bersama Mamak, ku hitung-hitung aku hanya menghabiskan 11 Tahun yang benar2 bersmaa Mamak, selebihnya hanya kebersamaan singkat ketika liburan semester atau hari raya. Sekarang kami bertiga tumbuh di tanah rantau masing-masing, di tiga provinsi yang berbeda, mamak hanya kami sambangi paling banyak 2 kali setahun. Aku sadar bagaimana Mamak dan Bapak berubah aura kebahagiannya ketika kami semua pulang ke rumah. Aku bisa merasakan pancaran kebahagiaan itu.
Tapi bukankah merantau ini adalah amanah mereka berdua?
Sudah, saya sudah tidak kuat lagi mengetik. Mata saya sedang kebanjiran.

Your my soul. Let me Be your besr part of life

Depok, 23 Februari 2018

Minggu, 19 Februari 2017

Wedding or Marriage?

hari ini saya menyempatkan diri menemani dua oraang sahabat yanng udah kayak saudara sendiri mengunjungi Indonesia International Wedding Festival, pameran Wedding Organizer di salah satu pusat pameran di Jakarta, sebenarnya saya kurang tertarik dengan acara yang akan saya kunjungi ini tapi mengingat salah seorang sahabat yang udah kayak kakak kandung saya sedang proses persiapan pernikahannya maka saya putuskan untuk ikut.

masuk ke ruang utama gedung pameran itu, kami langsung disuguhkan nuansa pesta perkawinan, dindning dengan dekorasi penuh buket bunga, lampu-lampu hias yang menawan, deretan stand yang menwarkan jasa mulai dari foto, dekorasi, pakaian pengantin, undangan, souveni sampe catering. kami berkeliling, mampir dari satu stand ke stand yang lain, berkomentar tentang nuansa apa yang sesuai untuk kakak yang sedang mempersiapkan pesta istimewanya itu.

tidak jarang kami bertiga tertegun melihat betapa indahnya apa-apa yang dijajakan di stan-stand itu juga melongo melihat angka yang cukup fantastis untuk mewujudkannya di suatu acara. tidak tanggung-tanggung nomnal rupiah yang disebutkan di dalam katalog mereka atau dilabel harga produk mereka, sebut saja di salah satu stand fotografi khusus resepsi harga paling rendah adalah 15 juta rupiah, wow... hanya untuk berfoto? menurutku ini lumayan..
belum lagi melihat daftar harga sewa gedung, harga paket catering, harga souvenir, undangan, sewa baju dan make up. huuufftt... saya sesak membayangkan betapa mahalnya pesta itu dibeli, betapa tinggi harga yang harus dibayar untuk menjadi ratu sehari.

berkali-kali saya tercengang untuk itu semua, saya membayangkan besok lusa akan mempersiapkan untuk itu semua, ngeri rasanya. lagi-lagi saya mengingat sepotong pembicaraan bersama Mamak di suatu sore. saya bertanya tentang apa sih sebenarnya yang harus dipersiapkan untuk pesta pernikahan (note: pertanyaan ini hanya basa basi untk tau saja, tidak lebih.), waktu itu Mamak menyebutkan nominal yang menurutku sangat besar. waktu itu aku mencoba "protes" ke Mamak tentang itu, karena menuruku ini berlebih, tapi kala itu Mamak menjelaskan sabar sekali tentang pandangannya. aku diam.

baiklah, diluar pemahaman yang coba diberikan Mamak padaku tempo hari aku sebenarnya sampai sekarng masih pada keyakinan bahwa apa sih yang sebenarnya penting untuk dipersiapkan?kenapa seolah sibuk sekali kita mempersiapkan pesta dan segala perna perniknya sampai lupa hal penting lainnya. Iya, kita sibuk meranccang, merencanakan, mempersiapkan WEDDING kita, konsep akadnya, pestanya, jumlah undangannya, dstttt... tapi luput kita memahami bahwa hal penting dari itu adalah kehiidupan setelahnya yaitu MARRIAGE, iya kehidupan yang nyata setelah pesta itu, kita kadang abai mempersiapkan diri menerima kekurangan pasangan, membuka diri terhadap kenyataan-kenyataan berumah tangga, mempersiapkan bagaimana memanage emoosi bersama dengan pasangan, mengatur keuangan, prinsip-prisp dalam rumah tangga, sampai meninjau tujuan pernikahan.  dan puluhan bahkan ratusan list persiapan lainnya yang menurutku Jauuuuuuh lebih penting dari sekedar momen yang diabadikan melalui selembar foto. bukankah kita ingin membangun surga di dunia dan menggapai Surga sesungguhnya bersama? lantas? sudah sejauh mana kita mempersiapkan diri untuk surga kita?

*ini hanya refleksi pribadi, tidak bermaksud apa-apa. saya suka pesta,s aya suka makan dan berfoto tapi saya lebih mendamba keluarga bahagia di kemudian hari, bersama. #eeaaak :D

Sabtu, 11 Februari 2017

Di kening rembulan

Dihadapan kening rembulan
Duduk aku bersama cangkir kopiku
Isinya hanya tinggal setengah
Menyisakan garis jejak kopi yang ku teguk sejak menit berganti tadi
Setengahnya lagi sengaja ku kosongkan
Sengaja ku isi dengan rasa yang tertinggal
Ku seruput setengah kopiku lengkap dengan rasa itu

Dihadapan kening rembulan malam ini
Aku tersenyum, tak semanis kopiku
Ada getir yang datang bersama sambar petir
Aku gagu, di hadapan sepiring kentang goreng hangat
Ah, aku selalu saja gagal menanggalkan sepiku

Rembulan kali ini meninggi, terlihat dari ujung-ujung kersen berjejer
Bulat buah kersen musim penghujn persis bulat rembulan malam ini
Merahnya pun mengalahkan merah senja
Adakah rembulan di langit kotamu?
Dapatkah kau melihat bulat sempurnanya?
Oiyah, katamu tak ada yang sempurna.
Pun rasa kita.
Tapi sungguh, bukan hanya kening bulan yang tampak indah
Malam pun begitu.
Tapi bagaimana malam ini akan indah tanpa kau di hadapanku?
Iya, kau benar. Tak ada yang sempurna.

Kening malam ini menemaniku menghabiskan sisa kopiku
Sambil memintal do'a dari sisa-sisa pengharapanku
Pintalan yang akan ku ulum ke hadapan arsy
Menyelimuti dinginmu disana
Menemani sepimu
Menjadi penawar lara dan penghapus bulir kesedihanmu
Menemanimu untuk menemuiku
Ku pintal dengan sisa-sisa memar dihatiku
Karena ku yakin Allah akan dengan segera tau
Usaha mana yang diperhitungkannya

Di kening rembulan, ku kecup pelan
Dihantarkan hujan
Aku kembali,
Kembali ke pelukan malam
Menghitung detak rindu yang tersisa
Berharap rindu ini tak membunuhku sia-sia
Hingga esok, bumi akan bercerita tentang do'a-do'a

Terimakasih Rembulan
Terimakasih juga kau, tempat separuh hatiku terbawa.

Depok, 12 Feb 2017

Jumat, 03 Februari 2017

Dibawah kamboja

Di bawah geguguran bunga kamboja
Bertemankan gulita dan makhluk melata
Apa yabng terbawa?
Hampa
Hanya amal yang sibuk kita mneghitungnya tempo hari
Tapi ternyata?
Tak kuasa kita menuntut apapun
Karena tangan berucap, mata berucap
Segalanya berucap sendiri
Tinggallah kita berharap bersua di atas sajadah lagi
Merangkai harapan kepada mereka di atas tanah
Mengirimkan bait2 do'a tersisip nama kita
Tapi ternyata tidak
Di bawah tanah memerah
Sisa2 hujan dan airmata menghantarkan
Tapi peduli apa kita pada mereka?
Karena kitalah sendiri sekarang, sendiri.
Diruang selebar bahu
Kita mendapati diri kita sendiri
Melepas pakaian jumawa yang kita pilin benangnya setiap hari
Kita ukur setiap jengkal bersama peluh mendidih
Mematut diri tertawa, bersama dunia
Sekarang?
Semuanya tertinggal disana
Di istana mewah disana
Tak peduli disini tak beralas apa2
Pada waktu itu?
Kita hanya tiggal nama, terlupa.

Rabu, 04 Januari 2017

Tinggalkan kota

Malam ini, ku tinggalkan kotaku
Menuju tanah tempatku mengawali ejaan hidup
Ku tinggalkan apa-apa yang menyesakkan dari hari-hariku disini
Bersama jejak-jejak yang pernah kau tinggalkan bersamaku
Malam ini, dihantar bulan yang enggan nampak
Aku pulang
Entah kapan ku akan temukan suaramu kembali
Tapi ku harap kau baik disana
Ku harap kita berdua masih di do'a yang sama sayang

ع.م.ن
Depok, menuju bandara

Aku memang egois

Aku memang egois
Mencintai dan merindukanmu sesuka hatiku
Memberontak sendiri pada jarak
Mencari-cari celah untuk mendengar suaramu
Padahal tak semestinya ku lakukan itu
Akupun iba pada diriku sendiri
Yang terlampau menyayangimu
Yang bersedia setiap malamnya kau datangi dalam mimpi
Berharap ketika bangun pagi kau sapa dengan manis
Aku marah pada diriku yang berharap kau lakukan itu semua

Aku memang egois
Masih menunggumu membuka pembicaraan tentang diam
Karena aku mulai tak mampu membendung rasaku
Sejuta rasa yang merajai benak juga jiwaku
Jawaban tentang mengapa kau lenyap begitu saja
Meninggalkan aku bersama kesendirianku
Meninggalkanku dengan tak satupun kata yang bisa ku mengerti
Lenyap bak ditelan nestapa

Aku memang egois
Tak mampu bersabar untuk memberimu waktu dan ruang untuk sendiri
Aku terlalu mencarimu
Menyapamu terlalu sering
Merindukanmu terlalu banyak
Mencintaimu tak terbilang
Ini keegoisan yang ku benci
Kau entah pergi kemana, entah untuk kembali ataun tidak
Aku tak tau

Aku memang sangat egois
Membiarkanmu pergi
Meninggalkan apa-apa yang telah kita mulai
Menjauhi hal yang kita khawatiri
Menyembunyikan rasa yang kita miliki
Membendung isak juga rindu sendiri-sendiri.
Mestinya aku tak seegois ini.

Maafkan aku yang egois ini
Karena sampai saat ini aku masih menunggumu.
Maafkan aku

ع. م. ن
Depok, 4 Jan 2016