“Hola
escaper” satu pesan masuk dari whatsapp, dari mory-teman yang memulai
pertemanan di kampong Inggris Pare tahun lalu- sejak dari pare, nekat naik
semeru sampai sekarng banyak yang jadi bahan pembicaraan kami mulai dari
pengalaman kerja, novel, lagu, tokoh sampai hal-hal absurd lainnya. Pesan dari
mory itu menurutku penuh makna mengingat beberapa waktu lalu kami sempat
membicarakan masalah hidup kami yang entah mau dibawa kemana.
Aku
ingat waktu itu aku mengakui banyak hal-hal pengecut yang aku lalukan untuk
mengelak dari kenyataan, mencoba menentang apa yang tersurat meskipun pada
akhirnya aku terseret juga. Terseret kembali ke yang orang dewasa sebut itu
takdir.
Aku
jadi teringat betapa linglungnya aku tahun lalu, linglung yang mengantarkan aku
ke kota ini sekarang, 2015 menurutku tahun
pelarian. Lari dari satu kebingungan yang satu menuju ke kebingungan
yang lain, saat itu sukar mendefinisikan arti mendapatkan karena menurutku
setiap kali aku mendapat sesuatu, maka dalam waktu bersamaan akupun kehilangan
sesuatu milikku. Menangis dan tertawa diwaktu yang bersamaan. Melehkan.
Pelarian
itu juga yang mengantarkanku ke tempat-tempat baru, bertemu dengan orang-orang
baru dari berbagai daerah dan juga mendaki gunung. Pelarian itu juga yang
menyadarkanku tentang pelarian yang aku lakukan selama ini. Benar kata orang,
bahwa perjalanan sendiri adalah salah satu media kontemplasi sesorang.
Tapi
apakah aku kemudian menyesal? Secuil, karena pelarian kemudian mendewasakanku
dengan caranya, bukankah setiap orang punya jatah gagal? Ku ijinkan pelarian
tersebut menjadi salah satu kegagalan dalam perjalanan pencarian
Saat
ini, belum bisa ku pastikan apakah yang kuyakini itu hanya sebatas
pembenara-pembenaran yang ku karang sendiri atau memang begitu adanya. Aahhhh,
bukankah kita berhak berkeliling mencicipi warna sampai pada waktunya nanti
kita kembali ke warna kita sendiri. Iyah!
Bandungm
05032016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar