Selasa, 24 Mei 2016

cerita semangkuk sup

"khoiru al idaam al juu'" pernah dengar kata ini? mungkin dalam bahasa Indonesia ini artinya "lauk terbaik adalah rasa lapar", saya tiba-tiba teringat kalimat ini setelah tadi sore memasak semangkuk supkrim-resep dari kak Ita- yang saya santap dengar beberapa lembar roti tawar panggang.
sebenarnya beberapa waktu terakhir memang saya menyempatkan diri memasak sayur sendiri karena merasa asupan sayuran saya minim. sup krim ini saya akui baru pertama kali saya coba masak sendiri. tapi jangan tanya rasanya, emang enak? iam not sure too hahah.
tapi saya menikmati sup krim ini karena beberapa faktor, diantaranya: di luar sedang hujan jadi hangatnya supkrim ini cukup berhasil menghangatkan, perut saya yang amat sangat lapar menjadikan sup ini jaauh lebih istimewa dibandingkan makanan lainnya, porsi jumbo plus dua lembar roti tawar daaan kerinduan saya pada sayuran terobati.
nah dari sekian banyak faktor itu saya merasa faktor utamanya adalah: keadaan lapar ketika menyantap semangkuk sup ini, karena (menurut pengalaman) mau seenak apapun makanan yang kita makan tapi kalau perut kita kenyang, alamat makannya biasa aja :) itu kenapa "lauk terbaik adalah (lauk yang dimakan) ketika lapar".
"sama sekali tak istimewa, mungkin hanya rasa lapar yang membuatnya terasa nikmat, karena itu akupun tak yakin aku dapat memasak ini dengan baik untukmu kelak hingga kau akan selalu merindukan rumah kita"
Berbicara masalah masakan, saya jadi ingat kebiasaan bersama teman satu kontrakan dulu di malang, kami berdua sepakat untuk belajar memasak tanpa msg dan mengkonsumsi sayuran  dan buah segar, alasan kami waktu itu cukup sederhana, yakni agar esok lusa kami terbiasa memasak untuk suami dan anak tanpa msg dan juga hanya menyuguhkan mereka makanan terbaik *haaseek :D

saya ingat pekarangan rumah kontrakan di malang dulu penuh dengan berbagai jenis sayuran organik mulai dari sawi, kangkung, terong, bayam, cabe, tomat, strowberi, kucai, sampai daun sirih dan kumis kucing, sebenarnya tetangga kami yang baik hatilah yang menanam semuanya, saya hanya membantu menyiram atau sekali-kali juga menanam, beliau beberapa kali berpesan, "Din, paling tidak setiap harinya makanan yang dimakan oleh suami dan anak kita itu sehat", oleh karena itu setiap paginya Ibu tetangga kami ini selalu memasak sayuran berwarna hijau untuk menu sarapan anak sebelum berangkat sekoalh atau suami sebelum beraktifitas, dikala itu saya yang masih lugu ini (apaa? lugu?) cuma mengangguk mengiyakan. mungkin besok lusa nasehat berharga ini sangat bermanfaat. Terimakasih Ibu,

Saya bukan perempuan yang lihai di dapur, bahkan sering lupa mana yang merica mana yang ketumbar, sering tertukar mana kencur dan jahe, tapi saya selalu ingat pesan mamak tentang masak dan masakan, bahwa selama masakan itu di masak dengan hati, rasa cinta juga percaya diri, rasanya akan jauh lebih baik. itu kata mamak setiap kali saya nimbrung di dapur.

dihadapan mangkuk Sup yang telah kosong,
Bandung Dingin, 24 Mei 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar