Minggu, 25 November 2012

PENDIDIKAN KARAKTER Hubungannya Dengan Inteligence Quetient (IQ), Emotional Quetient (EQ) Dan Spiritual Quetient (SQ)



Ketika kita mendengar kata koruptor di bayangan kita akan terbesit sosok orang-orang berdasi yang menduduki kursi-kursi di kantor pemerintahan. Bagi sebagian orang, berita tentang korupsi merupakan hal yang lumrah namun untuk sebagian orang lainnya adalah  masalah yang untuk dibicarakan dan dikaji lebih lanjut, mengingat para koruptor adalah orang-orang berpenddikan. Lantas di manakah peran pendidikan untuk membentuk manusia yang bermoral dan berkarakter?
Dalam tulisan singkat ini penulis tidak akan berbicara panjang lebar tentang korupsi ataupun koruptor namun penulis akan mengupas sedikit permasalahan daam dunia Pendidikan yang terkait di dalamnya beberapa elemen penting antara lain: metode pengajaran, bahan ajar, pesera didik dan pengajar. Namun ada satu istilah yang sudah tidak asing lagi di tengah-tengah kita yaitu pendidikan karakter”.  Menurut Ratna Megawangi (2004;95) “sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat memberikan kontribusi positif dalam kehidupan sehari-hari seperti menganmbil kesimpulan dan keputusan dengan bijak” adapun berkarakter menurut pusat bahasa Depdikna adalah berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak” dari pengeritan tersebut penulis dapat mengambil kesimpulan  bahwa pendidikan karakter adalah proses menanamkan nilai-nilai kebaikan pada peserta didik agar memliki keribadian nyang luhur yang di mana tauladan pendidik, orang tua dan lingkungan  sangat berperan dalam hal ini.
Selain pendidikan karakter kita sering mendengar istilah Dengan Inteligence Quetient (IQ) yang disebut-sebut sebagai  faktor terpenting dalam penetuan kesuksesan seseorang, namun dengan adanya perkembangan zaman terdapat keraguan di kalangan para peneliti tentang IQ sebagai landasan utama kesuksesan seseorang karena banyak di antara orang yang cerdas yang gagal bahkan mengalami  stress  dalam hidupnya. Menyikapi masalah ini Daniel Goleman memberikan wacana baru kecerdasan manusia yaitu Emotional Quetient (EQ) yang mencakup kemampuan seseorang untuk mengenal diri sendiri  ( siapa, untuk apa, dan kemana tujuan hidunya) , berintreaksi dengan orang lain,  motivasi, komitmen, dan masih banyak lagi hal-hal  yang berhubungan dengan emosional sesorang. Selain itu Goleman juga memeaparkan bahwa kecerdan intelektual hanya memiliki pengeruh sebanyak 20% kepada keberhasilan seseorang.
Setelah lahirnya pandangan tentang IQ dan EQ, pada tahun 2000 lahirlah satu wacana baru yang di sebut dengan   Spiritual Quetient (SQ) hal ini pertamakali di kemukakan oleh Denah Zohar dan Ian Marshall. Zohar dalam bukunya yang berjudul “SQ  ( kecerdasan Spiritual) “ menjelaskan bahwa SQ adalah kemampuan seseorang menyesuaikan diri antara aturan-aturan kehidupan yang kaku dengan cinta, sehingga akan dapat memposisikan dirinya di dalam tatanan masyarakat.
Banyak orang yang beranggapan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) sama denga kecerdasan beragama, namun pada hakikatnya kecerdasan spiritual berbeda dengan kecerdasan beragama karena pada hakikatnya kecerdasan beragama adalah kemempuan untuk memegang teguh prinsip agama yang terdiri dari dogma-dogma yang telah tertanam pada satu individu kemudian di atur dalam seperangkat tatanan ibadah Ruhiyah, sedangkan menurut Zohar kecerdasan spiritual adalah kemapuan untuk memecahkan persoalan makna dan nilai.
Bila digambarkan dalam satu diagram tiga kecerdasan diatas akan berbentuk seperti
             
manusia                    manusia
IEQ
Tuhan

Manusia
SQ

Bila disatukan akan menjadi seperti di bawah ini dan  disebut dengan IESQ







    Tuhan

     SQ                    SQ


                     Manusia (otak)                                                          manusai (otak)
        IEQ

Setelah memaparkan pengertian dapat disimpulkan bahwa pendidikan bahwa pendidikan sangat erat kaitannya dengan tiga elemen kecerdasan manusia (IQ,EQ, dan SQ), antara lain:

1.      Hubungan pendidikan karakter dengan IQ (Intelligence Quotient)
Pendidikan karakter akan memberikan stimulus yang sangat besar terhadap perkembangan anak didik dan akan menjadikan anak didik tidak hanya cerdas dan “pintar” untuk “ membodohi” orang lain melainkan juga “cerdas” yang terdidik, karena terdapat keseimbangan antara otak dan perilaku dalam kesehariannya.
2.      Hubungan pendidikan karakter dengan  Emotional Quetient (EQ)
Menutuy penulis pendidikan karakter sangat erat hubungannya dengan EA karena pada hakikatnya dasar-dasar  yang dimiliki oleh pendidikan karakter merupakan proses penanaman nilai-nilai luhur sedangkan EQ itu sendiri kemempuan seseorang untuk “menjinakkan” emisonya, sehingga akan tercipta peserta didik yang memiliki motivasi tnggi, bertanggung jwab, menghargai orang lain, dan dapat dijadikan pemimpin masa depan.
3.      Hubungan pendidikan karakter dengan Spiritual Quetient (SQ)
Melihat makna dari pendidikan karakter dan Spiritual Quetient (SQ) dapat diketahui bahwa peserta didik yan berkarakter akan dapat membentuk dirinya secara utuh menjadi satu kepribadian yang sempurna dengan dapat memposisikan diri pada ilmu yang telah didapatkan dan perilakunya dalam kesaharian selain itu juga dapat memaknai kehidupannya, sehingga peserta didik  yang dicetak adalah peserta didika yang berkarakter dan memikliki kualitas hidup yang tinggi.
            Mengintip wajah pendidikan di Indonesia dengan output yang seperti sekarang ini (korutor,penggunaan narkoba, pelecehan seksual, Tawuran) yang didominasi para terpelajar, tidak ada salahnya untuk membenahi beberapa bagian dalam bidang pendidikan, di sini penulis memberikan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk membenahi pendidikan kita khususnya pada proses penanaman pendidikan karakter dan juga nilai-nilai yang erat kaitannya denag IQ, EQ dan SQ, antara lain:
1.      Pembekalan nilai-nilai luhur kepada anak sejak usia dini di rumah, dalam hal ini peran  orang tua sebagai pendidik sangatlah besar, banyak hal yang dilakukan orang tua untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak seperti salalu membiasakan sholat berjama’ahm membacakan dongeng atau atau petuah-petuah yang berisi pesan moril, memperhatikan perkembangan anak( teman, bacaan dan lingkungan bergaulnya), selektif dalam menyuguhkan tontonan.
2.      Interkoneksi atau adanya keterkaitan antara kurikulum yang diterapkan di sekolah-sekolah ataupun perguruan tinggi  dengan hal-hal ynag erat kaitannya dengan penenaman nilai-nilai moral dan nilai-nilai agama sehingga anak didik tidak hanya pintar tapi juga memiliki karakter luhur
3.      Lingkungan merupakan faktor yang tidak dapat terlepas dari pananaman karakter oleh karena itu apabila anak dikondisikan lingkungannya denga hal-hal positif maka akan terbentuk ana yang berkarakter dan begitu juga sebaliknya.

Sebagai sosok figur kita di dalam kepribadiannya, karakter yang luhur serta keseimbangan kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) yaitu Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok intelek yang sangat unggul pada zamannya, bahkan sampai sekarang dan masa yang akan datang, beliau tdak pernah mengenyam bangku sekolah tapi tidak seorangpun yang meragukan kecerdasan dalam menghafalkan dan memaham Al-Qur’an, selain cerdas beliau adalah sosok pemimpin ummat, sistem pemerintahan yang terorganisir dengan baik menjadikannya sebagai penakluk kaum kafir Quraisy, kemampuan Beliau untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain sehingga Islam dapat tersiar ke penjuru dunia. Kemampuan Rasulullah SAW sebagai pemimpin sekaligus cendikia menggambarkan adanya keseimbangan antara IQ dan EQ yang semua itu tidak lepas dari (SQ) yang menjadi landasan hidup beliau, dengan adanya keseimbangan antara karakter yang kuat dan keseimbangan antara IQ, EQ dan SQ Rasulullah SAW menjadi manusia yang agung dan berpengaruh dalam peradaban dunia.
Kesimpulannya adalah pendidikan karakter sangat erat hubungannya dengan kecerdasan dasar manusia yaitu IQ, EQ dan SQ diharapkan akan menjadi solusi bobroknya output dari pendidikan masa kini, dan harapan penulis adalah perhatian setiap elemen dari masyarakat akan pentingnya pendidikan, baik itu dari segi kognitif ataupun sisi lainnya  karena  pendidikan  adalah tanggung jawab kita bersama untuk mewujudkan indonesia yang berkarakter, berbudaya dan memiliki daya saing di mata dunia.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar