Selasa, 03 Mei 2016

an Escaper

Hola escaper” satu pesan masuk dari whatsapp, dari mory-teman yang memulai pertemanan di kampong Inggris Pare tahun lalu- sejak dari pare, nekat naik semeru sampai sekarng banyak yang jadi bahan pembicaraan kami mulai dari pengalaman kerja, novel, lagu, tokoh sampai hal-hal absurd lainnya. Pesan dari mory itu menurutku penuh makna mengingat beberapa waktu lalu kami sempat membicarakan masalah hidup kami yang entah mau dibawa kemana.
Aku ingat waktu itu aku mengakui banyak hal-hal pengecut yang aku lalukan untuk mengelak dari kenyataan, mencoba menentang apa yang tersurat meskipun pada akhirnya aku terseret juga. Terseret kembali ke yang orang dewasa sebut itu takdir.
Aku jadi teringat betapa linglungnya aku tahun lalu, linglung yang mengantarkan aku ke kota ini sekarang, 2015 menurutku tahun  pelarian. Lari dari satu kebingungan yang satu menuju ke kebingungan yang lain, saat itu sukar mendefinisikan arti mendapatkan karena menurutku setiap kali aku mendapat sesuatu, maka dalam waktu bersamaan akupun kehilangan sesuatu milikku. Menangis dan tertawa diwaktu yang bersamaan. Melehkan.
Pelarian itu juga yang mengantarkanku ke tempat-tempat baru, bertemu dengan orang-orang baru dari berbagai daerah dan juga mendaki gunung. Pelarian itu juga yang menyadarkanku tentang pelarian yang aku lakukan selama ini. Benar kata orang, bahwa perjalanan sendiri adalah salah satu media kontemplasi sesorang.
Tapi apakah aku kemudian menyesal? Secuil, karena pelarian kemudian mendewasakanku dengan caranya, bukankah setiap orang punya jatah gagal? Ku ijinkan pelarian tersebut menjadi salah satu kegagalan dalam perjalanan pencarian
Saat ini, belum bisa ku pastikan apakah yang kuyakini itu hanya sebatas pembenara-pembenaran yang ku karang sendiri atau memang begitu adanya. Aahhhh, bukankah kita berhak berkeliling mencicipi warna sampai pada waktunya nanti kita kembali ke warna kita sendiri. Iyah!


Bandungm 05032016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar