Senin, 26 November 2012

urung shalat wes shalat, wes shalat urung shalat, ora susah shalat.

"urung shalat wes shalat, wes shalat urung shalat, ora susah shalat" melihat sekilas tulisan ini, seorang muslim/ah yang mengerti bahasa jawa mungkin akan mengerenyitkan dahinya, pasalnya ungkapan ini, seoalah-olah shalat yang merupakan tiang agama menjadi hal yang sudah tidak urgen lagi...
eeiiittsss..... tunggu dulu brow..!!
ungkapan "turung shalat wes shalat, wes shalat urung shalat, ora susah shalat" bila di analisis merupakan perumpamaan tingginya keimanan seseorang, lha kog bisa?
mari kita tinjau bersama....
1. kalimat "urung shalat wes shalat" adalah perumpaan untuk orang-orang yang telah berada pada puncak keimanannya. seorang yang telah berada di puncak keimananya, maka setiap langkah menjadi untaian do'a, setiap hembusan nafasnya menjadi keping-keping ibadah kepadaNYa, dan setiap gerakannya berorientasi kepada ibadah sebagai pengabdian seorang makhluk kepada penciptanya.
dengan kata lain, seorang yang telah berada di puncak keimananya maka sebelum ia melaksanakan shalatpun, ia telah shalat dalam setiap geraknya.
2. "wes shalat urung shalat" kalimat kedua ini kebalikan dari yang pertama, seorang yang meski telah mendirikan shalat tapi perilakunya tidak mencerminkan seorang yang "shalat" maka, dapat dikatang "urung shalat" belum shalat.
ungkpan ini mungkin cocok untuk menjawab pertanyaan kita semua tentang kerusakan moral orang-orang yang mengaku diri "shalat"
3. ora susah shalat. (fahami sendiri ya..  hehe)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar