Ketika kita mendengar kata koruptor di bayangan kita akan terbesit
sosok orang-orang berdasi yang menduduki kursi-kursi di kantor pemerintahan.
Bagi sebagian orang, berita tentang korupsi merupakan hal yang lumrah namun
untuk sebagian orang lainnya adalah
masalah yang untuk dibicarakan dan dikaji lebih lanjut, mengingat para
koruptor adalah orang-orang berpenddikan. Lantas di manakah peran pendidikan
untuk membentuk manusia yang bermoral dan berkarakter?
Dalam tulisan singkat ini penulis tidak akan berbicara panjang
lebar tentang korupsi ataupun koruptor namun penulis akan mengupas sedikit
permasalahan daam dunia Pendidikan yang terkait di dalamnya beberapa elemen
penting antara lain: metode pengajaran, bahan ajar, pesera didik dan pengajar.
Namun ada satu istilah yang sudah tidak asing lagi di tengah-tengah kita yaitu
pendidikan karakter”. Menurut Ratna
Megawangi (2004;95) “sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat
memberikan kontribusi positif dalam kehidupan sehari-hari seperti menganmbil
kesimpulan dan keputusan dengan bijak” adapun berkarakter menurut pusat bahasa
Depdikna adalah berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak” dari pengeritan
tersebut penulis dapat mengambil kesimpulan
bahwa pendidikan karakter adalah proses menanamkan nilai-nilai kebaikan
pada peserta didik agar memliki keribadian nyang luhur yang di mana tauladan
pendidik, orang tua dan lingkungan
sangat berperan dalam hal ini.
Selain pendidikan karakter kita sering mendengar istilah Dengan Inteligence
Quetient (IQ) yang disebut-sebut sebagai
faktor terpenting dalam penetuan kesuksesan seseorang, namun dengan
adanya perkembangan zaman terdapat keraguan di kalangan para peneliti tentang
IQ sebagai landasan utama kesuksesan seseorang karena banyak di antara orang
yang cerdas yang gagal bahkan mengalami
stress dalam hidupnya. Menyikapi
masalah ini Daniel Goleman memberikan wacana baru kecerdasan manusia yaitu Emotional
Quetient (EQ) yang mencakup kemampuan seseorang untuk mengenal diri
sendiri ( siapa, untuk apa, dan kemana
tujuan hidunya) , berintreaksi dengan orang lain, motivasi, komitmen, dan masih banyak lagi
hal-hal yang berhubungan dengan
emosional sesorang. Selain itu Goleman juga memeaparkan bahwa kecerdan
intelektual hanya memiliki pengeruh sebanyak 20% kepada keberhasilan seseorang.
Setelah lahirnya pandangan tentang IQ dan EQ, pada tahun 2000
lahirlah satu wacana baru yang di sebut dengan Spiritual Quetient (SQ) hal ini
pertamakali di kemukakan oleh Denah Zohar dan Ian Marshall. Zohar dalam bukunya
yang berjudul “SQ ( kecerdasan
Spiritual) “ menjelaskan bahwa SQ adalah kemampuan seseorang menyesuaikan diri
antara aturan-aturan kehidupan yang kaku dengan cinta, sehingga akan dapat
memposisikan dirinya di dalam tatanan masyarakat.
Banyak orang yang beranggapan bahwa kecerdasan spiritual (SQ) sama
denga kecerdasan beragama, namun pada hakikatnya kecerdasan spiritual berbeda
dengan kecerdasan beragama karena pada hakikatnya kecerdasan beragama adalah
kemempuan untuk memegang teguh prinsip agama yang terdiri dari dogma-dogma yang
telah tertanam pada satu individu kemudian di atur dalam seperangkat tatanan
ibadah Ruhiyah, sedangkan menurut Zohar kecerdasan spiritual adalah kemapuan
untuk memecahkan persoalan makna dan nilai.
Bila digambarkan dalam satu diagram tiga kecerdasan diatas akan
berbentuk seperti
|
manusia
manusia
IEQ
|
Tuhan
Manusia
SQ
|
Bila
disatukan akan menjadi seperti di bawah ini dan disebut dengan IESQ
|
|
SQ SQ
Manusia
(otak)
manusai (otak)
IEQ
Setelah memaparkan pengertian dapat disimpulkan bahwa pendidikan
bahwa pendidikan sangat erat kaitannya dengan tiga elemen kecerdasan manusia
(IQ,EQ, dan SQ), antara lain:
1.
Hubungan
pendidikan karakter dengan IQ (Intelligence
Quotient)
Pendidikan
karakter akan memberikan stimulus yang sangat besar terhadap perkembangan anak
didik dan akan menjadikan anak didik tidak hanya cerdas dan “pintar” untuk “
membodohi” orang lain melainkan juga “cerdas” yang terdidik, karena terdapat
keseimbangan antara otak dan perilaku dalam kesehariannya.
2. Hubungan pendidikan karakter dengan Emotional Quetient (EQ)
Menutuy penulis pendidikan karakter sangat erat hubungannya dengan
EA karena pada hakikatnya dasar-dasar
yang dimiliki oleh pendidikan karakter merupakan proses penanaman nilai-nilai
luhur sedangkan EQ itu sendiri kemempuan seseorang untuk “menjinakkan”
emisonya, sehingga akan tercipta peserta didik yang memiliki motivasi tnggi,
bertanggung jwab, menghargai orang lain, dan dapat dijadikan pemimpin masa
depan.
3.
Hubungan
pendidikan karakter dengan Spiritual Quetient (SQ)
Melihat makna
dari pendidikan karakter dan Spiritual Quetient (SQ) dapat diketahui
bahwa peserta didik yan berkarakter akan dapat membentuk dirinya secara utuh
menjadi satu kepribadian yang sempurna dengan dapat memposisikan diri pada ilmu
yang telah didapatkan dan perilakunya dalam kesaharian selain itu juga dapat
memaknai kehidupannya, sehingga peserta didik
yang dicetak adalah peserta didika yang berkarakter dan memikliki
kualitas hidup yang tinggi.
Mengintip
wajah pendidikan di Indonesia dengan output yang seperti sekarang ini
(korutor,penggunaan narkoba, pelecehan seksual, Tawuran) yang didominasi para
terpelajar, tidak ada salahnya untuk membenahi beberapa bagian dalam bidang
pendidikan, di sini penulis memberikan langkah-langkah yang dapat ditempuh
untuk membenahi pendidikan kita khususnya pada proses penanaman pendidikan
karakter dan juga nilai-nilai yang erat kaitannya denag IQ, EQ dan SQ, antara
lain:
1. Pembekalan nilai-nilai luhur kepada anak sejak usia
dini di rumah, dalam hal ini peran orang
tua sebagai pendidik sangatlah besar, banyak hal yang dilakukan orang tua untuk
menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak seperti salalu membiasakan sholat
berjama’ahm membacakan dongeng atau atau petuah-petuah yang berisi pesan moril,
memperhatikan perkembangan anak( teman, bacaan dan lingkungan bergaulnya),
selektif dalam menyuguhkan tontonan.
2. Interkoneksi atau adanya keterkaitan antara kurikulum
yang diterapkan di sekolah-sekolah ataupun perguruan tinggi dengan hal-hal ynag erat kaitannya dengan
penenaman nilai-nilai moral dan nilai-nilai agama sehingga anak didik tidak hanya
pintar tapi juga memiliki karakter luhur
3. Lingkungan merupakan faktor yang tidak dapat terlepas
dari pananaman karakter oleh karena itu apabila anak dikondisikan lingkungannya
denga hal-hal positif maka akan terbentuk ana yang berkarakter dan begitu juga
sebaliknya.
Sebagai sosok
figur kita di dalam kepribadiannya, karakter yang luhur serta keseimbangan
kecerdasan (IQ, EQ dan SQ) yaitu Rasulullah SAW. Beliau adalah sosok intelek
yang sangat unggul pada zamannya, bahkan sampai sekarang dan masa yang akan
datang, beliau tdak pernah mengenyam bangku sekolah tapi tidak seorangpun yang
meragukan kecerdasan dalam menghafalkan dan memaham Al-Qur’an, selain cerdas
beliau adalah sosok pemimpin ummat, sistem pemerintahan yang terorganisir
dengan baik menjadikannya sebagai penakluk kaum kafir Quraisy, kemampuan Beliau
untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain sehingga Islam dapat tersiar ke
penjuru dunia. Kemampuan Rasulullah SAW sebagai pemimpin sekaligus cendikia
menggambarkan adanya keseimbangan antara IQ dan EQ yang semua itu tidak lepas
dari (SQ) yang menjadi landasan hidup beliau, dengan adanya keseimbangan antara
karakter yang kuat dan keseimbangan antara IQ, EQ dan SQ Rasulullah SAW menjadi
manusia yang agung dan berpengaruh dalam peradaban dunia.
Kesimpulannya
adalah pendidikan karakter sangat erat hubungannya dengan kecerdasan dasar
manusia yaitu IQ, EQ dan SQ diharapkan akan menjadi solusi bobroknya output
dari pendidikan masa kini, dan harapan penulis adalah perhatian setiap elemen
dari masyarakat akan pentingnya pendidikan, baik itu dari segi kognitif ataupun
sisi lainnya karena pendidikan adalah tanggung jawab kita bersama untuk
mewujudkan indonesia yang berkarakter, berbudaya dan memiliki daya saing di
mata dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar