Jumat, 30 November 2012

j.o.g.j.a (seribu rasa satu warna)

jogja itu sederhana yang punya nilai romantika yang tinggi,
jogja punya  seribu satu rasa dalam kesederhanaannya.
dalam setiap seruputan "kopi joss" sepanjang rell
jogja punya makna dalam hangatnya "wedang ronde"
jogja punya cerita dalam "pendowo limo"nya
jogja sarat akan makna hidup.makna akan hi  dup yang keras, butuh perjuangan tapi tetap saja tidak kehilangan rasa di dalamnya.
 . . . . . .
j.o.g.j.a
tak perlu kau kerutkan dahi untuk membuat antitesa dari padanya
karena ia telah punya warna sendiri yang tak akan pudar meski kelak waktu akan terus berlari bahkan secepat kilat
jogja tak sekedar berhati nyaman
namun juga menyimpan seribu satu cerita duka,
entah berapa ratus janji yang telah terkhianati di jogja ini
dan telah jutaan bahkan milyara janji yang terikrar...
entahlah..
jogja, tetaplah jogja.... jogja tetaplah istimewa
tak sebatas tugu dan alun-alun
juga tak sesederhana angkringan
tapi juga tak semegah singgasana raja....
di jogja..
segala bentuk hidup dari berbagai dimensi akan kau jumpai.
....
hah, jogja, selalu saja ada cerita di balik kesederhanaannya
tiwul, gudeg,ronde, wedang, kopi joss, ankrinngan, musisi jalanan, bakpia, skatenan, burjo dengan Tante dan magelangannya...........

istimewa, selalu :D

jogja, 30 nov 2012


 






Senin, 26 November 2012

urung shalat wes shalat, wes shalat urung shalat, ora susah shalat.

"urung shalat wes shalat, wes shalat urung shalat, ora susah shalat" melihat sekilas tulisan ini, seorang muslim/ah yang mengerti bahasa jawa mungkin akan mengerenyitkan dahinya, pasalnya ungkapan ini, seoalah-olah shalat yang merupakan tiang agama menjadi hal yang sudah tidak urgen lagi...
eeiiittsss..... tunggu dulu brow..!!
ungkapan "turung shalat wes shalat, wes shalat urung shalat, ora susah shalat" bila di analisis merupakan perumpamaan tingginya keimanan seseorang, lha kog bisa?
mari kita tinjau bersama....
1. kalimat "urung shalat wes shalat" adalah perumpaan untuk orang-orang yang telah berada pada puncak keimanannya. seorang yang telah berada di puncak keimananya, maka setiap langkah menjadi untaian do'a, setiap hembusan nafasnya menjadi keping-keping ibadah kepadaNYa, dan setiap gerakannya berorientasi kepada ibadah sebagai pengabdian seorang makhluk kepada penciptanya.
dengan kata lain, seorang yang telah berada di puncak keimananya maka sebelum ia melaksanakan shalatpun, ia telah shalat dalam setiap geraknya.
2. "wes shalat urung shalat" kalimat kedua ini kebalikan dari yang pertama, seorang yang meski telah mendirikan shalat tapi perilakunya tidak mencerminkan seorang yang "shalat" maka, dapat dikatang "urung shalat" belum shalat.
ungkpan ini mungkin cocok untuk menjawab pertanyaan kita semua tentang kerusakan moral orang-orang yang mengaku diri "shalat"
3. ora susah shalat. (fahami sendiri ya..  hehe)

ngono yo ngono ing ojo ngono

untuk kamu-kamu orwong jowo asli kata " ngono yo ngono ing ojo ngono" udah kedengeran biasa, biasanya ungkapan ini diucapkan untuk mengungkapkan bahwa segala sesuatu tidak sepatutnya berada di ambang batas kewajaran.
setiap orang memiliki hak untuk melakukan apapun yang dia inginkan, tapi yang harus diingat bahwa manusia memiliki batasan-batasan tertentu baik dalam bersikap, mengambil keputusan, mengutarakan pendapat dll.
bila secara bahasa ungkapan "ngono yo ngono nng ojo ngono" bisa diartikan dengan "begitu ya begitu tapi ya jangat begitu" sedikit memusingkan bukan? :D
yah, begitulah salah satu ekspresi dalam bahasa jawa, untuk memberi penakanan bahwa manusia memiliki batasan dalam segala hal termasuk batasan dalam berfikir.

Minggu, 25 November 2012

besok, atau entah kapan aku akan pergi
dan kau juga akan pergi...
itu pasti.
dan ku berharap kau pergi dan membeku di kutub sana.....
membeku untuk selamanya......
ku harap begitu.......

Kota seribu satu nyawa





1 x 24 jam ku berpijak di kota ini
Dapat ku katakan pada setiap nafas yang berhembus
Kepada senyum yang merekah
Pada butir-butir peluh yang mengalir syahdu
Bahwa kota ini..........
Ku sebut dengan kota seribu satu nyawa
Ketika semua mata  terpejam dalam mimpi indah mereka
Kota ini bahkan tak pernah menutup mata
Walau hanya sekejap
Bila ia tertidur nanti
Ia takut dalam tidurnya mimpi akan mengajaknya pergi jauh dari kenyataan ini
Ia takut tak terbangun kembali
Ia takut akan kehilangan citranya dalam gaung kesunyian
Ketika mentar masih dalam belutan sang mega
Kota ini telah bergegas menuju senja
Ketika senja bergerak berlahan tuk kembali ke singgasananya
Kota ini telah beranjak menjemput sang mentari
Tak banyak harapan dari setiap raut muka dari kota ini
Namun dari setiap langkah pastinya
Tersirat selaksa kerasnya hidup yang  ia jalani
m.e.t.r.o.p.o.l.i.t.a.n
mungkin kata yang telah melekat dijidat kota ini
sehingga setiap orang yang melihatnya
akan memicingkan mata sembari berlalu
u.n.d.e.r. c.o.v.e.r
mungkin sebutan baru baginya
bagi kota yang sudut-sudutnya tak pernah lalai dengan panasnya hidup
bagi kota yang terlihat megah dari sudut mata
terlalu banyak hal yang tersirat dari wajah tua kota ini
ribuan bahkan jutaan kata-kata akan terdengar sangat rumit untuk
menggambarkan setiap sisinya......

satu sebutan lagi untuk kau
yang tertulis dariku
“kota seribu satu nyawa
Kota yang tak pernah mati
Kota yang ak pernah terlelap”


Philo dien
13.48 PM
Orchid,bintaro, jakarta
26 january 2012
On holliday

Nak II




Anak-anakku
Masih ingatkah kau ketika kau berteriak dalam keluguanmu, kau dengan lantang berteriak “ ana tolibun jadidun
Masih ingatkah kau ketika wajah riangmu ketika mendapat “mufrodat” baru seiring datangnya sang mentari
Ingatkahkah kau ketika kau manja dengan berpura-pura sakit ketika “muhadloroh
Dan tahukah kau? Ku rindukan sosok kecil itu, ku rindukan tangisan dan rengekan manjamu
Nak...
Ku tau kau kerap jadikan perpustakaan sebagai tempatmu menyendiri dan menghindar dari hiruk pikuk asramamu
Kau kerap jadikan masjid hijau sebagai pelarian ketika rasa malas merundungmu
Kau kerap datangi matbach ketika kau tak bertenaga dan lapar mengganrungimu
Dan taukah kau? Ku rindukan kenakalan manjamu nak
Namun Nak....
Kini kau telah menjadi sosok yang sangat tangguh, kau tumbuh menjadi dewasa yang mengaggumkan
Kini kau telah dewasa nan cerdas
Kau telah pijakkan kakimu ditempat yang berbeda dengan tanah robbaby mu
Namun kau tetaplah kau yang pernah ku gembleng dengan penuh cintaku
Nak.... apapun kau yang dulu kau tetap anak yang senatiasa hadir dalam setiap bait do’aku.....

Kriteria mahasiswa sebagai agent of change di era global




                Hmmm...... mendengar kata mahasiswa orang-orang memiliki statement yang berbada-berbeda mulai dari hal-hal yang sifatnya positif sampai pada hal yang sikapnya negatif. Namun pada dasarnya mahasiswa memiliki tiga tugas pokok yang di emban oleh mahasiswa sebagai unsur kehidupan berbangsa, antara lain:
1.       Agent of knowladge ( terkait dengan peran mahasiswa sebagai akademisi)
2.       Agent of  change (terkait dengan peran mahasiswa membawa perubahan warna di    manapun dia berada)
3.       Agent of social control  (terkait dengan peran mahasiswa sebagai  penyalur aspirasi rakyat)
Namun pada kesempatan kali ini saya akan menyampaikan sedikit tentang tugas kedua yang di emban  oleh mahasiswa yaitu “agent of change” sebelu saya menyampaikan kriteria mahasiswa yang menjadi agent of change of cahange saya ingin memaparkan sedikit tentang apa sebenrnya yang menjadi pengertian dari agent of change itu sendiri.
                Kata “mahasiswa sebagai agent of change “ mungkin bukanlah kata yang asing lagi di telinga kita semu, dimana mahasiswa di sebut-sebut  sebagai agent perubahan sebutan ini melekat pada mahasiswa karena mahasiswa bisa memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap berubahan  bangsa. Sebagai contoh yang angat real adalah ketika mahasiswa mampu menggulirkan rezim suharto  ketika itu. ( dan saya rasa itu  adalah contoh yang sangat konkrit )
@@@
Namun beranjak dari sebutan agent of change pada kenyataannya mahasiswa sekarang sepertinya tidak semua dikatakan sebagai agen of change karena tidak semua mahasiswa memiliki kemampuan yang sama yaitu untuk mejadi agent of change. Lantas apa  yang saja kriteria mahasiswa yang dapat di kategorikan sebagai agent of change ? dalam pidato singkat ini saya  akan mencoba memeerikansedikit gambaran tentang kriteria mahasiswa agent of change
1.       Dasar keagamaan yang kuat
Landasan atau dasar agama yang kuat adalah salah satu ktiteria mahasiswa yang dapat menjadi agent of change karena akan membantu mahasiswa untuk tidak  terjebak terjangan ombak kapitalisme, serpihan kaca liberlaisme, hiruk pikuk sekularisme yang menjadi isu global pada saat ini.
Landasan keagamaan yang kuat menjadi bekal para mahasiswa yang hendak menjadi agent of change karena akan menjadi pelindung agar mahasiswa tidak menjadi mehasiswa yang cerdas dan “pintar” membodohi orang lain. Dan tidak terdampar dan tersungkur dalam keerosotan akhlak.
2.       Memilikiki kemampuan untuk membawa perubahan dimanapun ia berada
Tentunya dalam konteks hal-hal yang positif, hal ini sesuai dengan misi ang dibawa ummat islam dalam Al-qur’an bahwa sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya’ ( sebutin ayatnya!)
3.       Memilki kemampuan berfikir kritis dan wawasan yang luas
Di era global seperti ini seluruh elemen masyarakat da mahasiswa pada umumnya  dituntut untuk tidak hanya menjadi konsumtor tapi juga mapu menjadi konsumtor yang kritis/kritikus. Nah untuk menjdi mahasiswa yang kritis seeorang harus memiliki wawasan yang luas, agar tdak menjadi seorang yang hanya dapat berargumen ‘kosong” tanpa esensial. Setidaknya mahasiswa yang intelektual nantinya menjadi bagian penting dari erubahan peradaban yang “benar” ( kata benar  disini dimaksudkan untuk menjadi kelompok kritis yang  melawan benuk-bentuk otoritas). Sikap kritis dan  kepekaan mahasiswa sanat dibutuhkan untuk membangun kenegaraan dan kebangsaan yang ampuh dan kokoh.
###
                Peran yang disandang mahasiswa sebagai agent of change atau agen perubahan masih sangay  efektif dalam memposisikan peran strategisnya di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Melalui campur  tagan mahasiswalah  segala kebijakan yang berkenaan dengan masa depan bangsa dan kesejahteraan masyarakat akan teta terkontrol, hingga pada akhirnya memunculkan  gagasan balance of power yang terjadi antara pemerintah sebagai pemegang kebijakan  dengan rakyat sebagai pengontrol segala kebjakan.
                Oleh karena itu selagi kita masih menyandang mahasiswa mari kita pantaskan diri kita untuk menjadi mahasiswa yang panas untuk disebut agent of change dengan membekali diri kita kriteria-kriteria yang saya sebutkan sebelumnya. Sehingga sebutan agent of change tidak hanya tinggal sebutan belaka.